Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
28


__ADS_3

Hedrian berjalan mundur secara perlahan tanpa melepaskan pertahanannya dengan membawa Rania bersamanya dan memastikan bahwa Laura tetap berdiam diri tanpa melakukan apapun atau pun berniat mengikuti mereka.


Di rasa sudah aman, Hedrian pun mengganti posisinya dengan menarik tangan Rania dengan kasar tanpa menghiraukan suara rengekan kesakitan dari gadis itu, membawa gadis itu ke pedalaman hutan, namun di pertengahan jalan, langkahnya tiba-tiba terhenti lalu memuntahkan banyak darah dari dalam mulutnya. Tubuhnya tertegun sejenak menatap muntahan darah di tanah, semua ini pasti karena luka yang di tinggalkan Argolo yang masih belum sembuh.


Seketika tangannya mengepal dengan erat, membuat Rania kembali merintih kesakitan sambil berusaha lepas dari genggaman Hedrian.


Di detik berikutnya pria itu tiba-tiba kehilangan keseimbangannya dan hampir jatuh tersungkur jika tangannya tidak sigap menahan tubuhnya dengan memegang pohon berukuran sedang yang berada di sampingnya.


" Apa kamu tidak apa-apa? " Tanya Rania yang merasa kasihan melihat kondisi Hedrian.


" Diam! Uhuk! Uhuk! Uhuk! " Hedrian kembali memuntahkan darah dari mulutnya, " tubuhnya langsung ambruk ke tanah sambil memegangi dadanya yang terasa sakit, tapi tangan satunya masih setia memegang tangan Rania.


Meski disini Rania adalah korban penculikan, tapi ia tak bisa membiarkan Hedrian kesakitan, ia pun berinisiatif untuk membantu pria itu berdiri meski pada akhirnya tangannya di tepis lalu tubuhnya di dorong hingga jatuh ke tanah.


Kedua tangan Hedrian kembali mengepal dengan erat, sangat memalukan! Bagaimana bisa dia memperlihatkan sisi lemahnya pada gadis yang baru ditemuinya beberapa kali?


" Pergilah, kali ini aku melepaskan mu, tapi jangan harap untuk kedua kalinya, " ujarnya tanpa menolehkan kepalanya sedikit pun.


" Tak hanya tak tahu diri, ternyata kamu banyak membual, " tiba-tiba Laura datang dan langsung menghunuskan tombaknya tepat di depan Hedrian yang siap memenggal kepalanya kapan saja.


Kedua mata Hedrian melotot marah sembari menggigit bibir bawahnya hingga berdarah.

__ADS_1


Laura pun tersenyum puas lalu mengangkat tombaknya tinggi-tinggi untuk menebas leher pria itu, akan tetapi serangannya terhenti ketika Rania berdiri tepat di depan Hedrian dengan kedua tangan yang terlentang sambil berteriak, " Berhenti! "


Beruntung Laura memiliki refleks yang sangat bagus, jika tidak, mungkin kepala Rania sudah berpisah dengan badannya. .


" Apa kamu ingin mati? " Tanya Laura dengan nada dingin tanpa berniat menjauhkan ujung tombaknya dari leher Rania.


Dengan tubuh gemetar hebat, Rania menatap mata Laura dengan tatapan memohon, " jangan sakiti dia. "


Laura mendengus kemudian tertawa terbahak-bahak, namun di detik berikutnya tawanya terhenti, kedua matanya menatap benci pada sikap Rania yang begitu mudah kasihan pada semua makhluk yang lemah, " apa kamu sudah gila? Kamu ingin menyelamatkan makhluk yang sudah melukai mu bahkan dia berniat membawa mu pergi jauh dari dunia ini, " ucapnya setengah tidak percaya, " setelah membiarkan harimau tinggal di rumah mu dan kini kamu ingin membawa seekor serigala yang setiap saat akan mengincar nyawa mu, sepertinya ada yang tidak beres dengan otak mu itu, " sambungnya dengan nada kesal.


Rania meneguk salivanya, ia tak peduli dengan apa yang di katakan oleh Laura, meski Hedrian memang bukanlah orang yang baik, bahkan pria itu telah melukainya, tapi terlepas dari itu semua, dirinya tak bisa membiarkan pria itu mati di depannya.


Di detik berikutnya, Laura menghela nafas lalu menarik senjatanya kembali, " lalu apa kamu berniat membawanya pulang? "


Meski awalnya Laura mendebat kembali keputusan Rania yang ingin menyelamatkan Hedrian, tapi pada akhirnya ia menyetujuinya karena gadis itu mengatakan bahwa dirinya akan membawanya sendiri.


Karena takut Kuro dan Robert marah, ia pun hanya bisa membiarkan gadis itu membawa tubuh Hedrian seorang diri.


Di sepanjang jalan sembari mengemudikan kendaraan, Laura terus mengumpat pada dirinya sendiri karena mau menuruti permintaan Rania. Sebenarnya apa yang dia lakukan sekarang? Jika di pikir kembali, Kuro maupun Robert pasti akan berpikir sama dengannya, tapi nasi sudah menjadi bubur dan dirinya tak bisa meninggalkan mereka di tengah jalan. Ia pun menghela nafas panjang, sesekali melirik kaca spion, mengintip keadaan Hedrian jika pria itu tiba-tiba bangun dan menyerang mereka.


Beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di rumah Rania, tapi seperti sebelumnya, Laura menolak membantu gadis itu untuk membawa tubuh Hedrian masuk.

__ADS_1


Rania pun berdecak kesal dan ingin memarahi Laura, tapi ia tak bisa melakukannya, karena keinginan untuk menolong Hedrian adalah idenya bukan ide garis itu. Dengan terpaksa, ia memilih menggusur tubuh Hedrian dengan menarik kedua tangannya layaknya membawa sebuah karung berisikan semen, tentunya ia meminta maaf terlebih atas perlakuannya yang tidak sopan itu.


Beruntung, saat itu lingkungan di dekat rumahnya sedang sepi, jika saja tetangganya melihatnya membawa orang sakit seperti itu, mungkin mereka akan mengira bahwa dirinya telah melakukan pembunuhan dan berniat untuk menghilangkan jejak.


Setelah menguras banyak energinya, akhirnya Rania pun berhasil membawa tubuh Hedrian masuk ke dalam rumah lalu meletakkannya di atas sofa dengan susah payah, nafasnya terengah-engah dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya.


Kuro yang tengah asik menonton di buat terkejut dengan apa yang di bawa pulang oleh Rania, bukankah dia ingin mencari gelangnya yang hilang? Lalu kenapa dia malah membawa Hedrian pulang?


Kepalanya kemudian menoleh menatap Laura yang langsung mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa itu bukan urusannya.


Karena penasaran, Kuro pun berjalan mendekat untuk menanyakan tujuan gadis itu membawa Hedrian pulang ke rumah. " Kenapa kamu membawa pria ini? Apa kamu berniat memasaknya? " Tanyanya tanpa pikir panjang.


Seketika, kedua mata Rania mendelik tajam pada Kuro, " kamu pikir aku ini kanibal? "


" Lalu untuk apa membawanya kemari jika bukan untuk di makan? Atau jangan bilang kalau kamu. . ..


" Sssstt, " tiba-tiba Rania menyuruh Kuro berhenti berbicara dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Kuro dan malah menyuruhnya untuk mengambilkannya segelas air.


Meski sedikit kesal dan tak mengerti tentang apa yang di pikirkan gadis itu, Kuro pun dengan patuh berjalan menuju dapur untuk membawakannya segelas air putih.


Dalam hitungan detik, Rania menghabiskan segelas air putih itu tanpa menyisakan satu tetes pun. Ia pun kemudian bangkit dari posisi duduknya untuk berniat pergi.

__ADS_1


" Tunggu? Kamu mau kemana? "


Rania pun menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh menatap Kuro, sambil tersenyum ia meminta pria itu untuk menjaga Hedrian untuk sementara waktu, karena dirinya akan pergi mencari seorang dokter untuk memeriksa luka di seluruh tubuh Hedrian.


__ADS_2