
Sepulang sekolah . . .
Sesuai yang di bisikkan oleh Aria, Rania datang ke atap gedung sekolah seorang diri tanpa di temani oleh Laura atau siapapun, meski sebelumnya, Laura memaksa untuk ikut, tapi Rania berhasil menyakinkan wanita itu untuk tidak terlalu cemas atau pun khawatir karena dirinya bisa menjaga dirinya sendiri.
Setelah mendengar penjelasan Rania, Laura mendengus dan mengatakan bahwa dirinya tidak cemas atau pun merasa khawatir sama sekali dengan Rania, hanya saja dia tak suka ada orang lain yang lebih membenci Rania dari pada dirinya.
Rania pun hanya tersenyum di paksakan, meski Laura berkata benci padanya, tapi Rania tahu, bahwa Laura sedang mencemaskan dirinya.
" Hubungi aku, jika mereka berniat membunuh mu, akan ku bunuh mereka berdua lebih dulu sebelum menyentuh mu, mengerti? "
Dengan cepat, Rania menganggukkan kepalanya, lalu meminta Laura untuk segera pergi.
Setelah berhasil mengusir Laura, Rania membuka pintu atap, memperlihatkan sosok Aria yang tengah terduduk di sebuah sofa yang sudah usang , sirat wajahnya terlihat tidak senang sama sekali sambil memegang sebuah koin di tangannya dengan kedua temannya yang berdiri di sisi kanan dan kiri Aria.
" Ada apa? Kenapa memanggil ku ke sini? Dan hal apa yang ingin kamu sampaikan? " Tanya Rania langsung tanpa basa-basi.
Menyadari bahwa orang yang di tunggunya telah datang, Aria melirik Rania dari sudut matanya lalu bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan menghampiri Rania dengan begitu elegan hingga membuatnya tampak seperti super model.
__ADS_1
Setibanya di depan Rania, tiba-tiba Aria menampar wajah Rania dengan cukup keras, hingga membuat kedua temannya cukup terkejut serta tercengang dengan tindakan Aria yang tidak ada dalam rencana mereka yang katanya, mereka hanya ingin menggertak Rania saja demi mendapatkan nomor ponsel Riko
Begitu dengan Rania yang langsung tertegun sejenak, sambil memegangi pipinya yang terasa perih, dahinya mengernyit heran. " Ada apa dengannya? " gumamnya
Salah satu sudut bibir Aria terangkat ke atas, tatapannya terlihat berbeda dari dia biasanya, tangannya kemudian menarik dagu Rania sambil berbisik, ' hai pencuri, '
Kedua bola mata Rania terbeliak, spontan ia mendorong Aria dengan cukup keras hingga membuat gadis itu tersadar, meringis kesakitan sambil melotot marah pada Rania.
" Lo! Kok dorong gue sih! " Pekik Aria.
Rania berdiri kebingungan, lalu berlari meninggalkan ke tiga gadis itu, dengan tergesa-gesa ia berjalan menuruni tangga hingga membuatnya hampir terjatuh mencium lantai jika Riko tidak segera menangkap tubuhnya.
Namun, bukannya berterima kasih, Rania malah mendorong Riko menjauh darinya, lalu kembali berlari.
Riko yang kebingungan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rania terus berlari, tanpa di sadari kedua kakinya membawanya ke rumah sakit dimana dokter Alvin bekerja, dengan nafas yang masih terengah-engah, Rania baru tersadar, mengapa dirinya harus berlari? Dia kan bukan pencuri. Lagipula dia tak pernah mencuri apapun dari siapapun. Pasti telinganya salah mendengar. Ia pun menghela nafas panjang sambil memukul kepalanya karena kebodohannya, pasti Aria dan teman-temannya menganggap bahwa dirinya aneh.
__ADS_1
" Rania! Kamu benar Rania kan?! "
Tubuh Rania terperanjat kaget, ia menolehkan kepalanya dan mendapati suster yang sama waktu lalu, " eh suster, " jawab Rania pelan.
Mengetahui bahwa tebakannya benar, sang suster melompat kegirangan, tanpa bertanya terlebih dahulu, ia langsung menarik dan membawa Rania ke sebuah kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit.
Layaknya seorang teman yang sudah lama tidak berjumpa dengan temannya, sang suster yang bernama Nera itu langsung menanyai kabar Rania dan juga menanyakan kesehariannya.
Namun tak lama kemudian, Nera menyadari bahwa ada yang salah dengan Rania ia pun kemudian bertanya, " ada apa? Apa ada yang mengganggu mu? "
Dengan cepat, Rania menggelengkan kepalanya dan langsung bertanya kapan Dokter Alvin kembali ke kota Versee.
" Memangnya kenapa? Apa ada yang ingin kamu bicarakan dengannya? Sejujurnya aku cukup dekat dengannya, jadi kamu bisa memberitahu ku. "
Rania terdiam tak menjawab, entah kenapa ada perasaan ragu yang mengganjal perasaannya.
" Apa kamu ingin bertanya kelanjutan cerita gadis dan benda bersinar itu? " Tanya suster itu secara tiba-tiba
__ADS_1
" Bagaimana suster tahu? "