
Pagi hari yang dingin. Di luar cuaca sama sekali tak menampakkan cahaya sinar matahari. Kabut mendung menyelimuti langit pagi ini. Saat ini gerimis juga membasahi tanah yang lama tak mendapatkan air dari sang pencipta. Jika orang lain yang tak mempunyai pekerjaan sedang bermalas-malasan dan bisa saja mereka menarik selimut kembali untuk tidur, namun tidak dengan Desi. Hampir semalaman ia tak menaruh kepalanya di bantal lantaran file yang ia kerjakan harus selesai pagi ini.
Setelah mandi tadi, Desi merapikan lagi meja di kamarnya yang sudah ia gunakan untuk melakukan pekerjaan. Tinggal satu langkah lagi, ia harus mencetak file yang sudah ia kerjakan semalaman. Desi berjalan mendekati jendela kamarnya. Membuka tirai yang masih tertutup rapat. Di luar masih nampak gerimis yang semakin deras. Setelah agak lama menatap jatuhnya air hujan, Desi kembali melangkah ke arah laptopnya. Mencabut flashdisk yang sudah berisi semua berkas laporan akhir bulan perusahaan Wijaya Group.
Sebelum keluar kamar, ia melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Biasanya ia akan berangkat dari rumah pukul setengah delapan pagi, namun sepertinya ia akan berangkat lebih pagi hari ini. Desi mengambil tas kesayangannya yang terbuat dari bahan kulit. Shoulder bag berwarna merah maroon itu adalah tas yang biasa ia bawa kerja. Tas yang berukuran agak besar itu memang sangat di sukai Desi karena ia bisa membawa apa saja yang ia butuhkan.
Desi keluar kamar dan berjalan menuruni tangga. Di bawah ia bisa melihat Bu Dina, kepala asisten rumah tangga keluarga Alex yang sedang meneliti para pekerja di rumah ini. "Bu Dina..." Panggil Desi seraya berjalan ke arah Bu Dina.
"Iya nona..." Bu Dina sudah berbalik menghadap ke arah Desi, ia sudah membungkukkan badan pada istri dari majikannya. "Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bu Dina kemudian.
__ADS_1
"Apakah di rumah ini mempunyai mesin printer?" Tanya Desi yang memang akan menyalin semua file yang ia kerjakan tadi malam menjadi lembaran berkas.
"Mesin printer ada di ruang kerja tuan muda Alex, nona. Jika anda mau, saya bisa membantu anda." Kata Bu Dina yang menawarkan diri untuk membantu Desi.
"Tidak usah..." Jawab Desi seraya menggelengkan kepalanya cepat. "Saya bisa sendiri," kata Desi lagi. Lalu dirinya berjalan ke arah ruang kerja suaminya. Ia membuka pintu ruang kerja Alex. Memasukkan dulu kepalanya. Meneliti kalau memang tidak ada orang disana. Perlahan ia masuk kedalam dan menutup pintu kembali. Ia berjalan ke arah meja kerja Alex.
Sudah dua hari tiga malam Alex tak ada disini. Namun ruang kerja suaminya tak nampak kotor sekalipun. Ia duduk di kursi kerja Alex. Menghidupkan laptop milik suaminya lalu memasukkan flashdisk miliknya. Memasukkan beberapa kertas kosong pada mesin printer. Ia akan mengcopy file apa saja yang akan ia cetak.
Sembari menunggu file yang ia cetak, Desi menyandarkan kepalanya di bantalan kursi kerja Alex. Ia kembali mengingat lagi akan kata-kata Alika kemarin sore saat ia masih berada di perusahaan Wijaya Group. Sesaat Desi menghela nafas berat. Sudah dua hari ini ia mencoba menghubungi Alex namun sampai saat ini ponsel laki-laki yang sudah mengisi hatinya masih tidak aktif. Entah karena lelah atau sedang mengantuk karena semalaman ia tak bisa tidur kini Desi memejamkan kedua matanya. Ia duduk sambil tertidur pulas di meja kerja Alex.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian Desi terkejut dengan bunyi mesin printer yang selesai mengcopy semua file nya. Desi menghembuskan nafas pelan. Ia memijat keningnya. Ia tertidur, sampai-sampai saat ini kepalanya sedikit pusing lantaran harus tidur selama lima belas menit.
Hampir lima menit ia terdiam sambil tak henti-hentinya memijat keningnya. Lalu ia berdiri dan mengambil semua file yang sudah selesai di print. Mengecek satu persatu berkas yang ia cetak tadi. Sambil sesekali menajamkan kedua matanya. Semuanya benar. Kini ia harus menyatukan semua file menggunakan stapler. Ia mencari di atas meja kerja Alex namun ia tak bisa menemukannya. Ia taruh semua kertas yang tadi ia cetak di atas meja. Lalu ia mulai mencari stapler di semua laci meja kerja Alex.
Ada beberapa laci, Desi mencoba membuka laci satu persatu namun tak ketemu. Lalu ia membuka laci terakhir di sebelah kanan kursi kerja Alex. Ketemu. Disana Desi menemukan stapler beserta isinya. Desi mengambil alat untuk menyatukan sejumlah kertas disana. Segera ia gunakan alat tersebut. Selesai menggunakannya lalu Desi mengembalikan alat tersebut di laci tadi.
Perhatian Desi kini tertuju pada sebuah amplop dimana tadi ia menemukan stapler. Entah kenapa rasanya ia ingin membuka amplop berwarna putih tersebut. Ia melirik foto yang tadi ia pegang di atas meja kerja Alex. "Maaf... Aku hanya ingin tau isinya..." Katanya lirih. Layaknya seperti meminta ijin pada foto yang menampakkan foto suaminya. Lalu dengan segera ia mengambil amplop tersebut dan langsung membukanya.
Sesaat Desi membeku di tempatnya berdiri saat melihat isi dari amplop putih tersebut. Sebuah foto. (Reader... Kalian masih ingat dengan amplop ini? Ini adalah amplop yang di berikan Marisa, ibu dari Alex. Amplop yang dulu berisi foto wanita yang akan di jodohkan dengan Alex. Wanita yang sangat Marisa kenal. Bahkan ibu dari wanita ini adalah teman dari Marisa. Jika kalian lupa, baca lagi novel pertamaku Alika Bidadari Surgaku di bab 137).
__ADS_1
Desi masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Di amplop putih tersebut. Terpampang jelas ada foto Maya di dalamnya. "Kenapa foto Maya ada disini?" Tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Seketika kedua matanya sudah berkaca-kaca. Kini ia tau betul kenapa Alex tidak meminta ijin padanya saat pergi ke Amerika. Dan ia pasti tau betul kenapa ponsel Alex tidak aktif selama dua hari ini. Ia juga pasti tau betul apa yang dilakukan Alex dan Maya disana. Sekelebat pikiran negatif langsung berada di otaknya. Entah ini berita baik atau buruk. Namun seharusnya Desi tidak harus memperdulikan hidup pribadi laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya kurang lebih tiga bulan ini. Ia terisak hingga menangis sesegukan. Desi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Agar suara tangisnya tak sampai terdengar keluar. Ia terduduk di kursi kerja Alex. Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.
Bersambung