
" Nenek! " Teriak Rania sambil berlari kecil menuju sang nenek yang tengah memetik sayuran yang berada di belakang rumah.
Wanita paruh baya yang di panggil Nenek oleh Rania langsung menolehkan kepalanya. Kedua bolanya terbeliak senang melihat sosok cucu kesayangannya akhirnya pulang setelah sekian lama.Dia kemudian berjalan setengah berlari menyambut cucu kesayangannya. Air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya, lalu menarik cucunya ke dalam pelukannya sambil menciumi wajah cucu kesayangannya beberapa kali.
Rania pun terkekeh geli, tapi di detik berikutnya ia teringat pada teman-temannya yang lain.
" Nenek perkenalkan, mereka teman-teman ku, Mia, laura Robert, dan kucing hitam itu adalah peliharaan ku, Kuro dan yang anjing itu namanya Gure, " jelasnya memperkenalkan satu persatu, " nenek, bolehkan mereka ikut berlibur dan tinggal di sini? " sambungnya.
Nenek Rania tersenyum sambil memukul pelan bahu cucunya, mengatakan bahwa mereka bisa tinggal dirumahnya berapa lama pun mereka mau. Nenek Rania tidak keberatan sama sekali, justru ia malah senang karena cucu kesayangannya ini memiliki teman-teman yang begitu baik, tampan dan cantik
__ADS_1
Dengan penuh kasih sayang, Nenek Rania menuntun Rania dan lainnya untuk masuk ke dalam rumah berukuran cukup besar bernuansa klasik.
Sebagai pecinta gaya klasik, Mia tentunya merasa takjub dengan setiap detail dari interior rumah itu yang masih terjaga dengan baik.
Ia pun berdecak kagum kembali, sudah lama ia tidak melihat rumah lama yang masih terjaga apik hingga sekarang bahkan setiap detail interior itu belum pernah di ganti sama sekali selama puluhan tahun, " Nenek, apakah kamu berencana menjual rumah ini pada ku? " Tanyanya secara spontan.
" Jangan harap, aku tak akan pernah menjual rumah ini pada siapapun bahkan sampai aku mati pun, aku tidak akan membiarkan orang lain membelinya. " Jawab Nenek Rania dengan tegas.
Namun, tampaknya Nenek Rania sangat pendendam, ia pun langsung memalingkan wajahnya setiap kali Mia menatapnya dan mengabaikan setiap pertanyaannya.
__ADS_1
Bagaikan tersambar petir, tubuh Mia pun merosot ke tanah, ia tak pernah menduga akan di abaikan oleh nenek temannya sendiri.
Laura terkekeh geli melihat ekspresi Mia yang seperti itu.
" Apa yang kamu tertawakan?! " Tanya Mia dengan nada ketus.
Dalam hitungan detik, Laura berhasil mengubah wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, lalu mengangkat bahunya secara bersamaan.
" Cucuku, bukankah kamu mengatakan akan kembali seorang diri? Nenek bukannya melarang kamu membawa mereka, hanya saja lain kali beritahu Nenek sebelumnya, setidaknya aku bisa menyiapkan makanan dan juga tempat tidur untuk kalian. " Kata sang Nenek setelah berhasil menarik cucunya ke dapur.
__ADS_1
Rania pun tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya ia memang berniat kembali seorang diri, tapi Kuro tiba-tiba mengatakan bahwa dia tak ingin di tinggal bersama dengan seekor anjing, sedangkan Hedrian tak ingin di tinggal seorang diri. Ada pun Laura yang mengungkapkan bahwa dia tak bisa jauh-jauh dari tunangannya, begitu pun dengan Robert yang hanya ingin mengawasi kakaknya, sedangkan Mia, baru mengetahuinya saat Laura menolak ajakannya untuk bertanding siapa yang paling kuat dalam hal bertempur.
Setelah mengetahui hal tersebut, Mia pun bergegas menghampiri Rania lalu merengek padanya untuk membawanya ikut serta dan begitulah ceritanya, padahal dirinya berniat pergi sendiri agar dia bisa fokus mencari tahu masa kecilnya.