Kisah Cinta Alex Dan Desi

Kisah Cinta Alex Dan Desi
Tiga Pria


__ADS_3

"Bisakah kau pelan-pelan?" Nada suara Alex sudah setengah berteriak saat dokter Roni mengobati luka di tangannya.


Dokter Roni hanya bisa menghela nafas berat saat teriakan Alex yang sudah beberapa kali melengking di telinganya. Saat ini ia sedang mengobati luka di tangan Alex akibat pecahan pintu kaca mobil. Sepertinya rasa sakit yang Alex rasakan, akibat dokter Roni yang mencabut satu persatu pecahan beling yang masih menempel di kulit tangan Alex.


Sedangkan Farel hanya bisa menahan tawa saat berkali-kali melihat perseteruan dua pria di depannya. Mungkin yang di maksud bukanlah perseteruan namun kemarahan Alex saat menahan rasa sakit ketika teman kuliahnya yakni dokter Roni sedang mengobati luka saudara sepupu laki-lakinya. Karena yang ia tangkap dari tadi adalah Alex lah yang memarahi dokter Roni sedangkan dokter Roni hanya bisa menghela nafas pasrah. Tadi ia membawa Alex ke rumah sakit milik ayahnya agar Alex bisa menerima pengobatan akibat luka di tangannya.


"Pelan sedikit!" Teriakan Alex kembali menggema di setiap sudut ruangan dokter Roni.


"Sudah cukup!" Dokter Roni sudah kehilangan kesabaran saat Alex kembali meneriakinya. Alat kedokteran yang tadi ia pegang untuk mengeluarkan pecahan kaca di tangan Alex sudah ia lemparkan ke lantai. Kekesalannya bukanlah tanpa sebab. Dari tadi ia sudah mencoba untuk bersabar karena ia tau akan berhadapan dengan siapa. Menurutnya teman kuliahnya Farel sudah cukup merepotkan. Namun kini ia harus kembali dihadapkan dengan saudara sepupu Farel yang dulu pernah mengancam untuk membunuhnya jika dulu ia tak berhasil mengantarkan Alex pada Farel.


Alex dan Farel hanya menatap dokter Roni yang sudah berdiri dan membanting alat kedokteran tanpa mengedipkan mata.


"Kenapa dari tadi kau selalu marah-marah tak jelas?" Tanya dokter Roni sambil menunjuk Alex dengan jari telunjuknya. "Aku sedang berusaha mengobati lukamu. Tapi kau sama sekali tak bisa bersabar sedikitpun. Kau bahkan..."


"Roni..." Farel mencoba membuat temannya untuk tenang.


"Apa?" Kini bentakan dokter Roni bahkan tertuju pada Farel. "Kau tidak terima?" tanyanya dengan matanya yang sudah melotot. "Apa kau mau mengeluarkanku dari rumah sakit ini?" tanyanya sekali lagi. "Aku bahkan tidak takut dengan ancamanmu itu," tutur dokter Roni. Pasalnya ia memang sudah kehilangan kesabaran sedari tadi. "Kau tidak usah ikut campur. Karena ini bukan urusanmu!" Kembali berbicara dengan nada tinggi di hadapan Farel. Ia memang harus menyelesaikan persoalan ini. Atau kalau tidak ia selalu akan dibantai oleh dua pria yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya. "Dan kau!" Sudah kembali mengarahkan pandangannya ke arah Alex. "Kenapa kau hanya menampilkan sifat mu yang arogan hah? Kenapa kau tidak menunjukkan sifat mu yang lembut disaat istrimu sedang sekarat beberapa bulan yang lalu?"

__ADS_1


"Kau..." Alex sudah berdiri dan menunjuk dokter Roni ketika ia harus di ingatkan dengan peristiwa beberapa bulan yang lalu saat alergi yang di derita sang istri benar-benar harus kembali dalam ingatannya.


"Apa? Kau mau marah?" Teriak dokter Roni lagi yang membuat Alex kembali duduk di sofa yang dari tadi ia duduki. "Kalian tau. Kalian berdua sama saja!" Nafas dokter Roni sampai ngos-ngosan saat ia harus meluruskan segala penat yang ada di dadanya beberapa tahun terakhir ini. Jika dulu ia dibuat geram dengan tingkah laku teman kuliahnya, Farel. Dan kini ia harus dihadapkan dengan tingkah laku yang tak masuk akal dengan saudara sepupu Farel yakni Alex.


Dengan nafas yang masih naik turun dokter Roni berkacak pinggang sambil tak berhenti melirik satu persatu pria yang masih menatapnya sedari tadi. Tidak biasanya ia mengeluarkan emosi seperti ini. Di rumah sakit, ia bahkan terkenal sebagai dokter yang ramah jika menangani pasien. Saking keramahannya tak sedikit pasien yang menyukainya. Bahkan dokter Roni juga dikenal sebagai dokter yang selalu menggunakan kekonyolannya di saat ia berkumpul dengan dokter-dokter lainnya. Namun entah mengapa kesabarannya kali ini sepertinya habis jika ia harus di pertemukan dengan dua manusia yang selalu menyudutkannya.


*


"Hah..." Dokter Roni menghembuskan nafas berat seraya menaruh gelas kaca dengan menghentakkannya di meja. Dan bunyi hentakkan dari gelas tersebut berhasil membuat Alex dan Farel sedikit terkejut.


Kini ketiganya sedang berada di kantin rumah sakit Herlambang Wijaya. Setelah mendengar semua omelan dari dokter Roni tadi, Alex dan Farel sudah sepakat untuk menyeret pria yang sudah berprofesi sebagai dokter saraf di rumah sakit milik ayah Farel selama lebih dari lima belas tahun lamanya.


"Kau ada masalah?" Farel mencoba bertanya ketika ia melihat teman satu kampusnya dulu sepertinya sudah bisa tenang.


"Ya benar. Aku ada masalah yang sangat besar," jawab dokter Roni sambil sesekali melemparkan tatapan tajamnya pada dua pria yang duduk di antaranya.


"Benar kan yang aku bilang. Dia pasti ada masalah," kata Farel seraya melihat ke arah Alex.

__ADS_1


"Benar sekali. Itu sebabnya dia memarahi kita," kata Alex menimpali. Keduanya tadi sudah menebak-nebak bahwa kemarahan dokter Roni memang di sebabkan karena sang dokter mempunyai masalah pribadi. "Kau bisa ceritakan pada kami," kini Alex berbicara layaknya saudara. "Kami pasti akan membantumu."


"Kalian yakin?" tanya dokter Roni memastikan. "Kalian yakin akan membantuku?" tanyanya sekali lagi yang membuat dua pria di sebelah kanan dan sebelah kirinya bersamaan menganggukkan kepalanya. "Aku tidak mau lagi bertemu dengan kalian!" katanya sambil teriak tak jelas. Dan hasil teriakannya berhasil membuat seisi kantin melihat ke arah mereka bertiga. "Kalian berdua adalah sumber masalahku!" Teriaknya lagi seraya berdiri.


Keduanya yang tiba-tiba terkejut dengan pernyataan dokter Roni langsung ikut berdiri dan menutup mulut dokter Roni sambil mencoba mendudukkan kembali sang dokter di kursi yang tadi didudukinya.


"Kenapa Tuhan harus mempertemukan diriku dengan kalian berdua," katanya lagi di sela-sela bungkaman mulutnya.


"Diam!" kata Alex dan Farel yang masih mencoba mengontrol emosi dokter Roni. Keduanya juga terlihat tak enak dengan orang di sekitar kantin yang sedang memperhatikan mereka bertiga.


"Kenapa..." Kata-kata dokter Roni tertahan lagi dengan bungkaman tangan Alex dan Farel.


"Jangan bersikap seperti ini!" Bentak Alex dengan nada geram. "Kau mau di cap sebagai dokter gila di rumah sakit ini? Saat kau bersikap seperti ini?"


Pernyataan Alex berhasil membuat dokter Roni menghentikan pemberontakannya. Dengan nafas ngos-ngosan, ia melihat keadaan sekitar. Semua orang yang berada di kantin memang sedang memperhatikannya. "Apa aku seperti orang gila?"


"Iya. Kau seperti orang gila!" Celetuk Alex dan Farel bersamaan. Mereka berdua duduk setelah melihat dokter Roni yang sudah duduk lebih dulu di kursi. Nafas mereka juga tak kalah ngos-ngosan ketika mereka menahan dokter bodoh di samping mereka.

__ADS_1


Sesaat ketiganya saling menatap satu sama lain ketika semua orang yang masih berada di kantin ada yang masih memperhatikan mereka dan ada pula yang sudah kembali melakukan aktifitas mereka masing-masing. Ketiganya juga masih terlihat susah payah mengontrol nafasnya masing-masing dan ketika itu pula ketiganya tertawa bersama-sama. Adegan saling pukul bahu juga terjadi diantara ketiganya. Dan tanpa mereka sadari pertemanan di antara ketiganya pun tercipta.


Bersambung


__ADS_2