
Sementara di kerajaan Desmodus Rotundus.
Tubuh Rania menggigil kedinginan, spontan tangannya meraba-raba mencari selimut untuk menghangatkan tubuhnya, akan tetapi setelah menemukan dan memakainya rasa dingin itu tak kunjung hilang. Ia berpikir bahwa dirinya sedang berada di kutub selatan karena rasa dingin ini begitu menusuk tulang.
Siapa yang menghidupkan ac dengan suhu sedingin ini? Apa orang itu berpikir bahwa dirinya ini seorang beruang yang sedang hibernasi? Gerutu Rania di dalam hati, sambil mencoba menghangatkan badannya dengan meringkuk memeluk kedua lututnya. Namun, ternyata usahanya itu tetap gagal.
Kesal karena rasa dingin itu tak kunjung hilang, Rania pun beranjak turun dari ranjang untuk menaikkan suhu AC agar menjadi lebih hangat, akan tetapi tubuhnya tertegun ketika menyadari bahwa ini bukan rumah sakit atau pun di rumahnya, tempat ini begitu asing, gelap, dingin dengan bau amis yang tersebar di mana-mana. Akan tetapi gaya dan furniture tempat ini sangatlah cantik nan elegan mirip seperti kamar seorang putri kerajaan. Membuatnya sedikit terkesan kagum.
Rania kemudian terdiam berpikir sambil memangku dagunya dengan salah satu tangannya, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya, hingga sebuah ingatan dimana Kuro menusuk dan mengambil jantungnya terlintas dalam benaknya. Akhirnya dia pun mengerti mengapa dirinya berada di tempat ini dan menebak bahwa tempat ini adalah akhirat. Tapi ada sesuatu yang tidak ia mengerti sekaligus penasaran. Apakah ini surga atau neraka?
Jika mengingat perlakuannya semasa hidup, sudah pasti dirinya masuk surga.
Namun, mengapa surga ini terlihat berbeda dari apa yang selalu dipikirkannya, di mana sungai susu itu? Taman indah? Kenapa yang ia lihat hanya ada ruangan gelap nan suram? Atau jangan-jangan ini bukan surga tapi melainkan neraka? Tapi kenapa neraka ini begitu dingin? Bukankah neraka itu seharusnya panas?
Rania pun menggaruk kepalanya frustasi karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya, hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya sakit kepala. Haruskah ia menunggu seseorang agar dirinya bisa bertanya tempat macam apa ini?
__ADS_1
Seakan tuhan mendengar suara hatinya, di detik berikutnya, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka begitu saja tanpa ada seseorang yang membukanya.
Tubuh Rania terlonjak kaget dan spontan berlari bersembunyi di balik selimut, menduga bahwa itu adalah malaikat maut yang ingin membawanya neraka.
Tunggu? Bukankah dirinya memang sedang menunggunya? Tapi kenapa ia malah bersembunyi?
Saat akan melangkah keluar, entah kenapa Rania malah menjadi sangat takut, pada akhirnya dirinya tetap bersembunyi di dalam selimut.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Rania, ia berdoa meminta agar tidak di bawa ke neraka, meski dirinya tak pernah berdoa tapi selama hidupnya tidak pernah melakukan keburukan jadi dirinya berharap kali ini tuhan mau mengampuninya dan memberikannya kesempatan kedua, jika hal itu terjadi maka dirinya akan rajin beribadah dan tak akan melewatkannya sekali pun.
' Bahkan dia tahu namaku, apa dia sungguh malaikat maut yang ingin membawaku? ' Batin Rania.
Mendengar suara itu Rania semakin mengencangkan doanya dan mengulanginya berulang kali. Hingga tiba-tiba selimutnya tersingkap.
Perlahan, Rania membuka kedua matanya dengan takut-takut mencoba melihat sosok malaikat maut itu, akan tetapi dirinya tertegun ketika sosok malaikat maut itu ternyata sangat mirip sekali dengan Dokter Alvin.
__ADS_1
" Dokter Alvin? "
Pria memiringkan kepalanya, menatap Rania yang tampak sedang ketakutan, dia pun kemudian bertanya dengan raut wajah bingung " Apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu kedinginan? "
" Kamu beneran Dokter Alvin? Dokter Alvin yang aku kenal? "
Spontan Dokter Alvin mengernyitkan dahinya, tak mengerti dengan apa yang Rania bicarakan, ia pun kembali bertanya dengan hati-hati. " Rania apa kepala mu membentur sesuatu?
Bukannya menjawab, Rania malah menangkup kedua pipi Dokter Alvin lalu menatap pria di depannya dengan intens, membuat pria itu kebingungan atas sikapnya yang tidak biasa.
" Dokter Alvin, bukankah sudah ku katakan sebelumnya untuk menunggunya sampai sadar agar dia tidak kebingungan seperti ini? Sekarang dia pasti menebak bahwa dia sedang berada di akhirat. " Kata Cesire yang berada di belakang Dokter Alvin.
Rania mengernyitkan dahinya sembari menatap pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya, terutama sejak kapan pria itu ada di sini?
" Maaf kan hamba Yang Mulia, saya memang salah. "
__ADS_1
Rania kembali mengernyitkan dahinya, menatap kedua pria itu secara bergantian.