Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
103


__ADS_3

Di sekolah.


Laura mengerutkan dahinya sembari menatap Rania dengan tatapan aneh, tak biasanya perempuan itu langsung diam duduk anteng di kursinya tanpa melakukan drama atau menyapanya, seakan-akan tubuhnya berisikan jiwa yang berbeda, tapi di detik berikutnya Laura mengabaikannya karena baginya hal itu sudah bukanlah sesuatu yang aneh lagi mengingat perempuan ini memiliki mood yang berbeda-beda.


Dari pada memikirkan sesuatu yang tidak penting, dirinya lebih memilih menyibukkan diri dengan ponsel barunya, meski sejujurnya dirinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi kemarin karena ia merasa ada sesuatu besar yang terjadi tapi dirinya tak bisa mencari tahu atau mencari tahu dengan bertanya atau dengan membaca isi kepalanya, karena anehnya Rania adalah satu-satunya manusia yang tak bisa ia kendalikan seperti Mia pada saat itu.


Tetapi yang membuatnya aneh adalah kenapa Rania tak ingat kejadian yang hampir membunuh nyawanya? Apa karena terkejut dan tak bisa menerima atau ada seseorang yang sengaja menghapus ingatan Rania dengan teknologi canggih?


Kendati begitu, dirinya tak punya hak untuk mengusik kehidupan pribadi Rania karena misinya adalah untuk membawa tunangannya kembali ke dunia vampir untuk memberontak, menurunkan kekuasaan Cesire sekaligus menghukum semua bawahannya karena telah merusak kedamaian dunia vampir.


" Ada apa? " Tanya Luois yang baru masuk ke dalam kelas setelah pulang dari ruang guru. " Kamu terlihat murung, apa terjadi sesuatu kemarin? " Sambungnya


Rania mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum simpul, berkata bahwa semuanya baik-baik saja hanya saja dirinya terlalu lelah pasca kemarin menjalani hukuman yang sama seperti latihan militer.


" Bagaimana kalau aku membujuk kepala sekolah untuk meringankan hukuman mu? " Tawar Louis yang merasa kasihan melihat kondisi Rania.


Namun, Rania menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, ia berterima kasih dan juga sangat menghargai tawaran bantuan Louis tapi ini adalah masalahnya sekaligus tanggung jawabnya dan ia tak ingin menarik orang lain ke dalam masalahnya jadi ia harap Louis bisa menghargai keputusannya.

__ADS_1


Louis terdiam sejenak lalu memutuskan untuk menghargai keputusan Rania, " baiklah kalau begitu, tapi jika kamu butuh bantuan ku, jangan sungkan untuk memintanya. "


" Baiklah ketua kelas terima kasih. "


" Oh iya, aku baru ingat, pagi ini orang tua Meta menghubungi ku dan titip pesan terima kasih karena telah memanggil ambulan tepat waktu dan menyelamatkan puteri mereka, dan mereka juga ingin mengetahui apa yang terjadi kemarin? . "


" Meta? Siapa itu Meta? "


" Kamu tak tahu? Gadis yang kamu selamatkan semalam itu bernama Meta. "


Ah ternyata nama perempuan itu adalah Meta, bagaimana yah keadaanya sekarang? Apa dia mengingat betul apa yang terjadi semalam? Bagaimana jika saat dia kembali ke sekolah lalu memberitahu seisi sekolah bahwa dirinya telah. . .


Tubuh Rania tersentak tersadar, tanpa di sadari ternyata dirinya sudah melamun cukup lama, " maaf pak tadi saya sedang melamun. " Jawabnya dengan wajah polos.


Seketika seisi kelas pun di penuhi gelak tawa mentertawakan tingkah Rania yang lucu, kecuali Laura dan Aria bersama ketiga temannya.


Setelah jam pulang sekolah, Rania kembali melanjutkan melanjutkan mencabut rumput sisa kemarin, meski di dalam hatinya ia merengek ingin pulang tapi apalah daya dirinya harus menyelesaikan hukuman itu ada perasaan menyesal karena sudah menolak tawaran Louis.

__ADS_1


Di saat dirinya tengah fokus menjalani hukuman, Tiba-tiba Rania kedua bola matanya membulat sempurna ketika air soda dingin membasahi kepalanya. Dengan segera ia pun bangkit dari posisi jongkoknya dan mendapati Aria bersama kedua temannya sedang tertawa.


" Upss, sorry tangan gue kepleset. " Kata Aria dengan nada mengejek.


Aria begitu senang melihat raut wajah terkejut Rania, tetapi kesenangannya itu tak bertahan ketika seseorang mengguyur seluruh tubuhnya dengan air sisa pel.


" Upss Sorry tangan ku juga kepleset. " Balas Laura dengan nada yang sama.


" Lo! Berani banget sih sama gue, lo nggak tahu siapa bokap gue?! Kalau sampai dia tahu maka aku akan. . .


" Akan apa? "


" Akan. . .


Tiba-tiba lidah Aria terasa kelu, dadanya mendadak berdebar dengan sangat kuat seperti habis berlari maraton, kepalanya mendongkak menatap sepasang mata Laura yang entah kenapa membuat dirinya merasa tercekik, beberapa menit kemudian kedua kakinya gemetar hebat dan sudah tak kuat menahan beban tubuhnya hingga dirinya pun terjatuh terduduk di tanah.


Kedua teman Aria yang terkejut dengan sikap aneh Aria yang mendadak seperti sedang merenggang nyawa, segera memanggil sopir pribadi Aria.

__ADS_1


Rania yang menyadari bahwa ada yang tidak wajar menimpa Aria segera meminta Laura untuk berhenti, tetapi tampaknya Laura berpura-pura tidak mendengar ucapan Rania hingga seorang pria berusia awal tiga puluhan datang dan menjemput Aria yang telah jatuh pingsan


__ADS_2