Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Menantu dan Mertua


__ADS_3

"Mami memang apa yang mau dibicarakan Papi pada Alex? Kenapa mereka harus bicara di ruang kerja Papi? Kenapa gak disini saja?" Rengek Desi dengan berbagai pertanyaan. Dirinya saat ini tengah tidur di pangkuan sang ibu yang telah mengandungnya selama sembilan bulan lamanya. Setelah tadi selesai makan malam, sang ayah Darmawan memang ingin membicarakan sesuatu dengan Alex secara rahasia. Namun mereka harus bicara di ruang kerja daripada di hadapan Desi.


"Mami juga gak tau," jawab Siska sambil menghendikkan bahu tak mengerti apa yang membuat suaminya mengajak menantu laki-lakinya untuk masuk ke dalam ruang kerja di rumahnya. Dari tadi tangannya tak berhenti mengusap kepala putrinya penuh cinta. "Papi bahkan tak bilang apa-apa kalau mau bicara dengan Alex ke Mami," jelas Siska yang memang tidak mengetahui maksud dari sang suami. Saat tadi setelah makan malam selesai pria yang sudah menikah dengannya selama kurang lebih dua puluh delapan tahun itu langsung berbicara pada menantunya untuk mengikuti langkahnya yang menuju ruang kerjanya.


Sesaat Desi terduduk dan melihat pada ibunya dengan tatapan panik. "Apa Papi akan memarahi Alex?" Tanyanya dengan kepanikan yang amat besar.


"Desi..." Mencoba menenangkan putrinya dengan cara mengusap punggungnya.


"Mami ingat waktu Alex melamar aku. Papi menentang keras pernikahan kami. Dan sekarang..."


"Desi... Tenanglah sebentar..."


"Aku gak mungkin bisa tenang Mam..." Desi sudah berdiri. "Aku akan nyusul ke ruang kerja Papi..." Katanya lagi seraya melangkah pergi dari hadapan sang ibu.


"Desi... Dengarkan Mami dulu..." Siska sudah memegang tangan kanan Desi supaya menghentikan langkahnya. Kembali mencoba menenangkan kepanikan Desi yang makin menjadi. "Papi pasti..."


"Papi pasti akan marah-marah sama Alex Mam..." Kata Desi yang memotong perkataan ibunya. "Sepertinya Papi masih belum merestui hubungan aku dan Alex. Papi..."


"Sayang..." Siska kembali menenangkan hati putrinya. Ia hanya tak mau Desi mengganggu pembicaraan antara suami dan menantunya. "Dengarkan Mami dulu," kata Siska seraya mendudukkan Desi di sofa yang tadi mereka duduki bersama. "Papi pasti sedang bicara serius dengan Alex tapi Mami yakin Papi gak akan menyakiti Alex. Papi sangat menyayangi kamu. Dan kami tau kamu sangat menyayangi Alex. Papi ingin kamu bahagia. Jadi sudah pasti Papi gak akan menyakiti Alex," kata Siska yang mengelus pipi putri tunggalnya. Mencoba perlahan menjelaskan pada Desi kalau suaminya memang tak berniat jahat pada Alex.


Sesaat Desi bisa tenang namun entah kenapa pikiran negatifnya pada sang ayah tak bisa ia tepis. Ia masih menyangka di dalam sana, Alex sedang dimarahi habis-habisan oleh suami dari ibunya. "Aku tidak bisa disini terus," kata Desi yang sudah berdiri kembali. "Aku harus menyusul Alex ke dalam," katanya lagi yang sudah berjalan ke arah ruang kerja ayahnya. Rasa khawatir pada Alex kian menyusup dalam hatinya saat Alex masih tak nampak keluar dari ruang kerja ayahnya, padahal ini sudah hampir dari satu jam lamanya.


Desi dan Siska berseteru di depan pintu ruang kerja Darmawan. Desi yang mati-matian berusaha masuk namun Siska juga berusaha mati-matian mencegahnya untuk masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Dan disaat perseteruan antara ibu dan anak itu tak kunjung selesai, pintu ruang kerja Darmawan terbuka dari dalam.

__ADS_1


Darmawan melihat istri dan anaknya yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya tak bersuara sedikitpun. Beda halnya saat ia tadi masih di dalam. Telinganya mendengar kegaduhan yang luar biasa hingga dirinya dan menantunya mau tak mau keluar. Beberapa detik ia menatap putri tunggalnya, namun sesaat ia melangkah pergi dan menggandeng tangan istrinya. Baru lima langkah Darmawan berjalan dan tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap putrinya yang masih berdiri di depan pintu ruang kerjanya. "Kalian berdua menginap lah disini. Segera tidur karena ini sudah malam," kata Darmawan yang kemudian ia kembali melangkah pergi menuju kamarnya.


Desi yang melihat kepergian kedua orangtuanya segera menarik tangan Alex agar mengikuti langkahnya. Ia menaiki tangga dan menuju kamarnya. Banyak sekali pertanyaan yang akan ia ajukan pada Alex. Setelah memasuki kamarnya, buru-buru Desi segera menutup pintunya. "Apa yang dikatakan Papi padamu? Kenapa di dalam sana lama sekali? Kau tidak di marahi olehnya kan? Atau kau di pukul oleh Papi?" Berbagai pertanyaan Desi luncurkan pada Alex. Ia sudah tak sabar mendengar jawaban dari Alex. Ia bahkan meneliti semua anggota tubuh Alex, ia takut jika ayahnya akan murka pada pria yang berdiri di depannya.


"Hentikan..." Kata Alex seraya memegang kedua lengan Desi supaya wanita yang sudah terlihat khawatir padanya segera menghentikan aksinya yang meneliti seluruh bagian tubuhnya. "Aku baik-baik saja..." Kata Alex lagi seraya berjalan ke arah sofa yang mendudukkan dirinya disana.


"Kau bohong!" Kata Desi yang mengekor di belakang Alex. Ia juga turut serta mendudukkan dirinya di sofa yang sama dengan Alex. "Papi memanggilmu pasti ada yang ingin dia sampaikan kan? Cepat katakan, jangan berbohong padaku lagi."


"Baiklah... Baiklah... Aku akan mengatakannya," kata Alex. Ia kemudian mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Melirik wanita yang berambut pendek di sebelahnya. "Aku... Aku dan Papi..." Alex menggantungkan kalimatnya.


"Cepat katakan!" Perintah Desi seraya memukul lengan Alex sedikit keras. Ia memang sudah tak sabar mendengar cerita dari Alex. Ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya pada Alex.


"Di ruang kerja aku dan Papi sedang main catur."


"Kalau kau tidak percaya padaku, tanyakan saja pada Papi," kata Alex seraya berdiri. "Sudahlah aku mau ke kamar mandi," katanya lagi sambil berjalan ke arah kamar mandi.


"Hah..." Desi menghembuskan nafas kasar ke udara. Ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alex padanya. Tidak mungkin ayahnya memanggil Alex ke ruang kerjanya jika hanya akan memainkan catur.


Sedangkan di kamar mandi, Alex berdiri di depan wastafel. Menatap dirinya di depan cermin. Ia kembali mengingat ucapan yang di katakan mertua laki-lakinya padanya.


Flashback on


Darmawan dan Alex sudah duduk berhadapan di kursinya masing-masing. Hanya ada sebuah meja yang memisahkan mereka berdua. Hampir lima menit Darmawan masih menatap Alex dengan tatapan tajam. Dan Alex pun hanya bisa diam tak berkutik saat ayah mertuanya ingin berbicara dengannya dengan membawanya di ruang kerja.

__ADS_1


"Ada yang ingin Papi sampaikan?" Tanya Alex yang sudah tak sabar mendengar apa yang membuat ayah mertuanya sampai menariknya disini.


"Aku hanya ingin main catur denganmu," jawab Darmawan yang membuka papan catur dan memulai menata buah catur di atas bidak catur.


Alex tau ini bukanlah poin penting saat mertuanya memanggilnya kesini. Namun sebagai menantu yang baik, ia harus menjalani apa yang mertuanya katakan. Ia melayani permainan catur dari mertuanya. Hingga hampir setengah jam berlalu tak ada kata yang keluar dari keduanya.


"Terimakasih..."


Alex terkejut dengan satu kata yang keluar dari mulut mertua laki-lakinya. Tangannya yang sudah memegang pion raja kini tengah menggantung di udara. Ia menatap wajah mertua laki-lakinya yang kini berusia kurang lebih lima puluh lima tahun itu.


"Terimakasih karena telah mencintai Desi sepenuh hati," kata Darmawan yang kini juga menatap menantu satu-satunya.


Alex yang masih memegang pion catur tersebut hanya bisa menggenggam erat pion penting dalam permainan catur itu. Ucapan sang mertua benar-benar tidak pantas ia dapatkan. Ia menikah dengan Desi hanyalah karena ingin menghentikan sang ibu menjodohkannya dengan banyak wanita. Dan disaat sang mertua mengucapkan terimakasih, ia benar-benar merasa sangat bersalah.


"Papi hanya ingin kau mau menjaga Desi seumur hidupmu. Sebenarnya Desi adalah wanita yang mandiri. Namun Papi ingin kau yang akan tetap menjaga dan melindungi Desi selamanya."


Alex hanya terdiam mendengar penuturan dari ayah mertuanya. Entah kenapa saat ayah Desi mengatakan hal tersebut, kini seperti ada beban yang sangat berat di pundaknya. Seketika bibirnya kelu tak bisa menjawab perkataan dari Darmawan. Karena sesuai perjanjiannya dengan Desi, ia hanya akan menjadi suami pura-pura Desi selama satu tahun.


Flashback off


Alex masih menatap dirinya di depan cermin. Ada rasa sesak di bagian hatinya saat mengingat kembali perkataan dari ayah mertuanya. Ia tak mau mengecewakan orang tua Desi namun ia juga tak akan melanggar isi perjanjiannya dengan Desi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2