
Acara pertunjukan pun berjalan dengan begitu lancar, adegan tiap adegan di mainkan dengan begitu apik hingga para penonton kesulitan untuk mengedipkan matanya karena sekali saja berkedip mereka merasa akan melewatkan adegan penting, hingga tiba saatnya adegan paling ikonik dalam drama putri salju yaitu dimana sang putri memakan buah apel lalu jatuh tak sadarkan diri.
Saat adegan itu berlangsung, semua orang menahan nafasnya karena adegan ketika adegan sang putri salju yang kesakitan setelah memakan apel pemberian penyihir itu terlihat begitu nyata hingga membuat para penonton tak bisa membedakan apakah itu hanya akting atau asli. Kendati begitu para penonton sangat memuji akting para aktor yang memainkan karakter mereka masing-masing dengan begitu apik, hingga adegan yang paling mereka tunggu akhirnya tiba dimana tujuh pria tampan datang menghampiri sang putri dan menyelamatkannya.
Seketika ruangan teater di penuhi oleh suara jepretan foto yang ingin mengabadikan momen dimana tujuh pria paling tampan di sekolah berkumpul dalam satu tempat.
Namun, suara jepretan itu tiba-tiba berubah menjadi jeritan ketika sang putri salju bangun dan melukai salah satu pemain tujuh pria tampan di bagian bahunya.
Nafas semua orang tersekat, bagaimana bisa cerita putri salju berubah menjadi cerita pembunuhan. Mereka semua terdiam bingung, apakah adegan itu nyata atau hanya settingan? Tapi jika itu settingan mengapa pemeran lainnya terlihat ketakutan lalu mundur berlarian kecuali satu orang yang langsung menerjang sang putri salju dan menyumpal mulut sang putri.
Tak lama kemudian, para medis datang dan membawa pria yang terluka itu dengan tandu lalu tirai pun di tutup begitu saja. Para penonton pun di buat kebingungan
" Apa yang sedang terjadi? "
__ADS_1
" Apa pemeran putri salju itu benar-benar melukai salah satu pemeran pria itu? "
" Hey, apa benar ini cerita putri salju? "
Tak lama kemudian, semua penonton di giring keluar dari ruangan teater dengan alasan kesalahan teknis.
Meski mereka tak mengerti apa yang terjadi, tapi mau tak mau mereka harus menuruti. Akan tetapi saat pintu ruangan teater terbuka, tiba-tiba para penonton menjerit ketika pemandangan mengerikan di depan mereka, banyak mayat tergeletak di lantai.
Sementara itu, Kuro berusaha menahan Rania untuk tidak berbuat yang aneh-aneh, namun karena banyaknya aroma darah di mana-mana membuat Rania semakin sulit di kendalikan. " Rania! Sadarkan diri mu? " Teriak Kuro
Namun, ia tak mengerti mengapa bau itu menempel pada tubuh Rania, tetapi dengan bodohnya ia membiarkannya dan menganggap bahwa hidungnya bermasalah tapi siapa sangka dirinya menyesali keputusannya sekarang. Karena ia menyadari bahwa seseorang telah memberikan darah kotor pada Rania yang seharusnya tidak minum karena akan membuat inti kekuatan didalam tubuh Rania akan menggila dan haus akan darah itu lagi seperti yang terjadi saat ini. Jika dibiarkan seperti ini akan ada kemungkinan inti kekuatan miliknya akan mengambil alih tubuh Rania dan tak akan pernah mau untuk kembali bersamanya.
Satu-satunya cara adalah dengan menjemputnya meskipun itu akan membuatnya menggila dan kehilangan kendali seperti yang Rania rasakan. Kendati begitu, ia tak peduli dan memutuskan untuk mengambilnya sekarang juga.
__ADS_1
Ia pun mendekatkan dahinya untuk melihat alam bawah sadar Rania yang ternyata di dalamnya tengah terjadi kebakaran di mana-mana ia bahkan tak bisa melihat dan merasakan keberadaan Rania di mana pun, yang bisa dirasakan hanyalah panasnya bara api dari inti kekuatannya.
" Rania!! " Serunya.
" . . . "
" Rania di mana kamu? "
" . . . "
" Ra. . " Tiba- tiba Kuro di paksa keluar dari alam bawah sadar Rania dan pelakunya adalah Nala.
Wanita vampir itu tersenyum senang, " lama tidak berjumpa, pangeran. "
__ADS_1
" Ternyata itu kamu? "
" Benar, aku penasaran diantara kalian siapa yang akan mati. "