
Cesire tanpa ragu menyerang Kuro dengan puluhan jarum es, menyerangnya tanpa henti seakan tak ingin memberinya celah untuk menyerang balik.
" Selamat tinggal keponakan ku tercinta. " Katanya dengan percaya diri.
Namun, tiba-tiba seseorang muncul dan menyerang Cesire dengan kekuatan besar, hingga membuatnya mundur beberapa langkah dan terluka cukup parah di bagian dadanya, darah segar pun mengalir dari luka itu tapi perlahan luka itu kembali menutup dengan sendirinya, Ia pun mendongakkan kepalanya, lalu dahinya mengernyit saat mengetahui siapa sosok yang menghancurkan rencananya.
" Yo apa kabar? " Sapa Hedrian dengan senyuman percaya diri tercetak jelas di wajahnya. Tak lama kemudian terdengar kembali suara teriakan dari para tamu yang berasal dari luar ruangan diiringi dengan suara gonggongan anjing.
Raut wajah Cesire berubah menjadi sangat tidak senang, menatap Hedrian dengan tatapan tidak suka, dia tak pernah berharap pria yang pernah ditolongnya ini malah menghancurkan semua rencananya. Tampaknya dirinya terlalu baik memperlakukan seseorang yang tidak tahu terima kasih.
Herdian terkekeh geli mendengar perkataan Cesire yang terdengar seperti seseorang yang baru saja dikhianati. Sejak awal ia tak pernah menginginkan bantuan makhluk lain apalagi orang itu adalah Cesire, salah satu mahkluk yang telah menghancurkan bangsanya.
Menolong katanya? Hedrian mendengus, pertolongan apa yang dia maksud, menolongnya setelah membunuh seluruh bangsanya? Atau menjadi dalang penyerangan untuk menyembunyikan kelakuan busuknya yang memperbudak manusia untuk dia jadikan ternak pribadinya.
__ADS_1
Selama ini, dirinya sudah lama bersabar dengan berpura-pura bodoh dan taat hanya untuk hari ini.
Cesire pun terkekeh lalu tergelak tertawa sambil bertepuk tangan, suara tawanya menggema di seluruh ruangan.
Kuro dan Hedrian mengernyitkan dahi mereka sambil menatap Cesire yang tampak seperti orang gila.
" Bagus, sungguh hari yang bagus, hari ini akan ku jadikan hari kematian kalian. " Kata Cesire, ia pun mengerahkan seluruh kekuatannya, dalam hitungan detik ruangan itu berubah menjadi gua es dengan temperatur suhu paling rendah Ia juga kemudian memanggil Nala dan Smali untuk menghadapi dua makhluk di depannya.
Dalam hitungan detik kedua sosok itu pun berdiri di depan raja mereka untuk melindunginya.
Kuro pun segera menghangatkan tubuh Rania dengan mengalirkan sedikit kekuatannya ke dalam tubuh Rania agar bisa menahan dinginnya udara di saja.
" Bertahanlah, aku akan membawa mu kembali. " Ujar Kuro.
__ADS_1
Rania pun menganggukkan kepalanya, ia percaya bahwa ucapan Pria di depannya bisa dipegang, namun sebelum itu ia meminta Kuro untuk berbagi kehangatan dengan Dokter Alvin, karena bagaimana pun pria itu pernah membantunya berkali-kali dan juga hanya pria itu yang mengetahui lokasi ayahnya di kurung.
Walau sebenarnya, Kuro sangat enggan membantu pria berhati busuk seperti Dokter Alvin, tapi melihat Rania yang memohon seperti ini membuatnya merasa tidak tega dan terpaksa mengabulkan permintaannya.
Namun, dari semua itu ada yang lebih penting lagi yaitu mengembalikan inti kekuatannya pada Rania sebelum sihirnya kehabisan waktu.
" Apa menurut mu kamu bisa mengalahkan mereka berdua? Karena kita tak punya banyak waktu. "
" Entahlah, mungkin bisa. "
Kuro menyipitkan kedua matanya, merasa tak puas dengan jawaban pria di sampingnya, jika jawabannya seperti ini maka dirinya tak bisa fokus bertarung dengan Cesire.
" Biar kami yang menghadapi mereka berdua. "
__ADS_1
Kedua sudut bibir Kuro terangkat ke atas ketika melihat sosok adiknya dan juga Laura berdiri di depan pintu