
Desi mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Aku masih di rumah sakit. Batinnya. Sesaat ia menangkap siluet sesosok pria gagah yang berpakaian kemeja putih dan bawahan celana kain berwarna biru sedang membelakanginya, pria tersebut sedang berdiri di dekat jendela. Ia memiringkan tubuhnya ke kiri seraya tersenyum penuh makna. Menaruh tangan kirinya di bawah kepalanya, ia gunakan telapak tangannya sebagai bantal. Memperhatikan pria yang sudah sah menjadi suaminya kurang lebih enam bulan yang lalu itu masih berdiri di dekat jendela ruang perawatannya tanpa melakukan pergerakan sekalipun.
Namun sesaat senyuman di bibirnya memudar ketika semakin ia perhatikan sosok pria tersebut ia semakin curiga akan kejanggalan yang di simpan oleh pria itu. Ia kembali menamatkan menatap pria itu dari belakang. Sesekali pria yang berdiri dengan menaruh kedua tangannya di saku celananya itu tengah menghembuskan nafas panjang. Seperti ada rasa gundah di dalam hatinya. Meski si pria tak mengatakan yang terjadi namun Desi seakan tau apa yang dirasakan Alex.
Alex kembali menghembuskan nafas berat. Kemudian ia berbalik. Melihat sang istri yang sudah membuka matanya membuatnya terkejut. "Kau sudah bangun?" Tanyanya seraya berjalan menghampiri Desi.
Desi tak menjawab pertanyaan dari Alex. Ia mencoba mencari jawaban atas kegelisahan yang ia tangkap sebelum Alex menyadarinya sudah bangun.
"Kenapa diam saja?" Tanya Alex sekali lagi sambil mengusap kepala sang istri lalu duduk di kursi sebelah pembaringan Desi. "Apa ada yang sakit?" Sudah merasa khawatir ketika Desi tak menjawab satu pertanyaannya sekalipun.
"Kau tidak pergi ke kantor? Apa disana tidak membutuhkanmu?" Tanya Desi balik sambil mencari jawaban atas diamnya Alex selama tadi berdiri di dekat jendela.
"Kenapa aku harus ke kantor jika kau sedang sakit. Urusan kantor sudah aku serahkan pada Maya. Jadi kau tenang saja."
"Kau baik-baik saja?" Tanya Desi yang makin merasa ada kejanggalan dari suaminya.
Alex tertawa keras. Ia bingung dengan sikap Desi yang menanyakan akan keadaannya. "Kau yang sakit kenapa kau malah menanyakan keadaan ku?"
"Karena kau terlihat tidak baik-baik saja."
Jawaban Desi membuat Alex diam seribu bahasa. Ia tak menyangka jika Desi bisa membaca kegelisahannya. Sesaat ia tersenyum mencoba mengalihkan segala pernyataan yang Desi berikan. Mengusap pipi Desi dengan lembut. "Sayang... Aku baik-baik saja. Kantor sudah di handle langsung oleh Maya. Semuanya..."
"Jika bukan masalah kantor. Berarti ada masalah di rumah?" Tanya Desi yang memotong perkataan Alex. Membuat Alex kembali diam tak menjawab pertanyaan dari sang istri. "Ada masalah di rumah?" Tanya Desi sekali lagi saat Alex tak kunjung menjawab pertanyaannya. "Katakan padaku apa ada masalah di rumah?"
Tebakan Desi membuat Alex tak bisa berkata apa-apa lagi. "Sayang aku...
"Selamat pagi..." Dokter Elena masuk bersama dua perawat perempuan di belakangnya. Membuat Alex dan Desi langsung menghadap ke arahnya.
__ADS_1
Mungkin kali ini Alex terselamatkan akan pertanyaan Desi saat ada dokter Elena datang untuk melakukan pemeriksaan pada sang istri.
*
Di waktu yang sama di rumah Alex Candra Wijaya...
Bu Dina, Adi dan Rafi sedang berdiri di hadapan semua pekerja di rumah Alex. Memberikan peringatan pada pekerja yang terdiri dari sepuluh asisten rumah tangga wanita dan tiga puluh pengawal laki-laki. Bu Dina sebagai kepala asisten rumah tangga mendapat perintah dari Alex untuk memberi peringatan pada semua pekerja agar menutup mulut atas kejadian semalam atau kalau tidak maka mereka akan kehilangan pekerjaan mereka.
Alex memberikan peringatan ini bukanlah tanpa alasan. Dia hanya ingin Desi tak mengetahui akan pertengkarannya dengan Sandra semalam. Saat ini ia hanya akan fokus pada kesehatan Desi. Sebagai calon ayah yang baik ia ingin Desi dan janin yang tengah di kandung istrinya dalam keadaan baik-baik saja.
"Kalian mengerti?" Tanya Bu Dina pada semua pekerja setelah ia menyampaikan apa yang di katakan oleh majikannya tadi pagi lewat via telepon.
"Mengerti Bu Dina," jawab semua pekerja seraya menundukkan kepala. Mereka sangat mencintai pekerjaan ini. Gaji yang di tawarkan oleh majikan mereka yakni Alex benar-benar membuat mereka tergiur saat memasuki rumah ini pertama kali. Namun dengan satu syarat mereka harus mematuhi aturan yang dibuat oleh pemilik rumah tanpa harus melanggarnya. Mereka tidak mau sampai di pecat gara-gara keceplosan akibat mulut mereka masing-masing.
"Baiklah. Sekarang kalian kembalilah bekerja," perintah Bu Dina pada semua pekerja. Dan semua pekerja menurut dengan apa yang dikatakan oleh Bu Dina. Mereka berjalan ke tempat mereka biasa bekerja. "Bagaimana keadaan nona Desi?" Tanyanya pada dua orang kepercayaan majikannya yakni Adi dan Rafi.
"Bagaimana keadaan nyonya? Apa beliau baik-baik saja?" Kini Adi yang bertanya. Ia adalah salah satu dari semua pekerja yang menyaksikan akan pertengkaran antara dua orang yang sangat ia hormati tadi malam.
Bu Dina menggelengkan kepalanya pelan sambil menghembuskan nafas berat. "Dari tadi pagi nyonya tidak mau makan. Sampai saat ini beliau masih berada di dalam kamarnya," jelas Bu Dina yang memang sangat mengkhawatirkan keadaan majikan tertuanya.
"Lalu bagaimana dengan nona Sandra?" Tanya Adi lagi.
"Tadi malam aku langsung menelfon keluarga tuan muda Farel. Aku meminta pada mereka untuk membawa nona Sandra ke rumahnya."
"Lalu apa tuan muda Alex tau mengenai hal ini?" Tanya Rafi.
Bu Dina kembali menggelengkan kepalanya pelan. "Aku hanya ingin nona Sandra baik-baik saja dengan berada di rumah tuan muda Farel. Aku hanya tidak ingin nyonya semakin cemas akan kejadian semalam."
__ADS_1
Disaat ketiga orang kepercayaan Alex tengah dirundung kesedihan kini perhatian mereka dialihkan oleh ponsel Adi yang berbunyi.
"Tuan muda Alex menelfon," kata Adi seraya menggeser icon berwarna hijau untuk mengangkat telepon dari atasannya. "Iya tuan..."
"Kau sudah melaksanakan apa yang ku perintahkan?" Tanya pemilik rumah di seberang sana.
"Sudah tuan."
"Bagaimana keadaan Mama?"
"Nyonya..." Adi menggantungkan kalimatnya saat ia tak mempunyai jawaban atas pertanyaan dari atasannya. Sedangkan Bu Dina dan Rafi hanya saling menatap satu sama lain.
"Sudahlah... Bilang pada Mama jika sore ini Desi akan pulang ke rumah. Kau mengerti!"
"Mengerti tuan. Akan saya sampaikan," jawab Adi lalu sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa? Apa yang dikatakan oleh tuan muda Alex?" Tanya Bu Dina yang penasaran akan sambungan telepon barusan.
"Tuan muda bilang kalau nona Desi akan pulang sore ini. Tuan muda juga bilang kalau pesan ini harus di sampaikan ke nyonya besar," kata Adi.
Bu Dina hanya bisa menghela nafas berat saat ia harus menyampaikan pesan dari tuan muda rumah ini.
Beberapa saat kemudian Bu Dina terlihat berjalan ke arah kamar nyonya besar yang terletak di lantai satu. Sesaat ia menghela nafas panjang saat ia sudah berdiri di depan pintu nyonya besar. Perlahan ia mengetuk pintu. "Nyonya... Ini saya..." Bu Dina menunggu sejenak namun tak ada sahutan dari dalam. Terpaksa ia membuka perlahan pintu kamar nyonya besarnya. Pandangannya langsung mengarah di tempat tidur. Ia melihat sang nyonya besar sedang duduk di tempat tidur. Dirinya melangkah perlahan menghampiri majikannya. "Nyonya ada pesan dari tuan muda," menunggu beberapa saat jawaban dari majikannya namun sepertinya majikannya tak memberikan respon sedikitpun. "Tuan muda bilang kalau sore ini nona Desi pulang dari rumah sakit," lanjutnya lagi.
Perlahan Marisa melihat ke arah kepala asisten rumah tangganya. Mata sembab sudah terlihat jelas di kedua matanya. "Siapkan saja semuanya," Marisa menjeda kalimatnya sebentar. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Jangan sampai Desi tau kalau Sandra yang telah mencelakainya."
Bersambung
__ADS_1