Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
35


__ADS_3

Karena pertemuannya dengan Argolo kemarin membuat Hedrian tak bisa tidur sama sekali, karena harus memilih antara memberikan Rania pada pria itu dan sisa pengikutnya akan selamat atau menjadi anjing rumahan selamanya dan membiarkan sisa pengikutnya mati di tangan Argolo seperti ucapannya yang bersumpah akan membunuh pengikutnya satu persatu dan mengirim jasad mereka padanya dalam keadaan tidak utuh. Argolo juga mengatakan bahwa cara kematian mereka akan sangat mengerikan dari pada kematian mereka yang sebenarnya.


Hedrian tahu betul, pria itu tak pernah main-main dengan perkataannya, sebab dirinya pernah di siksa oleh pria itu karena tidak menuruti perkataannya.


Tampaknya dirinya terlalu bersantai karena fasilitas yang di dapatkannya membuatnya lupa akan daratan yang sesungguhnya.


" Hey ada apa dengan mu? Apa kamu sakit? "


Pertanyaan Rania menyadarkan Hedrian dari lamunannya, kepalanya menoleh, " kenapa? "


" Tidak biasanya kamu mengabaikan makanan seperti ini, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu? " Tanya Rania kembali yang merasa cemas dengan sikap Hedrian yang tidak biasanya. "


Hedrian terdiam tak langsung menjawab, kepalanya menunduk menatap semangkuk sereal premium di depannya, entah kenapa selera makannya jdi hilang, memikirkan apa yang sedang Argolo pada pengikutnya sekaligus berharap bahwa pria itu tak akan melakukan apapun sebelum didinya memberikan jawaban pasti.


" Hey? Apa kamu baik-baik saja? " Tanya Rania kembali.


" A. . .


" Aku yakin dia sedang memikirkan anjing betina yang sering melintas di depan rumah, Aku tahu kamu selalu menatapnya seakan-akan kamu ingi memakannya saat itu juga bukan? " Timpal Kuro tiba-tiba dengan wajah meledeknya.


Kedua mata Hedrian mendelik tajam, tak terima dengan perkataan Kuro yang tidak benar itu, dirinya memang sedikit tertarik pada anjing betina itu hanya saja itu bukan untuknya melainkan untuk salah satu bawahan setianya, Rio. Karena dia pernah berkata, jika suatu hari merek sudah bebas, dia ingin memiliki keluarga, jadi dirinya memutuskan untuk mencarikan calon untuk Rio. " Jika iya memangnya kenapa? Setidaknya aku bukanlah tipe seorang pria yang suka mempermainkan perasaan dua wanita dalam satu waktu. " Balasnya sambil menatap Kuro.


Kuro yang menyadari arti tatapan Hedrian padanya membalas dengan tatapan tajam, " Kenapa kamu melihat ke arah ku? Apa kamu berusaha menyinggung ku? "


Hedrian terkekeh, " kenapa memangnya? Ini kan mata ku, jadi aku berhak melihat kemanapun yang aku mau. "

__ADS_1


Seketika tatapan mata Kuro semakin menajam, tanpa aba-aba ia langsung menerjang Hedrian dengan cakarnya. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain.


Rania yang hendak berangkat sekolah pun menjadi bingung antara memisahkan mereka atau berangkat sekolah karena dirinya sudah hampir terlambat.


Tok! Tok! Tok!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, tubuh Rania sedikit tersentak, lalu memutuskan untuk memeriksanya.


Saat pintu terbuka, Rania mengernyitkan dahinya saat tidak menemukan siapapun di depan pintu, karena waktunya sudah mepet, Rania memutuskan pergi sekolah membiarkan Hedrian dan Kuro yang masih berkelahi.


Namun, saat hendak menutup pintu, mata Rania tertuju pada sebuah dus yang terletak di belakang pintu berukuran sedang.


Mungkinkah seseorang baru saja meninggalkan benda ini di sini? Tapi kenapa tak ada tanda penerima atau pun pengirim? Hanya sebuah dus polos dengan isi yang Rania sendiri tak tahu.


Ia pun mencoba menggoyangkan dus tersebut yang ternyata cukup berat. Merasa sangat penasaran akan isi dus tersebut, Rania memutuskan untuk membukanya, dan . .


Teriakan Rania membuat pertengkaran Hedrian dan Kuro terhenti keduanya saling bertukar pandang, lalu memutuskan untuk memeriksa Rania secara bersama-sama.


Setibanya di sana, mereka menemukan Rania sudah terjatuh dengan ekspresi wajah yang ketakutan setengah mati, saat berbalik, seketika tubuh mereka menegang mendapati bangkai seekor anjing tanpa kepala yang terletak di dalam dus.


Seluruh tubuh Hedrian gemetar lalu ambruk, kedua matanya melotot dengan air mata yang mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya, dirinya sangat mengenal betul tubuh bangkai itu, meski kepalanya tidak ada, namun ia sangat mengenal bentuk dan bulu itu, dia adalah salah satu bawahannya yang paling setia, Rio.


Dengan perasaan sedih ia memeluk bangkai itu lalu menangis sejadi-jadinya, menyalahkan dirinya yang tidak berguna ini.


Sungguh ia tak pantas menjadi pemimpin bangsa manusia serigala. Bagaimana tidak? Di saat anak para pengikutnya mempertaruhkan nyawa untuknya, dirinya malah bersantai dan makan enak tanpa merasa ada beban sedikit pun.

__ADS_1


Hedrian mengakui, Setelah bangsanya di bantai habis-habisan, untuk pertama kalinya ia merasakan hidup nyaman dan di penuhi oleh rasa kasih sayang yang di dapatnya dari Rania maupun dari Mia yang selalu membelikannya makanan mahal, namun semua itu membuatnya malah terlena dan melupakan orang-orangnya yang masih berada di tangan Argolo sialan itu!


Rania yang melihat Hedrian sesakit itu, berjalan menghampiri pria itu kemudian membawanya kedalam pelukannya membiarkan pria itu menangis sejadi-jadinya di dalam dekapannya.


Sedangkan Kuro hanya terdiam melihat keduanya tanpa berpaling sedikit pun.


Setelah mengubur jasad anak anjing itu, Hedrian memutuskan untuk pergi, tapi Rania langsung menahannya dan memintanya untuk memikirkan caranya bersama-sama. Dia tahu siapa pelaku itu dan tampaknya dia bukanlah orang yang bisa di lawan hanya dengan satu orang saja.


" Tidak ada jalan keluar. " Kata Hedrian dengan tegas.


" Pasti ada. "


" Tidak ada. "


" Ada! "


" TIDAK ADA!! SATU-SATUNYA CARA IALAH MEMBERIKAN MU PADA ARGOLO! KARENA KAMU LAH YANG DI INCAR OLEH NYA SELAMA INI! " Tanpa sadar Hedrian melepaskan emosinya pada Rania, sungguh melihat jasad Rio membuatnya tak bisa berpikir jernih.


Rania pun tersentak dengan ekspresi marah dari Hedrian, sejujurnya ia tak mengerti kenapa pria yang bernama Argolo itu ingin mengincarnya? Apa karena dirinya sudah memberikan darahnya pada Kuro? Jika di ingat kembali, semua kejadian ini selalu berhubungan dengannya, mungkinkah selama ini dirinyalah yang menarik mereka ke dalam masalah? Tanpa sadar tangannya memegang bagian dadanya dengan kuat


" Sudahlah maafkan aku, tolong tinggalkan aku sendiri, " dengan perasaan dongkol, Hedrian berjalan meninggalkan Rania begitu saja.


" Tunggu, bawa aku padanya. "


Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rania, baik Hedrian maupun Kuro keduanya hanya terdiam karena terkejut dengan pernyataan tidak terduga itu.

__ADS_1


" Jangan gila kamu, " sahut Kuro sambil menarik tangan Rania.


Namun, Rania langsung menepisnya, dirinya sungguh penasaran dan ingin menemui Argolo dan bertanya mengapa dia sangat ingin membawanya pergi?


__ADS_2