Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
95


__ADS_3

Kuro terdiam sejenak menatap sosok Bruno yang begitu besar nan tinggi menjulang hingga menyentuh langit-langit, sosoknya yang sudah tak sama seperti sebelumnya membuat kedua sudut bibirnya terangkat ke atas karena membunuhnya tidak melanggar aturan mana pun karena dia sudah tidak termasuk golongan manusia atau makhluk manapun


" Apanya yang lucu? " Tanya Bruno yang merasa tak nyaman dengan senyuman Kuro.


Kuro mendongakkan kepalanya dan berkata bahwa tak ada yang lebih lucu di dunia ini selain pria hijau aneh di depannya membuatnya berpikir untuk memberikannya pada seekor kambing milik seorang tetangga, ia yakin kambing itu pasti akan menyukainya.


Mendengar hal tersebut Bruno menjadi sangat murka lalu memukul sebuah tiang bangunan hingga hancur berkeping-keping, perlahan atap bangunan itu pun perlahan runtuh dan hampir mengubur tubuh Kuro.


Bukannya merasa takut, Kuro malah semakin bersemangat entah kenapa ia merasa bahwa belenggu di tangannya telah lepas begitu saja. Akan tetapi kegembiraan itu tak berlangsung lama ketika menyadari bahwa Bruno terlihat kesulitan mengendalikan kekuatan barunya itu dan tampak perlahan kehilangan kesadarannya membuat serangan pria itu semakin agresif dan lebih cepat dari sebelumnya seakan-akan dia adalah pria yang berbeda


Di saat Kuro tengah fokus melawan Bruno yang sudah menggila, tiba-tiba fokusnya teralihkan oleh sebuah teriakan yang diyakini bahwa pemilik suara tersebut adalah milik Rania. Spontan, Kuro pun bergegas menghampiri sumber suara tersebut, namun tampaknya Bruno tak ingin melepaskannya begitu saja sebelum salah satu dari mereka mati.


Kedua bola mata Kuro mendelik tajam ke arah Bruno lalu mengayunkan pedangnya dengan cukup kuat. Akan tetapi di detik berikutnya seluruh tubuhnya membeku, ketika pedang kebanggaan miliknya yang telah menemaninya ratusan tahun dan telah memenangkan ratusan pertempuran telah di patahkan oleh Bruno begitu saja dan begitu mudahnya.

__ADS_1


Dunianya seakan hancur seketika, kedua tangannya gemetar hebat memegang gagang pedangnya sembari menatap bilah pedang yang hanya tinggal setengah itu dengan tatapan tak percaya.


" Tidak. Bagaimana bisa? Tidak Mungkin? Pedang kebanggaan ku patah? "


Seakan tak ingin memberi waktu Kuro untuk berduka akan patahnya bilah pedang kesayangannya, Bruno kembali melayangkan pukulannya pada Kuro hingga membuat tubuhnya terpental menembus beberapa tembok dan mendarat di tembok ruangan lain, dimana Rania berada.


Dari dalam mulutnya, Kuro memuntahkan banyak darah lalu jatuh pingsan.


Rania menangis histeris melihat penampilan Kuro yang terlihat begitu berantakan, tanpa sadar bibirnya terus mengucapkan kata maaf, padahal sejujurnya ia tak tahu akan kesalahan yang telah diperbuatnya dan juga dirinya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, terakhir ingatannya jika tidak salah seharusnya ia berada di rumah dan bukan di tempat dimana orang yang ia anggap sebagai temannya baiknya berusaha membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri dan yang tak ia mengerti kenapa pria pengemis itu juga berada di sini dan membantunya, bahkan dia rela menahan serangan Mia yang ingin menusuknya dengan mengorbankan tubuhnya sendiri sehingga benda tajam yang seharusnya berada ditubuhnya malah berakhir di tubuh pria pengemis itu.


Meski lika tusukan itu tak cukup dalam, tapi entah kenapa Rania hatinya terasa seperti di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum.


Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Dan kenapa ingatannya menjadi tumpang tindih seperti ini? Semua ingatan miliknya seperti kaset yang sudah rusak, bahkan dirinya kesulitan membedakan mana masa lalu dan masa sekarang, rasanya kepalanya ingin meledak saat itu juga.

__ADS_1


Namun, semua rasa itu hilang ketika orang yang paling berharga baginya tergeletak tak berdaya di pangkuannya dengan luka yang cukup berat.


" Kuro! Bangun! " Teriak Rania kembali sambil mengguncang tubuh Kuro dengan cukup kuat hingga di detik berikutnya pria itu membuka kedua matanya secara perlahan.


Kuro terdiam sejenak, menatap kedua bola mata Rania yang sudah sangat ia rindukan, " kamu sudah kembali? Apa kamu masih mengingatku? "


" Tentu saja, mana bisa aku melupakan mu. "


" Baguslah, aku sangat senang mendengarnya. " Ungkapnya sambil tersenyum.


Rania hanya terdiam kebingungan, merasa ada yang aneh dengan pertanyaan pria di pangkuannya hingga teriakan Mia menyadarkannya.


" Bruno! Bunuh mereka semua, kecuali gadis itu. "

__ADS_1


__ADS_2