
Saat ini Maya dan Bima berada dalam mobil yang sama. Ancaman dan peringatan yang dilayangkan oleh Maya benar-benar membuat Bima tak bisa berkutik. Jika di pikir lebih dalam, Bima memang berhutang ucapan terimakasih pada saudara sepupu dari atasannya. Beberapa kali Alex telah menyelamatkan ayahnya. Dan kini balasan atas kebaikan Alex tengah di butuhkan Maya untuk membantu atasannya.
Bima yang saat ini tengah mengemudi, sesekali matanya melihat kaca spion tengah yang menampakkan koper besar milik Maya. "Kau mau pergi?" Tanya Bima yang membuka suara saat mereka terdiam cukup lama.
"Apa?" Maya bahkan tak mengerti akan apa yang Bima tanyakan.
"Koper yang kau bawa di bangku belakang," kata Bima dengan isyarat matanya yang melirik koper besar milik Maya di bangku belakang. "Apa kau akan pergi?"
"Bukan mau pergi tapi aku baru saja sampai," jawab Maya yang kini pandangannya lurus ke depan. Sebenarnya ia lelah karena perjalanan yang memakan waktu lama. Namun ia harus mengesampingkan rasa lelahnya saat atasannya sangat membutuhkan bantuannya.
Bima sedikit terkejut dengan penuturan dari Maya. Pasalnya jarak rumah atasannya dan cafe tadi benar-benar memakan waktu yang cukup lama. Namun karena keahlian menyetir Bima, akhirnya Bima bisa sampai di cafe tersebut dengan waktu empat puluh lima menit. "Jadi kau ingin bertemu denganku di cafe tadi karena jangkauanmu lebih dekat dari pada aku. Benar begitu?" Sudah mendelik tajam ke arah Maya.
"Iya," jawab Maya santai. Ia bahkan tak merasa bersalah ketika ia menjawab dengan satu kata. Padahal laki-laki yang kini tengah menyetir sedang menahan geram atas perlakuannya.
"Kau..."
"Kenapa? Kau marah?" Sudah membalas tatapan tajam dari Bima. Ia sudah lelah. Ia tak mau membahas perihal masalahnya karena telah menyuruh Bima datang ke cafe tadi.
Sedangkan Bima hanya bisa menghela nafas pasrah saat ia harus berurusan dengan Maya. Semua yang ia lakukan hanyalah untuk membalas budi sepupu atasannya. Tak lebih dari itu.
Beberapa saat kemudian keduanya terdiam cukup lama.
"Kau sudah lama menjadi sekertaris Pak Alex?" Penasaran tetaplah penasaran. Bima bahkan tak bisa menahan rasa ingin tahunya pada Maya. Ketika ia dihujani berbagai kebenaran akan di masa lalunya yang dikatakan oleh Maya membuatnya teramat sangat penasaran akan wanita yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Sedangkan Maya masih menatap lurus ke depan. Seperti tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan dari Bima. Selama ia tinggal di Indonesia, tak ada seorang pun yang bertanya akan pekerjaannya. Bahkan Adi dan Rafi sekalipun sebagai orang kepercayaan atasannya. Namun jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya Maya benar-benar tak menyukai saat Bima mempertanyakannya.
Lagi-lagi Bima hanya bisa menghela nafas berat. Pertanyaannya bahkan tak dijawab gelengan atau anggukan kepala oleh Maya. "Kalau kau..."
"Aku sudah enam tahun bekerja sebagai sekertaris Pak Alex," jawab Maya cepat tanpa mengalihkan pandangannya dari depan membuat Bima sesaat terdiam mendapat jawaban dari Maya.
"Kau..."
"Semua berawal di malam itu. Malam di tepi pantai..."
Flashback on
Maya sedang menangis di tepi pantai sambil memegangi perutnya yang sudah membuncit lantaran ia hamil. Namun hamilnya bukanlah dengan suami tercinta. Ia bahkan belum menikah saat ini. Malam ini ia merenungi nasibnya yang teramat sedih. Saat ini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke delapan. Itu artinya bulan depan ia sudah melahirkan bayi dalam kandungannya. Namun percayalah, ia bahkan tak memiliki keinginan untuk melahirkan bayi ini.
Dengan dikelilingi oleh lima orang pria membuat Maya ketakutan. Sesaat ia berteriak minta tolong, namun tamparan keras dari salah satu pria mendarat di pipi kanannya. Dan dengan brutal lima pria tersebut memperkosa Maya secara bergantian. Lima pria tersebut benar-benar merenggut paksa kehormatan milik Maya.
Sebulan berlalu. Maya yang memang tak memiliki siapa-siapa di dunia ini membuatnya harus resign dari kantornya karena hasil dari pemeriksaan dokter bahwa dirinya tengah hamil. Percobaan menggugurkan kandungan sudah ia coba beberapa kali seperti meminum obat penggugur kandungan, namun sepertinya cara itu tak berhasil sama sekali. Bayi yang ia kandung masih melekat di rahimnya.
Beberapa bulan berlalu dengan tangis dan kesedihan akan nasibnya yang begitu buruk. Tak punya keluarga, teman, pekerjaan dan orang yang melindunginya. Dan yang lebih parah, cibiran dari mulut tetangga membuatnya tak mempunyai keberanian lebih untuk melawannya.
Sampai di suatu saat, ia tak tahan akan kehidupannya seperti ini. Malam hari di tepi pantai. Ia menangis sejadi-jadinya. Mengandung bayi tanpa seorang ayah membuatnya merasa terpukul akan nasib kehidupannya. Ia ingin mengakhiri hidupnya. Dengan memegangi perutnya yang sudah membesar perlahan ia berjalan ke arah pantai. Ia ingin menenggelamkan dirinya di pantai tersebut. Dengan begitu ia tak akan mendapatkan lagi cibiran dari orang-orang yang sering membullynya akan kehamilan dari hasil pemerkosaannya. Sampai ia tak bisa bernafas di tengah pantai, dan disaat itu pula ada seseorang yang menarik tangannya untuk mengikutinya ke dasar pantai. Ya benar, orang itu adalah Alex. Ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Alex. Maya marah, marah karena Alex berhasil menyelamatkannya. Memukul keras dada Alex beberapa kali agar tak mencampuri urusannya. Meronta-ronta agar Alex pergi meninggalkan dirinya. Namun pelukan Alex membuat Maya diam tak berkutik. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya. Ia tak pernah merasa ada orang yang melindunginya seperti ini.
Alex membawa Maya ke rumah. Bertemu dengan ibu dan adik perempuannya. Dengan kasih sayang keluarga Alex, akhirnya Maya mengatakan yang sebenarnya. Kejadian beberapa bulan lalu benar-benar membuatnya terpukul setengah mati. Pikiran untuk mengakhiri hidupnya kini ia buang jauh-jauh ketika ia mendapatkan orang-orang yang sangat menyayanginya.
__ADS_1
Di suatu hari, ketika ia dan Alex berjalan di parkiran sebuah mall terbesar di Amerika. Setelah ia berbelanja kebutuhannya dan bayinya, tiba-tiba saja langkah Maya terhenti saat ia secara tak sengaja melihat beberapa orang yang beberapa bulan yang lalu telah merenggut keperawanannya. Ia trauma, bahkan di bilang sangat trauma dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Ia mundur beberapa langkah ketika ia bersitatap dengan lima pria itu.
Sedangkan Alex yang melihat akan kondisi Maya saat ini sudah bisa ia pastikan kalau pertemuan Maya dan lima pria di depannya karena ada sesuatu hal. "Apakah mereka?" Pertanyaannya yang menggantung di jawab anggukan kepala oleh Maya. Dan tanpa berpikir panjang Alex yang seorang diri melangkah maju dan langsung melayangkan pukulan pada lima orang di depannya. Meski kalah jumlah dari para preman tersebut, tak menjadikan Alex kalah juga dalam perkelahian itu. Semua preman tersebut bisa ia tumbangkan dengan keahlian bela dirinya. Dan kini perhatiannya teralihkan saat Maya menjerit kesakitan dan sedang memegangi perutnya. Cairan darah kental keluar di antara kedua kaki Maya. Dengan sigap Alex langsung menggendong Maya, dan dengan bantuan orang sekitar parkiran membawa Maya ke rumah sakit terdekat.
Mungkin Alex bisa bernafas lega saat nyawa Maya bisa tertolong namun sayang bayi dalam kandungan Maya tak dapat terselamatkan. Pendarahan yang di alami Maya sangatlah hebat dan membuat bayinya meninggal dalam kandungan. Sedih. Mungkin hal itu yang dirasakan Maya saat ini. Kehilangan sang bayi meski bukan hasil buah hati yang ia inginkan, kini menjadikannya seorang ibu yang sangat bersalah di dunia ini. Keluarga Alex sudah mengajarkan pada dirinya bahwa kekuatan keluarga melebihi kekuatan manapun. Dan sampai pada akhirnya ia tau kalau keluarga Alex sangat menyayangi Sandra padahal Sandra bukanlah saudara kandung dari Alex.
Sebagai seorang wanita yang tak memiliki siapapun di dunia ini, menjadikan Maya sebagai wanita tangguh setelah perjumpaannya dengan Alex. Rasa terimakasih selalu ia ucapkan ketika ia tak bisa membalas budi dari Alex. Dan sampai akhirnya Alex menjadikannya sebagai sekertaris pribadi di perusahaan ekspor impor yang berdiri di Amerika dan disaat itu pula keahliannya dalam bidang yang sama membuatnya membantu Alex dalam merintis usaha tersebut. Hingga sampai saat ini statusnya adalah menjadi sekertaris pribadi Alex Candra Wijaya. Hanya inilah yang bisa Maya berikan sebagai balasan dulu Alex menolongnya.
Flashback off
"Aku bahkan akan melakukan apapun agar Pak Alex bahagia," lanjut Maya ketika ia masih menahan cairan bening yang sudah berada di pelupuk matanya. Pertolongan yang diberikan Alex padanya membuatnya juga harus menolong atasannya disaat seperti ini.
Bima yang masih fokus menyetir dari tadi hanya bisa kagum akan cerita yang Maya utarakan. Perjuangan Maya untuk hidup dan pertolongan dari Alex benar-benar membuat Bima yakin bahwa Maya adalah orang baik-baik. Sesaat Bima menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang bangunannya memiliki dua lantai. "Kita sudah sampai," kata Bima tanpa menatap Maya. Wanita yang duduk disebelahnya kini langsung memegang handle pintu mobil hendak keluar. "Tunggu!" Perintah Bima membuat Maya menahan pintu yang sudah terbuka. "Apa kau pernah mencintai Pak Alex setelah ia berulang kali menyelamatkan dirimu?"
Pertanyaan Bima membuat Maya kembali menutup pintu mobil dengan sedikit keras. "Dari tadi ku perhatikan kau terlalu banyak bertanya."
Jawaban Maya benar-benar membuat nyali Bima menciut. Ia bahkan tak pernah merasa terintimidasi oleh seorang wanita. Namun penasaran tetaplah penasaran. Hidup bersama Alex selama bertahun-tahun bukanlah waktu yang sedikit. Ia hanya ingin tau bahwa pertolongan yang akan diberikan oleh Maya ini bukanlah karena ia menyukai saudara sepupu atasannya. Alex sudah mempunyai istri yakni Desi. Ia tak mau jika kemudian hari Maya menjadikan pertolongan ini sebagai imbalan mendapatkan cinta Alex.
"Biar ku jelaskan. Aku sangat menghormati Pak Alex lebih dari apapun. Aku juga sangat menghawatirkan nona Desi saat ini. Jadi..." Maya sudah memajukan wajahnya ke arah Bima yang masih duduk di kursi kemudi. "Berhenti berpikir macam-macam akan hubunganku dengan Pak Alex. Dia laki-laki yang sangat aku hormati. Mengerti!" Tanpa menunggu jawaban dari Bima, Maya pun langsung turun dari mobil.
Bima tersenyum miring melihat tingkah laku Maya. Ia tak pernah merasa seperti ini, saat ada wanita yang berhasil mengintimidasi dirinya. Entah perasaan apa ini. Tapi mendengar jawaban dari Maya bahwa ia tak memiliki perasaan pada Pak Alex membuatnya merasa lega.
Bersambung
__ADS_1