
Setelah menyelesaikan satu hari hukuman yang cukup berat dan melelahkan. Rania kembali ke kelas untuk mengambil tas dan peralatan sekolah lainnya lalu pulang.
Sesampainya di kelas, ruangan itu begitu sepi nan sunyi tak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Tentu saja hanya dirinya karena semua teman sekelasnya sudah pulang sekolah karena memang ini sudah waktunya untuk pulang.
Melihat suasana kelas yang begitu sunyi nan damai, Rania tiba-tiba memutuskan tinggal di kelas untuk beberapa waktu sembari menikmati damainya suasana di dalam kelas.
Entah karena terlalu lelah atau karena tubuhnya sudah tak sanggup lagi untuk bergerak, tanpa sadar dirinya terlelap tertidur di atas meja dengan salah satu tangannya dijadikan sebagai bantal.
Di dalam tidur lelapnya, Rania kemudian bermimpi dirinya berada di sebuah ruangan gelap nan kosong, ruangan itu begitu gelap pekat bahkan untuk melihat tangannya saja ia tak bisa, beberapa kali dirinya berteriak sembari sesekali memanggil nama-nama yang ia kenal, tetapi tak ada satu pun dari mereka yang menyahut.
Kendati begitu, Rania tak langsung menyerah begitu saja dan memutuskan terus berjalan ke depan, berharap di depan ada jalan keluar. Setelah cukup lama berjalan, Rania akhirnya menemukan secercah harapan, karena tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat setitik cahaya yang cukup terang. Tanpa membuang waktu lagi, Rania segera berlari menghampiri cahaya itu, mengira bahwa itu adalah jalan keluar. Akan tetapi senyumnya luntur ketika mengetahui cahaya itu bukanlah jalan keluar melainkan sebuah bola api yang melayang.
Meski terlihat aneh dan mencurigakan, Rania memutuskan untuk menyentuh api biru itu, namun tiba-tiba dia meringis kesakitan sembari mundur beberapa langkah ketika api biru itu mencoba menyerangnya seakan tak menyukai keberadaannya dan hampir membakar seluruh tubuhnya.
' Aneh, padahal ini hanya mimpi tapi kenapa rasanya begitu nyata? ' Batin Rania sembari menatap telapak tangannya yang sedikit melepuh karena terkena api biru itu.
" Siapa kamu? Dimana tuanku? "
Seluruh tubuh Rania membatu sejenak saat api itu berbicara padanya. " Ka-kamu bisa bicara? " Tanyanya gagap.
Api biru itu tidak menjawab pertanyaan Rania dan kembali bertanya. " Katakan dimana tuan ku? Kenapa kamu ada di sini? "
__ADS_1
" Maaf, tapi aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan. " Jelas Rania.
Tiba-tiba api biru itu menjelma menjadi seorang wanita cantik, dengan sepasang mata yang sipit bulat, bibirnya tipis, warna kulitnya begitu putih nan mulus, ada beberapa aksesoris di kepalanya yang membuatnya terlihat menawan dan elegan apalagi gaun biru panjang yang dikenakannya membuatnya terlihat semakin menawan.
Entah kenapa melihat wanita di depannya mengingatkannya pada Kuro, Robert dan Laura. Apa wanita itu juga sama seperti Kuro dan lainnya?
Saat akan bertanya, wanita itu langsung menyerang Rania dengan mencekik lehernya dengan cukup erat, tetapi tak lama kemudian tubuh wanita itu di buat terbang cukup jauh.
Rania pun terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang terasa begitu sakit.
Sementara itu, Wanita itu terlihat begitu terkejut sembari menatap telapak tangannya yang hampir melepuh, dirinya ingat betul pelindung api itu tak lain dan tak bukan adalah milik tuannya, tetapi kenapa perempuan itu memilikinya?.
" Katakan, siapa kamu sebenarnya? " Tanya wanita itu
" Kenapa diam! Jawab! "
" A-aku. . .
" Rania! Bangun! "
Tiba-tiba Rania terbangun dengan keringat membasahi hampir seluruh tubuhnya dengan nafas yang tersengal-sengal, kepalanya menoleh dan mendapati Kuro yang terduduk disampingnya dengan tatapan yang menatapnya cemas.
__ADS_1
" Kenapa? Wajahmu terlihat pucat, apa kamu baru saja bermimpi buruk? " Tanya Kuro
Rania tak langsung menjawab, ia terlebih dahulu meminta air karena tenggorokannya terasa sangat kering. Setelah meneguk satu botol air minum, Rania bertanya pada Kuro alasannya datang ke sekolah.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Kuro langsung mengulurkan tangan berbulunya lalu menunjuk ke arah luar.
Spontan, Rania pun mengikuti arah tangan itu menunjuk. Di detik berikutnya tubuhnya tertegun saat menyadari bahwa hari sudah gelap tanpa di sadari ternyata dirinya sudah tidur cukup lama.
" Awalnya ku pikir kamu sudah berangkat bekerja, tapi setelah menerima telpon dari teman kerja mu aku pun langsung mencari mu kemana-mana, tapi sayangnya aku tidak menemukanmu, aku bahkan sempat mengira bahwa kamu di culik, tetapi aku tiba-tiba terpikir bahwa kamu masih di sekolah jadi aku memutuskkan menuju kemari untuk mencari mu. Tapi siapa sangka ternyata kamu benar-benar ada di sini. " Jelas Kuro panjang lebar.
Rania pun langsung menenggelamkan wajahnya ke kedua tangannya, merasa malu dengan dirinya. Bisa-bisanya dirinya tertidur tanpa sadar waktu.
" Maaf sudah merepotkan mu, sepertinya aku sangat kelelahan jadi tidak sadar tertidur pulas. "Ungkapnya menyesal.
" Memangnya apa yang kamu lakukan hingga membuat tubuhmu kelelahan seperti ini? "
" Itu karena aku harus menjalani hukuman dari kepala sekolah, jangan tanya alasan kenapa aku di hukum karena ceritanya akan sangat panjang. "
" Terserah padamu, kalau begitu ayo kita pulang, karena Hedrian sedang menunggu kita di rumah. "
Rania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
" Oh iya Kuro sebenarnya tadi aku. . .
Prank!! Tiba-tiba terdengar sebuah kaca pecah tak jauh dari tempat mereka.