Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Kau Terlalu Banyak Bicara


__ADS_3

Nona Paulina Desi Darmawan saat ini memang sedang berada di apartemennya. Tadi sekitar pukul sebelas siang saya melihatnya sendiri, ketika nona Paulina sedang berjalan kearah lift dengan pakaian basah. Wajahnya yang pucat, sudah dapat saya pastikan kalau keadaan nona Paulina saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Begitulah penuturan salah satu staf di gedung apartemen yang di huni oleh Desi. Saat ini Alex, Farel, Alika dan empat pengawal laki-laki sudah berada di depan pintu apartemen milik Desi. Alika yang memang sudah tau nomor kunci digital apartemen milik sahabat perempuannya saat ini sudah memasukkan kodenya.


Pintu terbuka...


Lampu apartemen juga tak menyala padahal saat ini sudah petang. Mereka semua masuk ke dalam apartemen Desi. Alika berjalan di depan mencari keberadaan Desi. Sedangkan Alex dan Farel berada di belakang Alika. Mereka mendengar suara tangis dari dalam kamar.


Alika mencoba membuka pintu kamar Desi tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia melihat Desi di tengah kegelapan kamarnya di atas ranjang. "Sebaiknya kita pulang. Desi sudah ada disini. Semuanya aku serahkan padamu," kata Alika dengan nada lirih. Ia hanya tak mau sampai Desi mendengar suaranya.


Sedangkan Farel kini merangkul pundak Alex untuk menjauh dari Alika. "Berjuanglah... Karena menaklukkan hati wanita yang sedang cemburu lebih sulit daripada menaklukan harimau yang sedang gila," katanya yang berbisik di telinga Alex sambil cekikikan. Lalu kemudian ia menarik tangan Alika untuk keluar dari apartemen Desi. "Kalian pulanglah, Alex pasti akan bermalam disini. Jangan lupa untuk mengabari orang rumah kalau Desi baik-baik saja. Dan bilang pada mereka tak perlu mencemaskan Desi karena ia sudah berada dengan Alex," perintah Farel pada empat pengawal yang tadi menunggu di depan apartemen Desi. Dan ke empat pengawal tersebut mengiyakan apa yang di perintahkan Farel. Setelah membungkukkan badan mereka pergi meninggalkan apartemen.


"Tadi kamu membisikkan apa pada Alex?" Tanya Alika yang penasaran akan perkataan Farel pada Alex. Saat ini keduanya tengah bergandengan tangan berjalan menuju lift.


"Tidak ada. Aku hanya menyuruhnya untuk berjuang," jawab Farel. Kini tangannya sudah pindah merangkul pinggang sang istri. "Bukankah seharusnya begitu?" Tanya Farel yang di jawab anggukan kepala oleh Alika.

__ADS_1


*


Sedangkan di dalam apartemen. Alex perlahan membuka pintu kamar Desi dengan lebar agar ia bisa masuk ke dalam. Dalam kegelapan kamar ia masih mendengar jelas suara tangis Desi yang lirih. Ia melihat Desi yang tengah tengkurap di atas tempat tidur. Entah kenapa ia kini makin dihinggapi rasa bersalah saat melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Desi menangis seperti itu. "Desi..."


Desi mengangkat kepalanya. Tangisnya seketika berhenti saat ia mendengar jelas suara Alex. Namun sesaat ia kembali menangis. "Saat ini aku bahkan bisa mendengar suaranya..." Tangisnya kembali menggema di seluruh sudut ruangan kamarnya.


"Desi ini aku..."


Desi kembali mengangkat kepalanya. Lalu dengan cepat ia terduduk di atas tempat tidur. "Aku pasti sudah gila. Bagaimana bisa aku mendengar suaranya seperti ini. Padahal saat ini dia pasti sedang bersenang-senang dengan Maya..." Katanya lagi dengan nada geram.


Alex malah tersenyum mendengar penuturan Desi yang memang bisa ia nyatakan kalau Desi sedang merasa cemburu. "Sayang... ini benar-benar aku," kata Alex yang mencoba menggoda Desi. Ia masih berdiri di belakang Desi.


Jantung Desi sudah tak berirama dengan baik lantaran saat ini ia sedang takut. Lalu ia berdiri dan berlari menjauh dari tempat tidurnya. Namun ia menghentikan langkahnya saat tangannya di pegang oleh seseorang. "Lepaskan aku..." Teriak Desi sambil memejamkan matanya. "Aku mohon lepaskan aku..." Teriaknya berkali-kali.


"Buka matamu, ini aku Alex." Saat ini ia sudah memegang kedua tangan Desi. Ia mencegah Desi keluar dari kamar dengan keadaan seperti ini. "Lihat aku Alex. Aku sudah pulang..." Berkali-kali ia juga meyakinkan Desi agar membuka matanya.

__ADS_1


Seketika Desi terdiam saat ia mendengar penuturan dari seseorang yang memegang kedua lengannya. Perlahan ia mencoba membuka satu matanya. Saat ia mengenal seseorang yang berada di depannya. Kini ia dengan cepat membuka kedua matanya. Membelalakkan kedua matanya tak percaya saat laki-laki yang ia rindukan kini sudah berdiri di depannya. Sesaat matanya sudah berkaca-kaca. "Kau..." Desi memegang pipi kanan Alex. Merasakan bahwa laki-laki yang berdiri di depannya memang benar-benar nyata. Namun sesaat ia melepaskan tangan Alex yang memegang lengannya. Ia kembali teringat akan peristiwa pagi tadi saat ia menemukan foto Maya yang berada di laci ruang kerja suaminya. "Kau benar-benar tega!" Teriak Desi yang memang merasa sakit hati. "Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan ku! Kau tega! Kau benar-benar tega padaku!" Ia sudah teriak tak karuan. Mendorong badan Alex agar menjauh darinya.


Alex mencoba mendekati Desi. "Aku bisa jelaskan..."


"Tidak ada yang perlu di jelaskan! Tega sekali kau mengkhianati diriku. Kau benar-benar tidak menganggap ku sebagai istri sah mu kan?" Air mata sudah kembali membasahi kedua pipi Desi. Ia memang sudah tak bisa menahan rasa sakit hatinya sedari kepergian Alex yang tiba-tiba meninggalkannya ke Amerika.


"Desi, aku bisa jelaskan..."


"Aku bilang tidak ada yang perlu di jelaskan!" Teriak Desi lagi yang memotong perkataan Alex. "Kau pasti senang kan bisa pergi berdua bersama Maya ke luar negeri. Kau bahkan tidak mengabariku. Kau bahkan...


Alex berjalan cepat ke arah Desi dan langsung mencium bibir wanita yang dari tadi sudah memarahinya. Satu kecupan dari bibirnya benar-benar berhasil membungkam mulut Desi.


Sedangkan Desi hanya bisa mematung di tempatnya berdiri. Membelalakkan kedua matanya. Ia terkejut dengan perlakuan Alex padanya. Namun sekalipun ia tak menolak dengan apa yang Alex lakukan pada dirinya.


Hampir lima detik Alex menempelkan bibirnya ke bibir Desi. Mungkin ia harus bersyukur karena Desi tak mendorongnya. Lalu sesaat ia melepaskan kecupannya dari bibir wanita yang entah dari kapan sudah mengisi hatinya. "Kau terlalu banyak bicara..." Katanya seraya memegang pipi kanan Desi dan beberapa kali mengelusnya. Mengusap air mata Desi penuh makna. Tangan kirinya kini sudah memegang pinggang wanita cantik berambut pendek yang masih berada di depannya. Menarik pinggang Desi hingga tubuh mereka berdekatan. Ia bisa merasakan kalau Desi masih memakai pakaian basah sedari pagi. Sedangkan Desi hanya bisa membeku di tempatnya berdiri saat ini. "Aku jelaskan padamu. Aku dan Maya tidak ada hubungan apa-apa. Maya hanyalah sekertaris pribadiku. Jika kau bertanya siapa saat ini yang berada di dalam hatiku, maka jawabanku hanya ada satu nama." Alex mendekatkan bibirnya ke telinga Desi. Hendak membisikkan sesuatu yang sepertinya sangat penting agar Desi tak kembali salah paham. "Satu nama yang berhasil mengisi hatiku adalah Paulina Desi Darmawan."

__ADS_1


Desi tak percaya dengan penuturan laki-laki yang sudah berada di depannya. Kini kepalanya terasa berat saat mendengar apa yang Alex katakan. Entah ini mimpi atau nyata tapi semakin lama ia berdiri maka rasa berat di kepalanya makin menjadi. Dan dalam hitungan detik, Desi sudah jatuh tak sadarkan diri.


Bersambung


__ADS_2