
Dua bulan kemudian pernikahan Bima dan Maya benar-benar terjadi. Keduanya menyiapkan semuanya nyaris sempurna. Namun lebih tepatnya bukan keduanya. Alex adalah salah satu orang yang menyiapkan semuanya hampir dari kata sempurna. Ia memang tak ingin terburu-buru akan pernikahan antara Bima dan Maya. Ia akan menciptakan pernikahan Bima dan Maya jauh melebihi kata sempurna. Mengingat pernikahannya dulu ia bahkan tak mempunyai persiapan apapun.
Setelah mengucapkan ijab qobul, semua saksi menyatakan sah atas pernikahan antara dua orang yang berprofesi sebagai sekertaris sekaligus asisten pribadi keluarga Wijaya tersebut.
"Haa... Aku tidak percaya telah menikahkan salah satu adik perempuan ku," kata Alex seraya menghela nafas berat. Kini dirinya tengah duduk di meja tamu paling depan, bersama sang istri, Farel dan juga Alika. Sedangkan keluarga lainnya tengah duduk di meja lain. Melihat bagaimana Maya dengan wajah bahagia berdiri di atas pelaminan bersama Bima tentunya.
"Menurutku kau bukan hanya sekedar kakak," kata Desi yang kini pandangan Alex mengarah padanya. Ia duduk di kursi sebelah suaminya. Menggendong baby Alessia di dalam dekapannya. "Kau sudah seperti ayah baginya. Aku sangat bangga padamu," tambahnya yang membuat Alex semakin memperhatikannya. Memegang tangan suaminya yang ada di atas meja. "Itu sebabnya aku semakin mencintaimu. I love you."
"I love you too." Kata Alex seraya mencium tangan istrinya. Ia kembali melihat Maya dan Bima yang sedang berdiri di atas pelaminan. Matanya seketika berkaca-kaca mengingat kembali perkataan sang istri barusan padanya. Ia tak menyangka jika dirinyalah yang
menjadi wali sekaligus saksi dalam acara penting Maya. Mengingat Maya hanyalah wanita sebatang kara yang ia selamatkan dari kejadian beberapa tahun yang lalu.
Sedangkan Maya dan Bima kini tengah duduk di kursi yang telah di sediakan oleh pihak EO. Setelah menyalami banyaknya para tamu undangan kini mereka berdua di hibur oleh penampilan penyanyi papan atas Indonesia. Alex memang tidak main-main merancang acara pernikahan sekertarisnya. Bahkan ia turun tangan langsung dalam beberapa hal yang dikiranya membutuhkan kehadirannya.
"Kau terlihat sangat cantik dengan gaun yang di rancang khusus oleh nona Alika," kata Bima yang berbisik di telinga sang istri yang baru beberapa saat yang lalu telah sah menjadi istrinya.
"Apa kau bilang?" Sudah melemparkan tatapan tajam pada Bima yang duduk di sampingnya.
Bima yang tau pasti akan reaksi yang Maya berikan padanya membuat nyalinya menciut seketika. "Memangnya ada yang salah dengan perkataan ku?" Tanyanya memastikan. Meski terbilang cukup muda dalam hubungan mereka namun Bima seakan tau akan sifat Maya saat sedang marah ataupun sedang bahagia.
"Jelas saja kau salah besar," jawabnya yang masih melirik Bima dengan tatapan tajamnya.
"Coba jelaskan dimana kesalahan ku?"
"Kau bilang aku cantik dengan gaun yang di rancang khusus oleh nona Alika kan?" Pertanyaan yang sama Maya lontarkan dan di jawab anggukan kepala oleh Bima. "Jadi menurutmu selama ini aku tidak terlihat cantik tanpa busana dari nona Alika?"
"Bu-bukan seperti itu..." Menggoyangkan kedua tangannya tanda tak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Maya. "Maksudku..."
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara Alex berhasil mengejutkan keduanya yang masih duduk di atas pelaminan. Keduanya spontan berdiri saat kedatangan laki-laki yang mereka hormati tengah berada di atas pelaminan.
__ADS_1
"Pak..."
"Tuan muda..."
Maya dan Bima bersamaan membungkukkan badan di hadapan Alex.
"Ada apa dengan kalian? Aku lihat kalian sedang bersitegang dari tadi. Memangnya ada apa?" Mencoba menasehati pasangan suami istri itu tanpa mengeluarkan suara yang keras. Ia tak ingin ada keributan di acara yang sudah ia susun sebaik mungkin seperti ini.
"Dia..." Bima dan Maya sudah saling menunjuk satu sama lain.
"Haa... Sudahlah," tak ingin mendengarkan pembelaan dari kedua orang yang sepertinya tak akan menemukan titik terang. "Aku tak ingin acara ini berantakan. Aku sudah merancangnya sebaik mungkin. Jadi ingat jangan kacau kan acara pernikahan kalian. Mengerti!" Mengangkat satu jarinya. Mencoba mengancam sepasang suami istri tersebut agar tak melakukan hal bodoh di atas pelaminan. "Jika kalian punya masalah, selesaikan di kamar jangan disini. Kalian mengerti!"
"Baik Pak..."
"Baik Tuan muda..."
Keduanya kembali membungkukkan badan bersamaan.
Maya dan Bima hanya bisa saling menatap satu sama lain saat peringatan Alex tak main-main.
Alex berjalan menuruni pelaminan dan kembali duduk di meja yang tadi ia duduki bersama sang istri.
"Kenapa dengan mereka?" Tanya Desi yang penasaran akan kejadian di atas pelaminan tadi.
"Aku juga tidak tau. Aku hanya menyuruh mereka agar tak melakukan hal bodoh yang akan menghancurkan pesta ini," jawab Alex seraya menghela nafas berat. Ia memang sangat lelah akan pesta pernikahan Maya. Dan sepertinya ia harus bolos kerja untuk besok agar dirinya bisa beristirahat dengan tenang di rumah.
*
"Menurutmu Tuan muda Alex saat ini sedang marah pada kita?" Tanyanya seraya berbisik di telinga Maya ketika ia melihat orang yang ia hormati sedang menyandarkan punggungnya di kursi sambil menutup matanya.
"Iya. Aku juga berpikir demikian." Jawabnya yang juga berbisik di telinga Bima. Masih memperhatikan sikap atasannya yang sepertinya sedang kesal padanya. "Kau tau. Pak Alex telah menyiapkan acara ini agar berjalan dengan baik. Sudah pasti dia marah jika kita berseteru di atas pelaminan."
__ADS_1
Bima menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda mengerti apa yang dikatakan oleh istrinya. "Sebaiknya kita jalankan saja apa yang tuan muda Alex katakan pada kita barusan."
"Apa maksudmu?" Tanya Maya seraya mengerutkan keningnya. Kini pandangannya sudah tertuju pada sang suami yang memang terlihat lebih tampan dari biasanya.
"Bukankah tuan muda Alex bilang jika kita harus menyelesaikan di kamar nanti?" Kata Bima seraya mengedipkan sebelah matanya. Mencoba menggoda Maya dengan apa yang ia maksud dengan kedipan mata tersebut.
"Kau..." Sudah memukul lengan Bima pelan. Ia bahkan tak bisa menahan senyumannya saat Bima dengan tak tau malunya membahas masalah perihal kamar saat mereka masih berada di atas pelaminan.
"Tapi sepertinya aku akan minta lebih padamu nanti," kata Bima lagi saat ia kembali membisikkan sesuatu pada Maya.
"Apa maksudmu?" Maya kembali mengerutkan keningnya. Lagi-lagi ia tak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Bima.
"Aku ingin malam ini semua masalah kita selesai tak hanya di kamar. Tapi di atas ranjang."
Kini bukan pukulan pelan lagi yang diberikan Maya pada Bima namun pukulan keras sudah melayang di paha sang suami. Ia kembali tak menyangka jika Bima akan membahas hal yang menurutnya sangat menggelitik di hatinya. "Kau bahkan dengan tak tau malunya membahas masalah itu disini. Padahal kita masih di atas pelaminan."
"Memangnya kenapa? Aku hanya menurut pada perintah tuan muda Alex. Bukankah dia sudah bilang kalau kita harus menyelesaikannya di dalam kamar saja?" Kembali menggoda sang istri.
"Kau..." Sudah terlibat adegan saling canda di atas pelaminan.
*
"Aku penasaran apa yang kau katakan pada mereka berdua hingga mereka bisa langsung akur seperti itu?" Tanya Farel yang memperhatikan sepasang pengantin baru yang terlibat adegan saling bisik itu. Terkadang mereka juga terlibat adegan saling pukul sambil tersenyum.
"Aku hanya menyuruh mereka menyelesaikan masalahnya di dalam kamar, itu saja."
Jawaban Alex membuat semua orang yang satu meja dengannya memberikan tatapan terkejutnya atas apa yang Alex katakan.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Bukankah aku melakukan hal yang benar?" Tanyanya yang hanya dijawab gelengan kepala pelan oleh semua orang yang duduk satu meja dengannya.
Bersambung
__ADS_1