Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Keluarga Adalah Harta Paling Berharga


__ADS_3

Alika berada di taman depan. Ia menggendong Agam saat suaminya sedang pergi bekerja. Sedangkan mertua laki-lakinya juga sedang keluar. Sesaat ia dihampiri oleh adik iparnya Lala yang juga turut duduk di taman depan. "Dimana Sandra?" Tanya Alika yang tak melihat Sandra seharian ini.


"Setelah sarapan tadi pagi, dia kembali ke kamar kak. Dia terus saja menangis. Padahal siang ini kita ada kuliah. Tadi aku juga sudah membujuknya untuk keluar kamar tapi dia tidak mau," jelas Lala. Sesaat ia menghembuskan nafasnya pelan. "Sebenarnya aku tidak menyangka jika ia melakukan hal tersebut kak. Tapi..." Lala menggantungkan kalimatnya.


"Sudahlah. Sandra pasti mempunyai alasan tersendiri kenapa ia sampai melakukan hal tersebut," jawab Alika. Ia tak berniat membela Sandra karena ia tau apa yang di lakukan Sandra sudah sangat keterlaluan. Namun ia juga tak mungkin memusuhi Sandra atas apa yang ia lakukan.


"Kakak kau tau, kalau aku sangat beruntung mempunyai kakak ipar sepertimu."


Sesaat Alika tersenyum mendengar penuturan dari Lala namun sesaat juga Alika terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Kakak titip Agam dulu ya," kata Alika seraya menyerahkan putranya di pangkuan Lala. "Kakak akan coba membujuknya," tambahnya lagi yang di tanggapi anggukan kepala oleh adik iparnya. Kemudian ia berjalan ke dalam rumah. Menaiki satu persatu anak tangga di dalam rumah mertuanya. Menuju kamar Lala. Karena dari tadi malam Sandra memang disuruh Farel untuk sekamar bersama dengan Lala.


Alika mengetuk pintu kamar lalu dirinya segera membuka pintu perlahan. Ia melihat Sandra yang masih duduk di atas tempat tidur menangis sambil menundukkan kepala. Dirinya lalu masuk ke dalam, menutup pintu kemudian berjalan mendekati Sandra. "Sandra..." Panggil Alika lirih seraya memegang pundak Sandra.


Sedangkan Sandra menengadahkan kepalanya ke atas saat ada suara yang memanggilnya. "Kak Alika..." Ucap Sandra seraya mengusap air matanya.


Alika tersenyum lalu duduk di depan Sandra. "Bukankah siang ini kau ada kuliah?" Tanya Alika yang mengetahui hal tersebut dari adik iparnya dan di jawab anggukan kepala oleh Sandra. "Kenapa masih disini. Kau seharusnya sudah bersiap-siap bukan?"


"Kakak..." Sandra kembali mengeluarkan air mata. "Kakak apa kau membenciku?" Tanya Sandra.


Alika kembali tersenyum. Mengusap pelan pipi wanita yang sudah ia anggap adik sendiri. "Kenapa aku harus membencimu?"


"Karena aku sudah melakukan kejahatan. Aku mencoba menyakiti kakak iparku sendiri sehingga dia masuk rumah sakit gara-gara aku. Aku..." Sandra sudah tak dapat melanjutkan kalimatnya saat air mata kembali jatuh di pipinya.


Lagi-lagi Alika tersenyum, membuat Sandra mengerutkan keningnya. "Apa kau tau kalau Desi memiliki alergi yang akut?"

__ADS_1


Sandra menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya tau kalau kakak ipar memiliki alergi terhadap makanan. Aku pikir kakak ipar hanya akan memiliki gejala gatal-gatal saja. Jika aku tau akan terjadi seperti ini mungkin aku tidak akan melakukan semua itu," jelas Sandra disela-sela tangisannya. "Aku benar-benar jahat kak. Jika aku tidak segera membawanya ke rumah sakit maka kakak ipar pasti akan kehilangan janinnya atau bisa-bisa dia pasti akan kehilangan nyawanya."


"Tapi kau menyelamatkannya..." Ujar Alika yang membuat Sandra menatap ke arahnya. "Kau peduli padanya. Makanya kau membawanya ke rumah sakit," sesaat Alika kembali memegang pundak Sandra. "Kau bukanlah jahat. Kau hanya tidak menyukai Desi. Tapi aku yakin kau mempunyai rasa peduli pada kakak iparmu," jelas Alika lagi yang membuat Sandra berhenti menangis. Sesaat Alika meraih tangan Sandra. "Semua manusia pasti tak luput dari sebuah kesalahan. Begitu juga dengan dirimu. Dan sekarang kau dituntut untuk mempertanggung jawabkan kesalahan itu. Jadikan ini sebuah pelajaran. Agar ke depannya kau akan berpikir sebelum bertindak. Kau mengerti?"


Sandra hanya bisa mengangguk pelan sambil menatap wajah Alika. Kini ia sadar bahwa perilaku yang ia perbuat membutuhkan tanggung jawab yang besar juga. Dulu ia juga sempat membenci Alika karena dulu Farel pernah menyuruhnya berpakaian seperti Alika. Mengenakan jilbab dan berpakaian sopan. Karena menurutnya semua itu adalah sesuatu yang tidak penting. Tapi setelah mengenal Alika lebih dekat kini ia sadar bahwa Alika tidaklah seperti yang ia pikirkan. "Kakak apa kau tidak membenciku?"


"Kau menanyakan hal itu lagi. Memangnya kenapa aku harus membencimu?"


"Karena aku telah melakukan kejahatan pada kakak ipar. Kakak ipar adalah temanmu. Pasti kau membenciku kan?"


Alika kembali tersenyum. "Memangnya apa yang ada di kepalamu hah?" tanya Alika seraya mengacak rambut Sandra yang terurai. "Aku tidak pernah membenci seseorang. Kau ingat siapa menabrak adikku, Abizar?"


"Kak Farel."


Sandra kembali menganggukkan kepalanya. "Apa kakak yakin kalau kak Desi tidak akan membenciku?"


"Aku yakin," jawab Alika seraya menganggukkan kepalanya. "Aku sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi sahabatnya. Aku tau dia seperti apa. Kau hanya perlu minta maaf yang tulus padanya." Sesaat keduanya terdiam. Alika yang sepertinya sudah berhasil meyakinkan Sandra akan permintaan maaf yang seharusnya dilakukannya.


"Tapi bagaimana dengan kak Alex? Meski nantinya kakak ipar akan memaafkan diriku tapi kak Alex tidak akan memaafkan ku. Aku bahkan tidak pernah melihatnya semarah tadi malam."


"Sandra," Alika kembali memegang kedua tangan Sandra. "Kakakmu hanya sedang marah. Dia hanya terbawa emosi. Biarkan saja dia beberapa hari. Setelah itu kau harus menyiapkan diri dan hatimu untuk meminta maaf padanya juga."


Sandra masih memikirkan cara bagaimana ia mulai dari awal untuk meminta maaf pada Desi. Terlebih lagi ia juga harus meyakinkan Alex agar saudara laki-lakinya itu kembali bisa menerimanya lagi.

__ADS_1


"Ayo cepat siap-siap."


"Memangnya kita mau kemana?" Tanya Sandra seraya mengerutkan keningnya. Jika Alika mengajaknya ke rumahnya, jujur saja ia masih belum siap. Kemarahan Alex tadi malam benar-benar membuatnya terpukul saat saudara laki-lakinya sendiri bilang bahwa kalau ia bukanlah saudara kandungnya.


"Mau kemana lagi. Bukannya siang ini kau ada kuliah. Ayo cepat siap-siap. Ini sudah siang," perintah Alika pada Sandra agar pergi ke kampus.


"Aku pikir..." Sandra menggantungkan kalimatnya saat ia sudah salah paham akan perintah Alika. "Ehm kakak hari ini aku libur kuliah ya..."


"Kenapa? Kenapa kau mau libur kuliah? Kau sakit?"


"Tidak. Aku hanya..."


"Apa dengan berdiam diri di kamar bisa membuat semua kembali seperti semula, tidak kan?" Kata Alika yang lagi-lagi memberi pernyataan yang memang sangat masuk akal pada Sandra. "Apa dengan berdiam diri di kamar bisa membuat Alex tidak marah lagi padamu, tidak kan?"


"Kakak..."


"Sekarang lebih baik kau cepat mandi dan segera bersiap-siap. Lala sudah menunggumu di bawah. Jangan jadikan masalahmu untuk tak pergi kuliah. Kau mengerti!"


Sesaat Sandra terdiam mendengar penuturan dari Alika. Namun semua yang dibilang Alika ada benarnya. Ia tak mungkin berdiam diri di kamar dan hanya menangis saja. Ia harus mencari cara untuk meminta maaf pada keluarganya. "Baiklah aku akan kuliah. Kakak..." Kata Sandra yang meraih kedua tangan Alika. "Terimakasih... Berkatmu aku jadi sadar akan berharganya sebuah keluarga."


"Sama-sama..." Ucap Alika seraya mengelus kepala Sandra. Sebagai seorang wanita yang kini sudah menjadi ibu, kini ia harus ikut andil dalam masalah dalam keluarga suaminya. Meski nantinya pendapatnya akan di terima atau tidak. Yang ia pikirkan saat ini ia harus menjelaskan pada Sandra jika keluarga adalah harta paling berharga di dunia ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2