
Desi berdiri di tengah jembatan panjang yang terbuat dari kayu. Ia melihat di kedua sisi jembatan, namun ia tak bisa melihat ujung dari jembatan tersebut. Ia melihat ke bawah jembatan, namun ia juga tak bisa melihat apa yang ada dibawah jembatan tersebut. Ia hanya melihat kabut putih di sekitar dan dibawah jembatan. "Dimana aku..." Tanyanya sendiri. Ia mengelus perutnya. Hal yang sering ia lakukan selama ia hamil. Namun saat ini ia terkejut ketika perutnya sudah rata. "Anakku..." Kembali kebingungan saat ia tak merasakan gerakan dalam perutnya. "Dimana anakku..." Tanyanya lagi. Ia bingung akan berjalan ke arah sisi mana. Ia bahkan tak tau dimana ia saat ini. Namun ia melihat seberkas cahaya dari sisi sebelah kirinya. Ia terdiam sejenak. Namun tanpa berpikir lama ia akhirnya berjalan ke sisi kiri jembatan. Ingin mencari apa yang sedang ia cari. Ia tak ingin kehilangan bayinya saat ini. Namun sesaat langkah kakinya terhenti ketika tangan kanannya sedang ditarik oleh seseorang. Perlahan Desi membalikkan badannya. Ia melihat seorang laki-laki. Laki-laki yang sangat ia cintai. Laki-laki ayah dari bayi yang ia kandung. "Alex..."
Alex tersenyum penuh makna seraya berjalan mendekati Desi. "Kau mau kemana?"
"Aku... Alex... Bayi kita..." Mengelus perutnya yang sudah rata. "Dimana bayi kita?" Sudah menangis.
"Bayi kita ada disana," kata Alex seraya menunjuk ke arah kanan Desi. "Kembalilah padaku. Maka kau pasti bisa bertemu dengan bayi kita."
"Tapi..." Desi menggantungkan kalimatnya. "Disana..." Jari telunjuknya sedang menunjuk ke arah sebelah kiri. "Tadi aku..." Membalikkan badannya kembali saat ia akan menjelaskan tentang apa yang ia lihat tadi. Namun entah kenapa ia tak lagi melihat Alex di sisi kanannya. "Alex..." Teriaknya. "Alex..." Teriaknya lagi dengan suara lantang. Kebingungan kembali menyerangnya saat ia kehilangan laki-laki yang sangat ia cintai. Mengedarkan pandangannya ke seluruh jembatan, namun ia tak bisa menemukan Alex. Ia hanya bisa menangis saat ia kehilangan arah. Namun entah kenapa ia mengingat akan ucapan yang di katakan Alex terakhir kali saat ia harus berjalan ke arah kanan agar bisa bertemu dengan bayi dan suaminya. Sepertinya itu pilihan yang sangat sulit. Di sisi kirinya ada seberkas cahaya yang menantinya sedangkan di sisi kanan ia tak melihat apa-apa disana. Hanya ada kabut putih yang menutupi jalan. Kini keputusan ada di tangannya. Ia tak mau jika ia sampai salah jalan.
*
Alex masih berdiri sambil mendekap sang istri yang sudah tak bernyawa di atas meja operasi. Menangisi betapa tak bergunanya ia sebagai seorang suami. Ia bahkan tak bisa menjaga sang istri dengan baik. "Bangunlah... Aku mohon..." Katanya lirih sambil tak berhenti menyematkan jemarinya di sela-sela jari istrinya.
Semua dokter dan perawat yang masih berada di ruang operasi terdiam sambil menundukkan kepala. Ada juga yang menangis. Mereka sudah berusaha dengan baik namun sepertinya takdir berkata lain. Kini tugas mereka sudah selesai. Setidaknya mereka dapat menyelamatkan salah satu dari pasien.
Kepala Alex masih berada di dada sang istri. Air matanya bahkan tak berhenti jatuh. Dadanya semakin terasa sesak saat ia harus menerima kepergian sang istri secara tiba-tiba. Namun sesaat ia terkesiap saat ada pergerakan di jemari sang istri. Ia mengangkat kepalanya lalu melihat jemarinya yang masih terselip di sela-sela jari sang istri. Berusaha berhenti menangis dan melihat secara seksama pergerakan satu persatu jari-jari tangan Desi. Kedua matanya membulat sempurna saat ia memang melihat kehidupan pada diri sang istri. "Sayang..." Matanya tertuju pada wajah Desi. Ia juga bisa melihat nafas yang kembali pada diri sang istri. "Dokter..." Panggil Alex yang hatinya berdebar lebih cepat saat istrinya bernafas kembali.
__ADS_1
Para dokter dan perawat yang masih berada di ruang operasi segera mendekat pada meja operasi. Benar saja tanda-tanda kehidupan sudah ada pada diri Desi. Layar Elektrokardiograf (EKG) kembali berjalan menandakan jantung Desi kembali berfungsi. Dua perawat sudah kembali memeriksa pengecekan alat vital Desi. Perlahan tapi pasti, semua alat vital Desi kembali berjalan seperti sedia kala. Kesibukan terjadi di ruang operasi tatkala pasien yang tadinya sudah meninggal kini kembali menghembuskan nafasnya kembali ke dunia ini.
Alex merasakan tangannya di genggam erat oleh sang istri. "Sayang..." Katanya lirih sambil tak melepaskan pandangannya dari wajah Desi. Ia masih setia berdiri di samping bangkar sang istri meski para dokter terlihat sibuk mengamati perkembangan istrinya. "Sayang..." Katanya lagi lirih sambil melihat ada pergerakan di kedua kelopak mata sang istri. "Sayang..." Mengelus kepala istrinya. Ia ingin Desi tau bahwa ia tak meninggalkannya meski dalam keadaan apapun. Ia melihat senyum di bibir sang istri ketika Desi tengah menatapnya. "Sayang... Alhamdulillah Ya Allah... Terimakasih... Sayang..." Tak henti-hentinya ia mengucapkan rasa syukur pada Tuhan atas rahmat yang diberikan padanya dan sang istri. Kemudian ia mengecup kening istrinya. "Sayang..." Katanya lagi. Kini mereka bersitatap.
Sementara para dokter dan beberapa perawat terlihat sudah mundur beberapa langkah saat mereka sudah mengecek kondisi Desi yang saat ini sudah stabil.
Desi membuka mulutnya. Ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa? Kau mau sesuatu?" Tanya Alex yang sepertinya sudah tau kalau sang istri akan mengatakan sesuatu. Tak henti-hentinya ia mengelus kepala sang istri.
"Ba- bayiku..." Katanya terbata-bata seraya mengelus perutnya yang rata. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Namun seingatnya baru saja ia telah melakukan perjalanan yang sangat panjang. Ia memilih jalan yang ditunjuk oleh Alex daripada jalan yang ada seberkas cahaya tadi. Ia percaya bahwa Alex tak akan pernah berbohong. Dan kini ia mempertanyakan dimana bayinya saat ini berada.
*
Tak lama kemudian seorang perawat wanita tengah mendorong inkubator ke dalam ruang operasi. Mendekatkan inkubator tersebut di samping bangkar Desi. Sedangkan Alex dan Desi tengah menatap sang buah hati seraya meneteskan air mata.
"Selamat Pak Alex, nona Desi bayi kalian perempuan," kata dokter Elena yang saat ini berdiri di sebelah inkubator. "Bayi anda lahir prematur. Karena usianya dalam kandungan masih dua puluh sembilan minggu jadi kami pihak rumah sakit menempatkannya dalam inkubator," jelas dokter Elena.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan kondisinya?" Tanya Desi yang memegang kaca inkubator.
"Alhamdulillah bayi anda dalam kondisi baik. Namun karena bayi anda memang terlahir prematur jadi bayi anda harus berada di ruang NICU atau neonatal intensive care unit yang merupakan tempat khusus untuk merawat bayi baru lahir yang membutuhkan pengawasan ketat oleh tenaga medis," jelas dokter Elena lagi.
"Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya dari putrinya.
"Tentu saja. Kami akan merawatnya dengan baik."
Tangis haru terlihat di wajah Alex dan Desi. Mereka sangat bersyukur bahwa bayi mereka baik-baik saja. Sepertinya tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi saat ini.
Terimakasih Ya Allah...
Kau mempercayakan lagi Desi padaku.
Aku berjanji akan menjaga istri dan putriku selama aku masih hidup.
Batin Alex yang kini tengah memandang wajah Desi yang masih terbaring di atas meja operasi. Menatap bergantian antara sang istri dan bayinya.
__ADS_1
Bersambung