Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kepedean


__ADS_3

Maya menopang dagunya dengan tangan kanannya sambil menatap wajah Bima yang masih belum tak sadarkan diri. Setelah seorang dokter mengobati dan melakukan penjahitan pada luka Bima, entah kenapa sampai saat ini Bima masih belum sadarkan diri. Dan anehnya Maya bahkan tak bisa melepaskan pegangan tangan kirinya yang sampai saat ini di genggam oleh Bima. Sedari tadi ia hanya menunggu kesadaran Bima agar tangannya bisa lepas dari pria yang baru kemarin dikenalnya. "Sepertinya ada yang aneh..." Kata Maya lirih. Matanya masih memperhatikan wajah Bima. Menyipitkan kedua matanya agar yang dilihatnya tak salah. Ia mendekati wajah Bima dengan perlahan. Berdiri untuk menyesuaikan kedekatan wajahnya dan wajah Bima. Jarak wajah mereka sudah satu jengkal ketika Maya masih melihat ada yang aneh pada Bima. Namun ia terkejut saat Bima tiba-tiba membuka matanya dan spontan ia terpental ke belakang dan terduduk lagi di kursi yang tadi ia duduki. Memegang dadanya yang berdetak lebih cepat lantaran kaget karena Bima tiba-tiba saja membuka matanya.


Bima mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya ia kini mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Di sisi sebelah kanannya ia melihat tiang infus yang menggantung dan selang infus tersebut terhubung ke tangan kanannya. Memegang kepalanya yang sedikit terasa pusing. Lalu menghadap ke sebelah kirinya saat tangannya sedang memegang sesuatu. Ia tersenyum melihat wanita berambut panjang yang duduk di sampingnya. Namun ia tampak keheranan saat wanita tersebut sepertinya tak baik-baik saja ketika Maya memegang dadanya seraya mengatur nafasnya dan memejamkan matanya. "Kau kenapa?"


Maya membuka kedua matanya. Menatap Bima yang masih terbaring dan sedang memandangnya. "Kau bahkan tak merasa bersalah dengan apa yang kau lakukan," jawabnya yang membuat Bima mengerutkan dahi.


"Memangnya apa yang ku lakukan?"


"Kau..." Sudah menunjuk Bima dengan jari telunjuknya.


"Ah aku tau," kata Bima yang memotong perkataan Maya. "Kau mau berterimakasih atas apa yang kulakukan padamu kan? Karena aku menyelamatkan nyawamu kan?" Katanya seraya menaikkan kedua alisnya berkali-kali. Bibirnya juga tersenyum saat apa yang ia katakan benar adanya.


Maya menghembuskan nafas berat. Sepertinya ia harus mengalah saat ini. Benar apa yang dikatakan Bima. Laki-laki yang terbaring di atas bangkar ini telah menyelamatkan dirinya. Memejamkan matanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki. Namun sesaat Maya membuka kedua matanya saat Bima memekik kesakitan. "Ada apa?"

__ADS_1


"Perutku... Sakit..."


"Bagaimana ini..." Sudah bingung mengatasi apa yang Bima keluhkan. "Aku akan memanggil dokter dulu." Sudah berdiri. Namun tangannya yang masih di genggam oleh Bima kini sedang ditarik oleh laki-laki yang perutnya sedang kesakitan. Ia lantas menghadap ke arah Bima. "Aku akan keluar sebentar. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu."


"Duduklah..." Kata Bima yang masih memegang perutnya yang memang terasa sakit jika ia terlalu banyak bergerak.


Sedangkan Maya saat ini kembali duduk di kursi. Menatap lurus ke wajah Bima. Ia terlalu takut jika memang Bima sedang merasa kesakitan. Sedangkan Bima menggerakkan tubuhnya. Berniat akan duduk. "Apa yang kau lakukan?" Mencegah pergerakan Bima. "Kau jangan terlalu banyak bergerak dulu," tambahnya lagi. Dokter yang menangani Bima tadi sudah memperingatkan Maya jika Bima tak boleh banyak bergerak dulu.


Namun Bima sepertinya tak menghiraukan ucapan Maya, ia masih berusaha untuk duduk. Dan akhirnya dengan bantuan Maya ia berhasil duduk. Bersandar di bangkar setelah Maya memberinya beberapa bantal di punggungnya. "Kemarilah," menarik tangan Maya untuk duduk di sampingnya.


"Terimakasih..."


Perkataan Bima membuatnya sesaat terkesiap. Mengerjapkan matanya beberapa saat ia tak tau akan perkataan Bima. Ucapan terimakasih yang seharusnya ia katakan karena Bima telah menyelamatkan nyawanya kini malah di ucapkan Bima padanya. Ia masih terdiam. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan satu kata saja dari mulutnya. Ingin sekali menanyakan apa yang dikatakan Bima namun ia bahkan tak mempunyai kekuatan untuk membuka mulutnya hanya sekedar bertanya pada laki-laki yang kini masih memeluknya. Ia masih bertarung dengan hatinya yang entah kenapa tiba-tiba semakin Bima mengeratkan pelukannya hatinya semakin berdetak tak karuan.

__ADS_1


"Terimakasih karena telah hadir dalam hidupku."


Perkataan Bima kembali membuat hati Maya berdenyut tak karuan. Kini ia bisa menangkap apa yang Bima maksud. Perkataan Bima persis seperti adegan di film-film yang sering ia tonton di rumah. Perkataan yang ditujukan pada lawan jenisnya di adegan film yang sering ia tonton sudah pasti jika pemeran laki-laki tersebut tengah menyukai pemeran wanita. Dan entah kenapa kini ia juga merasakan hal yang sama pada dirinya. Ia merasa bahwa saat ini Bima tengah menyukainya. Tanpa sadar ia mengulas senyuman di bibirnya. Bima, laki-laki yang baru dua hari ia kenal kini secara tak langsung mengatakan kalimat yang sering ia dengar di adegan film favoritnya. "Apa kau..."


Bima melepaskan pelukannya. Kini kedua tangannya memegang lengan Maya. Menatap lurus ke wajah wanita yang saat ini masih duduk di depannya. "Terimakasih karena dengan pertemuan kita, aku bisa membalaskan dendam ayahku pada Hendra Wijaya."


Perkataan Bima membuat senyum di wajah Maya seketika sirna. "Apa maksudmu?" Mengerutkan keningnya tanda tak mengerti apa yang dikatakan oleh Bima.


"Benar," sudah melepaskan tangannya dari lengan Maya. Menyenderkan kembali punggungnya di tumpukan bantal di belakangnya. "Jika aku tidak bertemu denganmu maka selamanya aku tak akan bisa membalaskan dendam ayahku pada Hendra Wijaya."


Penjelasan Bima benar-benar membuat Maya menelan kekecewaan yang amat mendalam. Pasalnya ia sudah terlanjur kepedean tadi saat Bima mengatakan sesuatu yang membuatnya seperti pemeran utama wanita di sebuah film.


"Kau tau. Sekarang aku bahkan sudah puas ketika bisa membalaskan dendam ayahku padanya. Kau tau, aku sangat bersyukur karena telah bertemu denganmu. Aku juga sangat bersyukur karena telah..."

__ADS_1


"Cukup!" Kata Maya membuat Bima menghentikan kalimatnya. Kini tatapan tajam kembali ia berikan pada Bima ketika laki-laki di depannya ini tak henti-hentinya membahas masalah Hendra Wijaya padanya. "Kau sudah selesai bicara?" Tanyanya yang membuat Bima terdiam seketika. "Aku harus melihat keadaan nona Desi. Jadi lebih baik kau istirahat saja," lanjutnya lagi yang kemudian berjalan keluar tanpa menghiraukan Bima yang masih mematung di atas bangkarnya. Setelah berada diluar kamar perawatan Bima lantas Maya menutup kembali pintu tersebut. Menyenderkan punggungnya di pintu yang baru saja ia tutup. Menghela nafas berat seraya memejamkan kedua matanya. "Kenapa aku sampai berfikir jika Bima menyukaiku?" Gumamnya lirih. "Dasar bodoh!" Umpatnya sendiri sambil memukul kepalanya pelan. Lalu ia membuka matanya. Masih meratapi perasaannya yang sepertinya sudah bertepuk sebelah tangan. Beruntung tadi ia bisa berpikir jernih jadi Bima tak akan tau bagaimana perasaannya sebenarnya.


Bersambung


__ADS_2