Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
57


__ADS_3

Meski sebelumnya Mia bersikeras ingin menemani Rania di rumah sakit, tapi Rania juga bersikeras menolak untuk di temani dengan alasan dirinya ingin sendiri.


Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Mia memilih menyerah, ia pun pulang dengan perasaan sedih


Setelah Mia pulang, Rania langsung terdiam sambil memeluk kedua lututnya, di dalam kepalanya ia tak bisa berhenti memikirkan alasan Dokter Alvin membohongi temannya, padahal dia adalah dokter yang menanganinya saat kejadian saat itu jadi tidak mungkin dia tidak mengetahui kondisi aslinya dan juga kenapa pria itu terlihat tidak terkejut sama sekali dengan menghilangnya luka di tubuhnya. Tampaknya pria mengetahui sesuatu tentang dirinya yang mana ia juga tak tahu dengan dirinya sendiri.


Esok paginya, Rania bersiap-siap untuk pulang ke rumah, namun sebelum memutuskan pulang, Rania terlebih dahulu ingin menemui Dokter Alvin untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang telah mengganggu pikirannya semalaman. Tapi sayangnya pria itu sedang memiliki jadwal operasi yang cukup padat hingga tak memungkinkan mereka untuk bertemu.


Dengan perasaan kecewa, Rania berjalan gontai menuju pintu keluar rumah sakit, hingga sebuah teriakan dari seorang perawat memanggilnya dengan suara lantang dan membuat semua orang yang berada di rumah sakit memandang sinis padanya ada pula yang menegurnya karena tidak mematuhi aturan rumah sakit di saat dirinya merupakan seorang pegawai rumah sakit. Namun, tampaknya wanita terlihat tidak memperdulikannya sama sekali, dengan santainya ia berlari ke arah Rania.


" Maaf, ini salah ku yang pelupa, ini ada titipan dari dokter Alvin, " menyerahkan sepucuk surat, " beliau berpesan ' Bacalah sendiri dan jangan pernah memberitahu siapapun atau aku akan memberitahu teman mu tidak maksud ku dunia bahwa kamu itu spesial ' Begitu katanya. " jelas sang suster itu dengan nafas yang masih terengah-engah.


Rania terdiam, menatap sepucuk surat itu sejenak lalu di detik berikutnya ia memutuskan untuk mengambil benda putih itu dari sang suster. " Terima kasih, " ucapnya sambil membungkukkan badannya sedikit lalu pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah berjalan keluar rumah sakit, dahi Rania mengernyit heran ketika dirinya tidak menemukan siapapun yang menunggu atau menjemput dirinya bahkan Kuro dan Hedrian pun tidak ada, apakah mereka tidak merindukan kehadirannya?

__ADS_1


Memikirkan hal itu membuatnya sangat sedih.


" Rania! "


Tiba-tiba seorang wanita berteriak lalu menarik Rania ke dalam pelukan.


Rania tertegun sejenak hingga di detik berikutnya ia menyadari bahwa wanita yang menariknya kedalam pelukan itu adalah Vina, tantenya. Spontan, ia pun membalas pelukan itu sambil menangis sesenggukan,


" Maaf, Tante terlambat, kamu tidak apa-apa kan ? Apa kamu benar-benar sudah sembuh? " Tanya Vina cemas.


" Mmm tidak apa-apa dan aku sudah sehat kok. Terima kasih. " Ucapnya tanpa melepaskan pelukannya sama sekali. "


Rania menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


" Aww! " Tiba-tiba Rania menjerit kesakitan sambil memegangi kedua pipinya, kepalanya mendongkak menatap wanita yang baru saja mencubit pipinya dengan begitu keras, " tante kenapa cubit aku? "

__ADS_1


" Anggap saja itu sebagai hukuman karena kamu tidak memberitahu tante kalau kamu masuk rumah sakit, jika bukan Mia yang memberitahu tante, apa kamu ingin merahasiakan ini dari tante selamanya?! Rania apa kamu sungguh menganggap aku sebagai tante mu? Bagaimana bisa kamu memperlakukan ku seperti orang asing? "


" Apa yang tante bicarakan? " Jawabnya dengan sebuah pertanyaan sambil menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.


Vina menghela nafas, lalu menangkup kedua pipi keponakannya, memintanya berjanji untuk selalu melapor jika terjadi sesuatu.


" Iya, aku berjanji. "


" Janji apa? "


" Janji kalau aku akan selalu mengabari tante jika aku sakit atau apapun itu. "


Vina kemabli tersenyum, tangannya kembali mengusak puncak kepalanya sang keponakan, " bagus, anak pintar, kalau begitu, ayo kita pulang. "


Rania pun langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


Selama perjalanan, Tante Vina menceritakan betapa cemasnya dan merasa bersalahnya dirinya saat mengetahui keponakan tersayangnya masuk rumah sakit, terlebih lagi ia baru mengetahuinya hari ini, jika saja Mia tidak memberitahunya pasti selamanya ia tak akan pernah mengetahuinya.


Rania yang merasa sangat bersalah, menundukkan kepalanya sambil memainkan jarinya, di dalam hati ia mengeluh sampai kapan tantenya berhenti menceramahi dirinya?


__ADS_2