
Desi turun dari mobil dengan langkah gontai. Saat tadi di mobil pun ia merasa tak bersemangat untuk pulang ke rumah. Ini pertama kalinya ia pulang sendiri ke rumah mertuanya. Ini juga pertama kalinya ia di tinggal pergi oleh Alex ke luar negeri tanpa adanya pemberitahuan apapun. Sebagai seorang istri entah mengapa ia merasa tak dihargai sedikitpun. Dari tadi matanya sudah berkaca-kaca, namun sebisa mungkin ia tahan cairan bening yang sudah berada di pelupuk matanya agar tak jatuh.
"Desi..." Sapa sang mertua perempuan yang baru saja berjalan dari arah dapur saat Desi baru melangkahkan kakinya di dalam rumah.
"Mama..." Desi berjalan ke arah sang mertua. Lantas ia menyalami tangan kanan mertua perempuannya.
"Sayang kamu pasti lelah karena habis lembur. Kamu sudah makan malam?" Tanya Marisa yang di jawab gelengan kepala oleh Desi. "Ya sudah kamu cepat mandi. Lalu turun untuk makan malam. Setelah itu kamu cepat istirahat ya..." Kata Marisa yang mengelus kepala menantunya.
"Ehm Alex..."
"Oh ya, tadi Alex ada telepon mendadak dari usahanya yang ia rintis di luar negeri. Sepertinya disana ada kendala. Dan dia diharuskan terbang malam ini juga. Katanya dia akan mengabari kamu nanti."
Tapi sampai saat ini dia bahkan tidak memberi kabar padaku. Batin Desi yang sedikit kecewa dengan kepergian Alex yang secara tiba-tiba.
"Dia sudah telfon kamu kan?" Tanya Marisa memastikan kalau putranya memang sudah mengabari sang istri yang tadi sempat lembur di kantor.
"He'em..." Desi menjawab dengan anggukan kepala. Ia terpaksa berbohong pada Marisa, agar sang mertua tak terlalu khawatir saat Alex tak mengabarinya.
"Ya sudah, kalau gitu kamu lekas mandi ya. Setelah itu kamu bersiap untuk makan malam," kata Marisa yang berlalu saat ia telah selesai melakukan pembicaraan dengan Desi.
Sedangkan Desi hanya menatap kepergian sang mertua. Ia masih melihat punggung mertuanya sampai hilang di balik dinding. Setelahnya ia berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya yang sudah tiga bulan ia tempati. Desi membuka pintu kamarnya dengan keadaan malas. Biasanya setiap hari ia selalu pulang bersama Alex. Namun kali ini ia bahkan tak tau Alex pergi ke negara mana. Dirinya sangat ingin bertanya pada sang mertua namun ia bahkan tak sanggup untuk menanyakannya. Ia sudah berbohong pada ibu Alex perihal Alex yang sudah mengabarinya. Jika ia bertanya pada ibu mertuanya dimana Alex pergi, pasti sang ibu mertua akan merasa sangat curiga.
Desi menyandarkan punggungnya di pintu kamarnya. Setelah tadi ia masuk ke dalam kamarnya, ia bahkan tak tau harus berbuat apa jika tak ada Alex di sampingnya. Desi mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Ia mencari nama Alex di kontak ponselnya. Tanpa banyak berpikir Desi langsung menekan tombol berwarna hijau pada layar ponselnya. Ingin sekali dia menanyakan perihal Alex yang tiba-tiba meninggalkannya tanpa ada pemberitahuan sekalipun. Namun sepertinya Desi harus menelan pil pahit saat nomor ponsel Alex tidak aktif. Dia pasti sedang naik pesawat. Batin Desi sambil menyandarkan kembali punggungnya di pintu kamarnya. Seakan tak punya kekuatan untuk menyangga tubuhnya, perlahan Desi terduduk di lantai kamarnya. Rasa sesak yang dari tadi menghimpit dadanya kini ia keluarkan dengan cairan bening yang sudah berada di pelupuk matanya. Desi menangis. Menangis karena ia tak bisa bertemu Alex dalam beberapa hari ini.
***
Saat ini sudah pukul sepuluh malam. Dari mulai jam sembilan tadi Desi sudah mencoba untuk tidur tapi entah mengapa ia bahkan tak bisa memejamkan matanya barang sekejap saja. Ia membolak-balikkan badannya, berharap dengan begitu ia bisa tidur dengan nyenyak. Tapi sepertinya semua itu sia-sia.
__ADS_1
Desi menatap ranjang di sebelah kirinya. Biasanya disana sudah ada Alex yang tertidur namun sekarang ia hanya bisa melihat bantal dan guling yang biasa di pakai Alex untuk tidur.
Dirinya mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja nakas. Ia melihat register panggilan di layar ponselnya. Meneliti sekali lagi mungkin Alex akan menghubunginya. Atau ada panggilan tak terjawab yang masuk ke dalam ponselnya. Namun di ponselnya tak ada panggilan ataupun pesan yang masuk. Desi menarik nafas dalam lalu menghembuskan pelan. Matanya kembali berkaca-kaca saat ia tak bisa melihat Alex di sampingnya.
*
Desi mengerjapkan beberapa kali matanya. Mencoba mengumpulkan kesadarannya. Entah jam berapa ia bisa tertidur, tapi saat ini matanya terlalu berat untuk di buka. Perlahan Desi duduk di atas tempat tidur. Kini ia berada di sisi ranjang sebelah kiri, dimana biasanya Alex tidur. Entah ia yang menggeser tubuhnya sendiri atau ia secara tak sadar pindah ke sisi ranjang tersebut.
Desi menghembuskan nafas panjang. Kembali melihat ponsel yang sudah ada di tempat tidur. Ia mengecek lagi ponselnya, siapa tau ada panggilan dan pesan yang masuk tadi malam ke ponselnya saat ia tidur. Namun nihil, tak ada satupun pesan yang ia terima dari orang yang sudah membuatnya tadi malam tak bisa tidur. Desi berpikir sejenak. Ada rasa rindu yang tiba-tiba muncul di benaknya. Dan dengan sadar ia mengetikkan pesan pada orang yang sangat ia rindukan.
Assalamualaikum...
Kau dimana sekarang?
Kau pergi ke luar negeri bukan karena menghindariku kan?
Banyaknya pekerjaan membuatku harus lembur hingga tiga hari ini.
Jika kau membaca pesan ini, aku harap kau bisa membalasnya.
Agar aku tau kalau kau disana baik-baik saja.
Wassalamu'alaikum...
Dengan sadar Desi mengetikkan berbagai pesan pada Alex. Ada rasa khawatir pada dirinya karena sejak tadi malam ponsel Alex tak bisa dihubungi. Sama seperti saat ini, ponsel Alex juga masih tidak aktif.
Perlahan Desi turun dari ranjang. Memakai sandal bulu berwarna merah yang biasa ia gunakan, kemudian ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ia masih berdiri di depan wastafel. Melihat dirinya di depan cermin. Matanya sembab. Tidak bilang pun orang lain pasti akan tau kalau dirinya habis menangis. Desi kembali menghela nafas berat. Ia tak ingin sampai keluarga Alex tau kalau dirinya habis menangis, atau kalau tidak dirinya pasti akan dihujani dengan berbagai pertanyaan.
__ADS_1
*
Desi turun dari tangga. Ia berhasil menutupi mata sembabnya dengan polesan make-up nya sendiri. Di bawah ia bisa melihat beberapa pelayan yang sudah bekerja di pagi hari ini. Ia juga melihat keberadaan mertua perempuannya dan juga adik iparnya yang sudah duduk di meja makan. Sesaat ia juga ikut bergabung di meja makan. Sarapan pagi ini terasa berbeda tanpa kehadiran Alex di samping Desi.
Sarapan selesai. Sandra menawarkan diri untuk mengantarkan Desi hingga ke kantor, karena memang kampusnya se arah dengan tempat dimana Desi bekerja.
"Bagaimana kabar kak Alex? Apa dia sudah sampai di Amerika?" Tanya Sandra yang saat ini sedang menyetir.
Oh jadi Alex ke Amerika...
Batin Desi yang memang sampai saat ini tidak tau kemana Alex pergi.
"Kakak kau sedang melamun ya?" tanya Sandra yang sesekali melirik ke arah Desi.
"Ehm aku..."
"Sudahlah... Aku tau kau pasti kangen kan dengan kak Alex?" Sandra mencoba berbicara sesantai mungkin dengan kakak iparnya.
Sedangkan Desi hanya bisa tersenyum mendengar penuturan dari Sandra. Entah kenapa apa yang dikatakan Sandra ada benarnya. Saat ini ia memang merindukan sosok pria yang sudah tiga bulan hidup bersamanya.
"Ini pertama kalinya kak Alex sarapan di Amerika tanpa ada kakak ipar disana," kata Sandra yang membuat Desi tersipu malu. "Tapi kakak ipar tenang saja. Disana kak Alex pasti tidak akan kesepian karena kak Maya juga ikut ke Amerika nemenin kak Alex disana."
Ini adalah kali kedua Desi bagaikan tersambar petir di siang bolong. Sampai saat ini ia bahkan tak tau status Maya sebagai apa di samping Alex. Namun pernyataan yang Sandra lontarkan padanya benar-benar membuat dadanya terasa sesak. Tiba-tiba berbagai pertanyaan muncul di benaknya tentang siapa Maya sebenarnya.
Jika Desi sedang terkejut dengan penuturan Sandra. Maka lain halnya dengan Sandra, saat ini ia sedang tersenyum licik dalam hatinya saat kakak iparnya dihinggapi rasa cemburu yang amat besar.
Bersambung
__ADS_1