
" Sungguh tak malu, " kata Kuro dengan nada ketus
" Tunggu! Kalian berdua telah salah paham! Aku tidak bermaksud untuk menyakitinya aku hanya. .. . hanya. . . lapar. " timpalnya dengan suara lirih di akhir kalimatnya.
Kuro menyipitkan kedua matanya, menatap Hedrian dengan tatapan menyelidik. Memastikan bahwa pria itu tidak berbohong.
Hedrian menghela napas kemudian mencoba menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka hingga bunyi perutnya menjawab semua kesalahpahaman itu sekaligus menjadi bukti bahwa dirinya tidak berbohong sama sekali. Semburat merah pun mewarnai kedua pipinya, di detik berikutnya ia menarik selimut tinggi-tinggi untuk menyembunyikan tubuhnya yang besar karena malu.
Rania dan Kuro pun saling bertukar pandang sejenak, lalu menatap tingkah Hedrian.
Setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya Rania pun memberikan makanan yang ia beli di supermarket.
Dengan tatapan lapar, Hedrian langsung memakan habis semua makanan yang Rania beli beberapa waktu lalu, layaknya perut karet, Hedrian kembali meminta makanan tambahan pada Rania
Meski sebenarnya itu adalah jatahnya, tapi dengan terpaksa, Rania memberikan semua makanan itu pada Hedrian yang ternyata masih belum cukup untuk memenuhi perutnya yang seperti karet itu.
" Apa ada lagi? " Tanyanya dengan polos.
" Hei apa kau seorang manusia karet?! Bagaimana bisa kamu masih kelaparan setelah memakan semua makanan di atas meja? Sungguh tak tahu malu. "
Hedrian terdiam sejenak, menatap tumpukan bekas bungkus makanan yang baru saja dimakannya. Kenapa ada banyak sekali? Dari mana datangnya semua sampah-sampah itu? Seingatnya dirinya hanya makan beberapa saja, jadi sudah pasti itu bukan miliknya.
Salah satu alis Kuro berkedut, Kedua tangan Kuro mengepal dengan kuat saat melihat sikap Hedrian yang bertingkah seakan-akan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.
" Maaf, tapi semua makanan yang aku punya sudah habis dan aku tak punya uang sama sekali, " ungkap Rania dengan perasaan sedih.
Kuro menolehkan kepalanya, menatap Rania dengan tatapan gemas, kenapa dia harus meminta maaf? Bukankah dia seharusnya marah karena semua makanannya telah habis? Dan juga yang harusnya meminta maaf itu bukan dia! Melainkan pria tak tau diri di depan mereka ini.
Tetapi, seakan Hedrian tidak menganggap sama sekali keberadaan Kuro, pria itu hanya mengangguk pasrah lalu kembali ke tempat tidurnya, begitu pun sebaliknya, Rania yang ikut pasrah karena dirinya belum makan sama sekali hanya bisa pergi ke tempat tidur dengan keadaan perut kosong.
__ADS_1
Kuro yang melihat kejadian tersebut, merasa sangat cemas pada Rania karena terlalu mudah di peralat.
Keesokan paginya.
Karena hari ini adalah hari weekend, Rania memutuskan untuk tidur sepanjang hari, agar dirinya tidak merasa lapar.
Tok! Tok! Tok!
" Permisi Paket! "
Tiba-tiba, pintu rumahnya di ketuk dengan cukup keras dengan suara yang kemudian di susul oleh teriakan khas orang yang mengirim paket.
Meski terganggu, tapi dengan terpaksa Rania bangun dari tidurnya lalu berjalan dengan gontai menuju pintu.
Dan benar saja, saat pintu terbuka, Rania dapat melihat seorang bapa kurir yang mengendari mobil box berisikan bahan pokok makanan berupa ikan kaleng, beras, susu, mie instan dan bahan keperluan lainnya.
Rania yang belum mengumpulkan nyawanya hanya terdiam menatap beberapa kurir yang membawa masuk kotak berisikan makanan, hingga beberapa saat, ia pun tersadar bahwa dirinya tidak memesan mereka semua, kemudian meminta para kurir itu berhenti untuk memasukkan barang-barang itu ke dalam rumahnya sebabi dirinya tak memiliki uang sama sekali untuk membayar semua pesanan itu.
Tapi, pria kurir itu mengatakan bahwa semua pesanan ini oleh di bayar oleh seseorang yang tidak menyebutkan namanya.
Rania memiringkan kepalanya, " siapa? "
Pria kurir itu mengangkat kedua bahunya secara bersamaan, menandakan bahwa dirinya juga tak tahu, ia kemudian meminta Rania untuk menerimanya saja.
Namun, Rania tak ingin mengambil barang yang memang bukan miliknya, sebelum menandatangani dokumen tersebut, Rania terlebih dahulu menghubungi semua teman dan juga paman bibinya, tapi tak ada satu pun dari mereka yang mengakui pengiriman tersebut, bahkan Laura mengatakan bahwa dia tak sebaik itu mengirimi saingannya makanan.
" Maaf pak, bapak yakin alamatnya ini? Soalnya baik saya maupun teman bahkan kerabat saya tidak memesan apapun. "
Sang kurir menggaruk kepalanya tidak gatal, dia kemudian menyerahkan surat jalan yang menunjukan bahwa dirinya telah mengirim ke alamat yang benar.
__ADS_1
Rania pun ikut menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah melihat alamat pengiriman itu memang di tujukan ke alamat rumahnya.
Keduanya saling bertukar pandangan, hingga sang kurir memutuskan untuk meminta Rania untuk menerima barang tersebut, soal siapa yang membeli barang tersebut, itu bukan urusannya karena tugasnya hanyalah mengantar barang tersebut bukan mencari tahu siapa yang memesan dan membeli tersebut.
Meski enggan menerima, tapi setelah melihat raut lelah bapak kurir tersebut, Rania pun dengan terpaksa menerimanya.
Tak lama setelah bapak kurir itu pergi, Kuro dan Hedrian datang menghampiri menanyakan apa yang terjadi.
" Oh seseorang baru saja mengirimi ku bahan makanan lengkap, bahkan ada makanan untuk Hedrian juga. "
Mendengar kata makanan, kedua mata Hedrian menjadi berbinar, lalu berjalan menghampiri tumpukan makanan tersebut. Tanpa ragu dia memakan setengah dari makanannya hingga perutnya menjadi buncit menyerupai balon.
Sedangkan Kuro dan Rania tak berani menyentuh barang-barang itu sama sekali sebab mereka tak tahu tujuan dan siapa pengirim itu? Bisa saja semua makanan itu telah diracuni. Keduanya kemudian sepakat untuk menunggu selama satu jam, jika Hedrian masih dalam baik-baik saja maka semua makanan itu bersih.
Akan tetapi waktu satu jam itu terasa sangat lambat bagi Rania yang sudah kelaparan sejak malam, baginya satu menit saja sudah terasa satu jam lamanya.
Meski lambungnya sudah meronta ingin di isi oleh makanan, tapi Rania tak berani sedikit pun menyentuh semua makanan itu sebelum satu jam, dan kini tersisa hanya lima belas menit lagi
Jika saja Hedrian tak menghabiskan semua makanannya semalam, mungkin dirinya tak akan pernah menderita seperti ini.
Dengan perut laparnya, kedua matanya menatap penuh nafsu pada setumpuk mie instan di depannya, membayangkan jika dirinya memakan mie itu dengan toping lengkap, pastinya ia akan sangat puas.
Semakin dirinya membayangkan makanan, semakin kuat pula rasa lapar di perutnya hinga tak kemudian. . .
Tok! Tok! Tok!
Terdengar sebuah ketukan di pintu yang kemudian menyadarkan Rania dari khayalannya, sambil berjalan gontai, ia berjalan lalu membuka pintu tersebut, namun di detik berikutnya kedua bola matanya terbeliak saat melihat keluarga paman, bibi serta Mia datang berkunjung kerumahnya.
Saat pintu itu terbuka, Mia tersenyum lebar dan hendak menyapa namun pintu itu tiba-tiba tertutup hingga membuat pintu itu mencium hidungnya dengan cukup keras.
__ADS_1