Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
48


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa jam, Kuro dan Hedrian pun akhirnya tiba dengan raut wajah khawatir bercampur kesal, karena Rania pergi begitu saja tanpa memberitahukan mereka terlebih dahulu, jika saja Ryola tidak menelpon dan menanyakan keberadaan Rania, mungkin saja mereka akan berpikir bahwa gadis itu sedang berkerja.


Apakah dia tidak belajar dari kesalahan sebelumnya? Bagaimana bisa dia pergi seorang diri tanpa merasa takut sedikit pun setelah kejadian Argolo waktu lalu, apa otaknya masih ada di dalam?


Dengan wajah masamnya, Kuro kembali memarahi Rania layaknya seorang ibu yang memarahi putrinya karena pergi main tanpa seizinnya.


" Maaf, hanya saja aku tak ingin menyusahkan kalian berdua. Lagi pula ku pikir ini adalah salahku, karena Mia merasa cemburu dengan kedekatan ku dengan Laura, jadi aku memutuskan untuk menyelesaikannya sendiri? "Jelas Rania dengan perasaan sedih dan menyesal sambil memainkan jarinya.


Kuro dan Hedrian pun menghela nafas secara bersamaan, keduanya saling bertukar pandang lalu kembali menatap Rania dengan perasaan heran, bukankah selama ini mereka berdua lah yang telah merepotkan gadis itu? Bagaimana bisa dia berpikir bahwa dialah yang merepotkan itu.


" Berhenti berpikir seperti itu, rasanya kamu sedang menyindir kami berdua, " ungkap Kuro sambil berjalan masuk ke dalam kota yang kemudian di ikuti oleh Hedrian.


Rania terdiam sejenak tak mengerti apa yang di maksud oleh Kuro, hingga beberapa saat kemudian ia menyadari bahwa tanpa ia sadari perkataannya telah melukai dua pria itu. Tak ingin memperbesar masalah, Rania berjalan mengejar Kuro dan Hedrian sambil menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud untuk menyindir mereka sama sekali.


" Aku tahu jadi lupakan saja, hanya saja aku ingin kamu memberitahu semua masalah mu, meski kami tak bisa membantumu seratus persen, tapi bukankah lebih baik berbagi cerita dengan seorang teman dari pada memendamnya sendiri? Itu lebih baik dari pada memendamnya seorang diri. " Terang Kuro di sela-sela perjalanan mereka.


Kepala Rania langsung tertunduk menyadari akan kesalahannya, mungkin karena selama ini dirinya sudah lama memendam perasaannya seorang diri hingga membuatnya lupa bahwa sekarang dirinya tak lagi sendiri lagi.


Tanpa ia sadari, bibirnya melengkung dengan begitu tipis.

__ADS_1


Setelah memasuki setengah kota beberapa saat yang lalu, Kuro mengerutkan dahinya karena sejak tadi mereka tidak menemukan siapapun, kota itu begitu sepi, seperti telah di tinggalkan oleh penghuninya, laku kemana perginya semua orang? Apa mereka telah pergi? Tapi melihat dari kondisi bangunannya yang masih terlihat bagus dan terawat, tampaknya tempat itu belum lama di tinggalkan.


' Ada yang aneh dengan tempat ini, ' pikir Kuro


Ia pun mempercepat langkahnya untuk mencari Mia, akan tetapi, setelah berkeliling cukup lama, mereka masih belum menemukan keberadaan Mia membuat Rania semakin cemas di buatnya, dirinya takut jika terjadi sesuatu pada teman kesayangannya itu.


" Apakah Mia tidak akan di bunuh? " Celetuk Rania secara spontan


" Tenang saja, aku yakin dia pasti baik-baik saja. "


" Tapi bagaimana jika dia tidak sedang baik-baik saja? "


Crack!


Tubuh Rania terperanjat takut ketika mendengar suara tersebut.


Ketiganya saling bertukar pandang, tiba-tiba mereka berpikir bahwa mereka sedang berada di wahana uji nyali.


" Itu bukan suara hantu kan? " Tanya Rania

__ADS_1


" Seharusnya bukan? " Jawab Kuro dengan singkat sambil berjalan berdiri di belakang punggung Rania, meski takut tapi Rania memberanikan diri, dengan tubuh gemetar ia berjalan menghampiri sumber suara tersebut.


Tak lama kemudian wajah Rania menjadi tersenyum cerah ketika dirinya menemukan sosok Mia yang tengah berdiri di depan rumah milkk salah satu warga di sana.


Dengan perasaan bahagia, Rania berjalan setengah berlari untuk menghampiri temannya tersebut, tapi langkahnya terhenti ketika Hedrian tiba-tiba berdiri di depan Rania sambil menggeram ke arah Mia.


" Apa yang kamu lakukan dia ini adalah teman ku? " Tanya Rania dengan nada suara tidak terima


" Tunggu, ada yang tidak beres dengannya. " Jawab Kuro dengan cepat.


Rania terdiam memperhatikan setiap gerak gerik Mia yang jika di perhatikan dengan seksama ada yang tidak beres dengannya


" Mi? Lo Mia kan? Temen gue? "


" . . . "


" Mia? Ini gue Rania, lo masih inget kan sama gue. "


" Rania! Awas! " Jika saja Hedrian terlambat sedikit saja, pasti pisau di tangan Mia sudah melukai lehernya.

__ADS_1


__ADS_2