Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Berusaha Menjadi Baik


__ADS_3

"Apa ini salah satu dari tiga permintaanmu?" tanya Desi yang duduk di sebelah kursi kemudi.


"Apa?" tanya Alex bingung.


"Mengantar dan menjemputku bekerja. Apa ini salah satu permintaan mu?" Tanya Desi sekali lagi.


Alex tersenyum miring. "Bukan. Ini adalah salah satu tugasku," jawab Alex yang masih memperhatikan padatnya jalanan Ibukota.


"Tugas apa?" Tanya Desi lagi. Ia heran dengan pernyataan yang Alex berikan.


"Tugas sebagai seorang suami yang baik," jawab Alex lagi seraya menerbitkan senyumannya.


Desi menghembuskan nafas berat. Ia sandarkan kepalanya di bantalan jok mobil. "Lalu kapan kau akan menuliskan tiga permintaanmu di surat perjanjian kita?" Tanya Desi yang memang sudah tidak sabar akan tiga permintaan Alex. Karena jika ia sudah memenuhi permintaan Alex maka ia bisa bernafas lega. Ia tak akan lagi kepikiran masalah permintaan aneh yang Alex berikan.


"Aku masih memikirkannya. Kau tidak perlu terburu-buru," kata Alex diselingi tawanya.


Desi hanya bisa menghela nafas pasrah saat ia ditertawakan oleh Alex.


***


Malam harinya saat waktu makan malam telah tiba. Alex dan Desi turun dari tangga. Mereka saling menautkan jemari tangan. Berharap dengan begitu akting yang mereka ciptakan dapat dilihat oleh keluarga Alex sebagai pasangan yang bahagia.


Desi melihat ibu mertua dan adik iparnya yang sudah duduk di meja makan. Jika tadi pagi ia memasak sarapannya sendiri untuk menghindari Alex, namun tidak dengan malam ini. Ia terlalu lelah dengan pikirannya sendiri saat Alex akan mengantar dan menjemputnya setiap hari selama ia bekerja.


Alex menarik kursi agar Desi bisa duduk disana. Setelah itu ia juga duduk di sebelah Desi di kursi utama.


Seperti biasa seorang kepala asisten rumah tangga wanita paruh baya tengah menyiapkan apa saja yang kurang di meja makan. Setelah memastikan semuanya lengkap. Sang asisten rumah tangga yang bernama Bu Dina itu kini berdiri di belakang kursi Alex.


Marisa yang duduk di sebelah kanan Alex kini tengah mengambilkan makanan untuk putranya kemudian ia mengambilkan makanan juga pada piring menantunya.

__ADS_1


"Jangan..." Kata Alex mencegah tangan ibunya yang sudah mengambilkan lauk berupa ikan pada piring Desi.


"Kenapa?" Tanya Marisa mengernyit heran. Tangannya masih menggantung di udara saat Alex mencegahnya. Namun bukan hanya Marisa yang heran. Semua orang yang berada di meja makan termasuk Sandra dan para pelayan rumah Alex juga heran akan sikap Alex yang mencegah ibunya.


"Desi vegetarian. Dia tidak memakan segala jenis ikan ataupun hewan," jelas Alex seraya melepaskan tangan sang ibu.


"Oh... Jadi kamu vegetarian?" Tanya Marisa yang kini pandangannya mengarah pada menantunya.


"Iya Ma..." Jawab Desi pelan.


"Bu Dina mulai besok cari menu makanan vegetarian untuk Desi," perintah Marisa pada kepala pelayan dirumahnya.


"Baik nyonya..." Kata Bu Dina seraya membungkukkan badan.


"Ternyata selera kakak ipar dan kak Alex beda jauh ya?" Kata Sandra yang ikut berbicara mengenai masalah makanan.


"Maksud kamu?" Tanya Desi yang tak mengerti akan perkataan Sandra.


"Benarkah?" Tanya Desi heran. Kini pandangannya tertuju pada Alex. Namun pria yang kini ia tatap malah tak memberikan respon apapun.


"Kakak ipar tidak tau?" Tanya Sandra yang memancing tau tidaknya Desi apa yang di suka dan tidak di suka oleh Alex. Namun Desi hanya diam saja tak menjawab pertanyaan dari Sandra. "Aku jadi penasaran, sebenarnya apa yang kakak ipar tau dari kak Alex? Masalah makanan kesukaan kak Alex saja kakak ipar tidak tau. Apalagi..."


"Cukup!" Kata Alex memotong perkataan Sandra. Satu kata yang keluar dari mulutnya berhasil membuat semua orang diam seketika. Ia tak mau nanti Sandra makin menambah pembicaraan yang ujung-ujungnya akan menyudutkan Desi. Ia tau betul jika Sandra tak begitu menyukai Desi. Ia juga tau betul bagaimana Sandra akan berusaha menyingkirkan Desi dengan berbagai macam segala cara. "Ini waktunya makan malam. Jangan ada yang bicara lagi," kata Alex yang membuat semua orang terdiam. Dan pada akhirnya makan malam kali ini di jalani dengan kediaman. Tak ada suara sedikitpun dari mulut keluarga Alex apalagi Sandra saat Alex sudah mengeluarkan petuahnya.


***


Selesai makan malam Alex meminta Desi untuk masuk ke kamar. Karena dirinya masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Namun Alex sudah meminta pada Desi jika Desi memerlukan sesuatu maka Desi bisa menemui Alex di tempat kerjanya yang ada di lantai satu.


Alex langsung memasuki ruang kerjanya saat ia tak bisa lama-lama berbicara dengan Desi. Sedangkan Desi hanya menuruti apa yang Alex perintahkan. Ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Baru saja ia memegang gagang pintu kamarnya namun tepukan tangan Sandra di pundaknya berhasil membuatnya kaget. "Ada apa?" Tanya Desi yang sudah berbalik ke arah Sandra.

__ADS_1


"Kakak ipar, aku minta maaf soal tadi waktu di meja makan. Aku benar-benar tidak tau kalau..."


"Sudahlah..." Ucap Desi seraya memegang pundak adik iparnya. Ia memang tak berniat ribut dengan Sandra. Sudah cukup ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tegasnya sikap Alex yang membungkam mulut adiknya sendiri saat Sandra berusaha memojokkannya. Ia akan menahan segala kebencian sikap Sandra padanya. Toh ia hanya harus bersabar selama satu tahun. Lagipula ia juga sangat jarang bertemu Sandra di rumah. Seperti tadi pagi, Desi sudah tidak melihat Sandra di rumah saat sarapan. Mertuanya bilang kalau Sandra berangkat ke kampus pagi-pagi sekali karena ada yang harus ia kerjakan.


"Terimakasih kakak ipar," kata Sandra sambil memegang tangan Desi yang tadi ada di pundaknya. "Kakak ipar, kau mau jalan-jalan ke taman belakang? Kita bisa mengenal satu sama lain. Lagipula kak Alex juga sepertinya sedang sibuk," ajak Sandra.


"Ehm aku..."


"Sudahlah ayo. Kita masih dirumah kan? Kita tidak kemana-mana kok..." Kata Sandra lagi seraya menarik tangan Desi supaya mengikuti langkahnya.


*


Setelah di taman belakang, keduanya duduk di ayunan yang bisa memuat dua orang.


"Jadi kakak ipar vegetarian?"


"Hem..." Jawab Desi seraya menganggukkan kepalanya. "Awalnya aku alergi terhadap segala jenis ikan dan hewan. Dan dari saat itu Mami selalu menyiapkan makanan berupa sayur-sayuran padaku. Dari situ teman-temanku bilang kalau aku vegetarian. Sebenarnya beda jauh ya vegetarian dan alergi terhadap makanan," ujar Desi sambil tersenyum.


"Oh... Jadi begitu rupanya?"


"Iya, jadi kakak tidak pernah menyentuh apapun yang berbau ikan, unggas, ataupun hewan. Kakak takut."


Kakak ipar alergi?


Wah... Bukankah ini berita yang sangat menggembirakan?


Kini aku tau kelemahan kakak ipar.


Bukankah aku sangat cerdas? Aku bisa memanfaatkan sifat baikku ini untuk menendang kakak ipar dari rumah ini.

__ADS_1


Batin Sandra dengan senyum kecutnya. Sikap baiknya hanya semata-mata karena ia ingin mengetahui apa saja yang tidak di sukai oleh Desi.


Bersambung


__ADS_2