
Beberapa hari kemudian.. .
Sejak saat itu, Rania menjadi trauma dengan darah bahkan dengan melihat darahnya sendiri sudah membuatnya takut setengah mati, ia kemudian memutuskan untuk menghilangkan semua makanan berbahan daging dan beralih pada sayuran. Meski dia tahu bahwa dirinya terbilang egois tapi apa boleh buat, ia tak ingin terus dihantui oleh ketakutan yang tidak berdasar itu.
Karena sebentar lagi dirinya akan segera lulus, Rania memutuskan menyibukkan diri dengan belajar, setidaknya ia harus memenuhi janjinya dengan mendiang neneknya untuk menjadi lulusan terbaik, iya meski itu adalah suatu hal yang paling mustahil tapi setidaknya ia harus lulus dan melanjutkan ke jenjang kuliah.
Walau terkadang pikirannya sering terganggu dengan keadaan dan keberadaan Tante Vina dan Paman Jinu yang seakan-akan sudah membuang dan tidak memperdulikannya lagi, bahkan sampai saat ini mereka berdua belum sekali pun menghubungi atau mengunjunginya. Pernah sekali, karena penasaran alasan mereka sulit di hubungi, Rania memutuskan untuk mengunjungi tempat tinggal mereka yang berada cukup jauh dari tempat tinggalnya, akan tetapi sayangnya mereka tak ada di sana, bahkan tetangga yang ada di sana pun mengatakan bahwa tidak tahu kapan dan kemana mereka pindah. Tentunya Rania sangat sedih dengan sikap mereka yang menghilang tanpa jejak, tapi ia yakin pasti ada alasan mengapa mereka pergi meninggalkannya. Semoga saja mereka sehat selalu.
Setelah lulus nanti, Rania berjanji akan akan mencari keberadaan mereka lalu menanyakan alasan mereka pergi meninggalkannya tanpa memberitahunya. Maka dari itu ia harus semakin fokus belajar, agar saat bertemu, dirinya bisa membanggakan diri dengan prestasi yang tidak seberapa itu.
Akan tetapi nyatanya belajar adalah sesuatu hal yang paling sulit dilakukan, padahal seminggu ini dirinya sudah memaksakan diri untuk belajar dengan serius bahkan orang-orang sampai mengira bahwa dunia akan segera kiamat karena melihat keseriusannya, tetapi sayangnya dunia tak jadi kiamat karena sebelum itu terjadi kepalanya sudah akan merasa pecah setiap melihat angka dan juga huruf yang sama sekali tidak ia mengerti.
__ADS_1
Tak peduli bagaimana Laura dan Robert menjelaskannya nama dan fungsi dari angka serta kata itu, tetap saja kepalanya tidak bisa menerima semua hal itu, dirinya lebih baik menonton maraton anime satu hari satu malam dari pada harus belajar setiap jam istirahat dan pulang sekolah, terlebih lagi jika mata pelajaran itu adalah Matematika. Rasanya dirinya ingin mati saja.
Lagi pula kenapa harus ada matematika? Siapa yang menciptakan Matematika?
" Apa otak mu sungguh bodoh? Apa kamu ingin tinggal kelas selamanya? Bahkan vampir seperti ku masih bisa mengerti apa yang tertulis di sana?! " Ujar Laura yang sudah mulai jengah dan kehilangan kesabarannya karena sejak awal mereka belajar Rania tak pernah sekalipun menjawab pertanyaan yang diberikannya dengan benar.
Rania pun hanya bisa merengek ingin pulang, tetapi Laura bersikeras untuk tidak pulang sebelum ia menjawab pertanyaan itu dengan benar.
Namun, sayangnya Laura sudah kebal dan tidak terpengaruh sedikit pun dia bahkan mengancam akan menambah soal jika Rania terus merengek pulang.
Sungguh kejam. Jika tahu akan seperti ini seharusnya ia menolak tawaran itu, melihat caranya mengajar yang begitu ketat itu membuat Rania tersadar bahwa sejak awal Laura memang ingin membuatnya menderita.
__ADS_1
" Seseorang tolonglah aku, jika seorang perempuan akan ku jadikan adik, tapi jika itu pria akan ku jadikan suami. " kata Rania yang sudah mulai putus asa.
" Rania. Kamu benar Rania kan? " Ujar seorang perempuan dengan rambut sebahunya.
Rania menoleh lalu menganggukkan kepala sebagai jawabannya, " Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu? "
Raut wajah perempuan itu terlihat begitu senang dan langsung memeluk Rania tanpa aba-aba membuat semua orang yang berada di sana. terkejut.
" Apa kamu ingat perempuan yang kamu selamatkan beberapa waktu lalu? "
Rania tak langsung menjawab ia merasa otaknya mendadak tidak berkerja sama sekali, hingga tiba-tiba bayangan dirinya saat mencoba menghisap darah kala itu membuatnya spontan berdiri lalu pergi melarikan diri dengan ekspresi wajah ketakutan setengah mati.
__ADS_1
" Ada apa dengan dia? Apa aku telah melakukan kesalahan? " Tanya Meta dengan raut wajah kebingungan.