
Alex berlari bersama beberapa para perawat yang mendorong bangkar Desi masuk ke dalam rumah sakit. Dibelakangnya ada Maya dan beberapa perawat juga sedang mendorong bangkar Bima. Keduanya saat ini sedang dalam keadaan tak sadarkan diri. Semua dokter sudah berada dalam tempatnya masing-masing. Desi yang memang memiliki luka yang sangat serius di tambah lagi dengan keadaannya yang saat ini tengah hamil membuat para dokter harus bertindak dengan cepat.
Seorang perawat wanita melarang Alex untuk mengikuti dimana saat ini bangkar Desi dimasukkan dalam ruang privat IGD. Mencoba meyakinkan Alex bahwa Desi akan baik-baik saja. Setelahnya perawat wanita tadi menutup ruang IGD tersebut. Beberapa perawat sudah terlihat sibuk. Mereka sedang melakukan pemeriksaan singkat dan cepat. Seperti meliputi pemeriksaan kondisi umum. Memeriksa tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi dan pernapasan.
Sedangkan dokter Elena yang baru saja masuk langsung melihat kondisi Desi. Sepertinya Desi telah kehilangan banyak darah akibat luka tembakan yang mengenai punggungnya. Dengan dibantu dokter bedah kini dokter Elena hanya bisa menatap haru kondisi Desi. Seorang dokter bedah laki-laki sudah menggelengkan kepalanya pada dokter Elena saat pasien memang benar-benar dalam kondisi kritis.
*
Dokter Elena berjalan keluar dari pintu IGD. Ia melihat Alex yang sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu IGD.
"Bagaimana keadaan istriku?" Tanya Alex dengan nada khawatir. Ia menyeret langkah kakinya saat ia melihat dokter Elena yang keluar dari pintu IGD. Matanya sudah memerah lantaran akibat menahan tangis.
"Kondisi pasien saat ini sedang kritis."
Jawaban dokter Elena membuat Alex semakin tak percaya dengan apa yang baru saja dokter wanita itu bicarakan.
"Maafkan kami, tapi..." Dokter Elena menggantungkan kalimatnya saat ia tak bisa menyampaikan apa yang harus ia katakan pada Alex. "Kami para dokter sudah sepakat untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungan nona Desi meski bayi tersebut masih berusia tujuh bulan."
Perkataan dokter Elena membuat Alex tak mengerti. Ia hanya berpikir bahwa dokter Elena bisa menolong nyawa Desi tanpa harus mengeluarkan bayi tersebut. Karena seperti pengetahuannya, bayi yang ada dalam kandungan istrinya masih belum cukup umur untuk dikeluarkan. "Apa maksud dokter?"
"Berhubung kondisi pasien sedang dalam masa kritis. Kami tidak mau membahayakan keadaan bayinya juga." Mencoba memberi penjelasan sesingkat mungkin pada Alex. "Nona Desi sudah kehilangan banyak darah. Setiap detik kondisi nona Desi juga mengalami penurunan. Sepertinya kami hanya bisa menyelamatkan bayi yang ada..."
"Apa maksud dokter?" Seperti sudah tau apa kalimat selanjutnya yang akan dokter Elena sampaikan. Kedua tangannya sudah reflek memegang lengan dokter Elena. Seperti tak terima dengan apa yang akan dokter Elena lakukan pada sang istri.
Sedangkan di belakang Alex, para keluarga besarnya dan keluarga mertuanya sudah datang atas kabar yang diberikan oleh Adi.
"Aku ingin mereka berdua selamat." Kata Alex yang menekankan kalimatnya.
"Maafkan saya Pak... Tapi..."
__ADS_1
"Dokter Elena..." Seorang perawat wanita keluar dari ruang IGD. Sepertinya ia sedang membutuhkan keberadaan dokter Elena saat ini.
"Perbanyaklah berdoa Pak," akhir kata dokter Elena yang kemudian berjalan masuk ke dalam ruang IGD.
"Tunggu."
Satu kata dari Alex berhasil membuat dokter Elena menghentikan langkahnya. Saat ini ia tengah berdiri di ambang pintu. Kemudian ia berbalik menghadap ke arah Alex.
"Jika anda memang harus menyelamatkan salah satu dari mereka..." Alex menggantungkan kalimatnya seraya menatap dokter Elena penuh pasti. "Maka selamatkan lah ibunya."
Kalimat tersebut membuat semua keluarga tertegun di tempatnya berdiri. Ada yang menangis. Ada yang hanya menutup mulutnya sendiri, seakan tak percaya dengan apa yang dialami oleh keluarga mereka.
*
Alex masih berdiri di depan ruang operasi yang didalam ruangan tersebut sedang ada istrinya sebagai pasien yang saat ini sedang berada di antara hidup dan mati. Melipat kedua tangannya di depan dada. Sesekali ia mengusap air matanya yang dari tadi terjatuh.
"Kakak..." Sandra sudah berdiri di samping Alex. Memegang lengan kakak laki-lakinya. Mencoba menyalurkan kekuatannya dengan pegangan tangannya. Ia sudah tau semuanya. Perihal apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Maya sudah menceritakan semuanya pada keluarga besarnya. "Tenanglah. Kakak ipar pasti akan baik-baik saja." Mencoba menghibur saudara satu-satunya. Jujur. Ia sangat merasa bersalah dengan keberadaan yang ada. Ia bahkan tak menyangka jika Bu Dina akan melakukan hal itu pada anggota keluarganya.
"Kakak..."
"Aku bahkan harus mengambil keputusan yang sangat sulit pada istri dan anakku," air matanya sudah jatuh dari kedua matanya.
"Kakak..." Sandra pun juga turut menangis melihat saudara laki-lakinya harus berdiri dalam satu tiang penyelamatan. Memilih antara menyelamatkan istrinya atau anaknya.
"Ini kedua kalinya aku harus memilih di antara dua orang yang sangat aku cintai." Kata Alex sambil tak berhenti menitikkan air matanya. Ia kemudian menundukkan kepalanya dalam. Mencoba mengatur nafasnya saat ia kesulitan bernafas ketika rasa sesak yang dari tadi menyerang dadanya. Lalu ia melihat pintu ruang operasi lagi sambil mengusap air matanya kasar. Ia harus kuat. Ia tau semuanya pasti akan baik-baik saja.
"Kakak maafkan aku. Semua terjadi gara-gara aku..." Sudah menangis sambil menundukkan kepalanya di samping Alex.
Alex menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu ia menghadap pada adik perempuannya. Adik yang selama ini sangat ia sayangi. "Dengarkan kakak," memegang kedua lengan Sandra. "Ini semua bukan salahmu. Bu Dina lah yang terlalu terobsesi melindungimu. Namun dengan cara yang salah." Kata Alex yang mencoba memberi penjelasan agar Sandra tak lagi menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi... Kakak ipar..."
"Desi pasti akan baik-baik saja," kata Alex yang memotong perkataan Sandra. "Dia pasti akan baik-baik saja."
*
Sedangkan di dalam ruang operasi. Para dokter sudah berhasil mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungan Desi. Bayi yang terlahir prematur ini kini harus diberikan perawatan khusus oleh pihak rumah sakit. Melakukan penutupan kembali pada operasi caesar yang dijalani oleh Desi.
Banyak dokter yang turun tangan dalam menangani pasien ini. Setelah berhasil mengeluarkan bayi dalam keadaan selamat kini para dokter masih akan melakukan satu pekerjaan yang sangat penting. Menyelamatkan wanita yang masih terbaring lemah di atas bangkar rumah sakit.
Seorang dokter sudah berhasil mengeluarkan peluru dari punggung Desi. Lalu menjahit kembali bekas luka tersebut. Namun tiba-tiba kondisi Desi mengalami penurunan. Detak jantung yang dari tadi normal kini juga makin tak stabil.
Kegaduhan di ruang operasi kini sedang terjadi. Kebingungan juga sudah nampak jelas pada masing-masing dokter dan perawat yang saat ini tengah bekerja menyelamatkan nyawa Desi.
*
Sedangkan diluar ruang operasi, Alex tak berhenti menitikkan air mata. Ia sudah memanjatkan doa pada Sang Khaliq agar nyawa istrinya dapat terselamatkan. Ia bahkan tak berpikir dengan bayi yang ada dalam kandungan sang istri. Ia hanya meminta satu doa agar istrinya dapat melewati semua proses operasi dengan baik. Sesekali Alex menghembuskan nafas berat seraya menutup kedua matanya. Namun entah mengapa saat ia menutup mata bayangan sang istri malah muncul sembari melambaikan tangan padanya. "Desi..." Ia memanggil nama istrinya seraya membuka kedua matanya. Firasatnya sudah tak enak. Buru-buru ia berjalan memasuki pintu ruang oprasi yang ada di depannya. Semua keluarganya sudah melihat keheranan apa yang dilakukan oleh Alex namun mereka bahkan tak bisa mencegah Alex untuk masuk ke dalam.
"Kenapa anda bisa masuk kesini Pak?"
Langkah kaki Alex terhenti saat seorang perawat menghentikannya. "Desi... Aku mau melihat istriku." Di raut wajahnya sudah tergambar jelas kekhawatiran yang mendalam.
"Tapi..." Perawat wanita tersebut menggantungkan kalimatnya saat ada seorang perawat laki-laki yang mendekatinya dan membisikkan sesuatu padanya. "Mari ikuti saya," katanya lagi demikian saat perawat laki-laki tadi telah selesai membisikkan sesuatu padanya.
Beberapa saat kemudian Alex sudah berpakaian lengkap. Menggunakan baju tenaga medis lengkap dengan maskernya, karena ia saat ini sedang memasuki ruangan bebas sterilisasi. Ia bisa melihat istrinya yang sedang terbaring di meja operasi dan dikerubungi para dokter dan perawat dari ruangan kaca.
Ia bahkan bisa melihat detak jantung sang istri di layar Elektrokardiograf (EKG) yang sepertinya sudah tak stabil. Tangannya sedang memegang pintu kaca. Air matanya bahkan tak berhenti menetes dari tadi. Ia bisa melihat bagaimana para dokter ingin menyelamatkan istrinya. Namun rasa sesak kembali ia rasakan saat dokter Elena menggelengkan kepalanya pelan padanya. "Tidak..." Alex langsung menerobos masuk ke dalam ruang operasi yang semua dindingnya terbuat dari kaca. Menatap wajah sang istri yang sudah memucat. Ia melihat bergantian antara istri dan pendeteksi detak jantung. Garis lurus nampak jelas disana. Jika tak salah, saat ini nyawa Desi sudah tak bisa tertolong lagi. "Sayang..." Menepuk kedua pipi sang istri dengan pelan. "Jangan begini..." Kembali meneteskan air mata. "Jangan tinggalkan aku. Sayang aku mohon bangun..." Menggoyangkan tubuh Desi, berharap dengan begitu sang istri bisa segera bangun. "Sayang aku mohon bangunlah..."
__ADS_1
Semua dokter dan perawat sudah berusaha dengan baik. Namun sepertinya kondisi Desi yang benar-benar sedang buruk kini harus menghadap kepada Sang Khaliq.
Bersambung