
Selama jam kerja, Rania tak bisa fokus sama sekali, bahkan beberapa kali dirinya harus meminta maaf pada pelanggan karena salah memberikan pesanan mereka, alhasil hari ini dirinya mendapatkan beberapa komplain dari beberapa pelanggan, padahal sebelumnya ia jarang melakukan kesalahan yang begitu fatal seperti salah memberikan pesanan.
Atasannya, Ryola yang mendapat teguran dari para pelanggan, meminta Rania untuk pulang lebih awal, tapi gadis itu menolak dengan alasan bahwa dirinya sedang kejar setoran.
Meski Ryola sudah menawarkan kasbon lebih awal, tapi Rania tetap bersikukuh dengan pendiriannya, Ryola pun menghela nafas, " baiklah, tapi ingat! Jika kamu melakukan kesalahan lagi maka kamu, Kakak skors! Mengerti! " Ucapnya dengan tegas.
Rania yang tampak senang di beri kesempatan kedua langsung menganggukkan kepalanya dan berjanji bahwa dirinya tak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.
Sebelum melanjutkan aktivitas bekerjanya, Rania terlebih dahulu menampar wajahnya dengan cukup keras agar dirinya tersadar dan fokus, mengesampingkan masalah Kuro dan Rania.
Sesuai janjinya pada Laura, Rania melebihkan jam kerjanya selama satu jam. Membuat Ryola menyesal karena sempat memarahi gadis itu, ia berpikir mungkin Rania merasa bersalah padanya.
Sebelum pulang, Ryola terlebih dahulu memberikan Rania sebungkus kotak makanan, sebagai jatah lemburnya.
Awalnya Rania ingin menolak, karena merasa tak enak karena sudah membuat restoran mendapat nilai buruk karena kinerjanya hari ini.
" Tidak apa-apa, lagi pula dari awal aku ingin memberikannya pada mu, " Ryola pun langsung menggantungkan plastik berisikan kotak makanan itu di sepeda listrik Rania.
" Tapi. .
" Kamu mau saya pecat. " Kata Ryola dengan tegas.
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa, Rania langsung menghidupkan sepeda listriknya lalu pergi sambil berteriak, " kalau begitu terima kasih atas makanan nya bos. "
Seketika Ryola terkekeh dengan tingkah gemas dari salah satu pegawai paruh waktunya itu, padahal dirinya hanya bercanda saja.
Di sisi lain, Rania yang hampir sampai ke depan pintu rumahnya, tiba-tiba menghentikan sepeda listriknya, ketika kedua matanya menangkap sosok yang tak asing tengah berdiri di bawah tiang lampu. Sosoknya yang terlihat dingin namun juga terlihat hangat dalam waktu yang bersamaan membuatnya terlihat tampan, terutama saat cahaya lampu menyoroti tubuhnya yang tinggi membuatnya tampak seperti patung porselen yang di ukir dengan begitu detail dan penuh kehati-hatian.
Menyadari akan kehadirannya, pria itu menolehkan kepalanya, seketika jantung Rania tiba-tiba berdegup dengan sangat cepat, terutama saat pria itu berjalan menghampirinya membuat jantungnya terdengar seperti sedang lomba memukul drum.
Tak! Tanpa di duga, sebuah sentilan mendarat di dahi Rania hingga membuatnya meringis kesakitan.
Kuro menatap dingin pada Rania, " kenapa baru pulang? Apa kamu tidak bisa melihat jam?! Dan kamu tahu betapa aku sangat mengkhawatirkan mu ketika jam berlalu begitu saja dan kamu belum kembali?! " Suara teriakannya begitu nyaring di dalam sunyinya malam yang hanya menyisakan suara jangkrik.
Rania tertegun sejenak, lalu tersenyum malu, ternyata pria itu sedang mengkhawatirkannya. Tapi di detik berikutnya ia teringat tentang Laura.
Sebelumnya, ia sudah curiga ketika Laura datang dan mengatakan bahwa dia hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya.
Untung saja, Hedrian membuat Laura tidak nyaman dengan kehadirannya lalu pada akhirnya, wanita itu hanya bisa bertahan beberapa jam saja
" Sungguh? Tapi Kenapa? Dia cantik dan berwibawa begitu pun dengan dirimu, aku yakin kalian akan menjadi pasangan yang serasi. "
Langkah Kuro pun terhenti, kepalanya menoleh menatap gadis yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh keingintahuan namun terlihat ada sedikit luka di dalam tatapan itu. Di detik berikutnya ia kembali meneruskan langkahnya sambil menatap ke depan. " Kamu memang benar dia cantik dan juga berwibawa, tak seperti seseorang, " sambil menoleh ke arah Rania.
__ADS_1
Kata-kata itu menusuk tepat di hati Rania, " jahat banget sih. " Katanya dengan nada ketus.
Kuro terkekeh geli, " tapi memangnya kenapa? Jika dia cantik, bukan berarti aku harus menyukainya bukan, aku punya selera sendiri dan Laura bukan selera ku. "
" Kamu pikir wanita itu makanan? "
Kuro hanya tersenyum tipis, lalu berjalan lebih cepat, mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan oleh Rania.
Merasa di abaikan, Rania menghentakkan kedua kakinya sambil berjalan mengikuti Kuro dari belakang sambil mendorong sepeda listriknya.
Namun langkahnya ikut terhenti ketika Kuro tiba-tiba berhenti, " Sebenarnya aku tak ingin menyukai orang yang sudah di sukai oleh adik ku sendiri, mungkin bagi mu aku seperti pria brengsek yang mempermainkan dua hati, "
Rania terdiam mendengarkan.
Tanpa menolehkan kepalanya, Kuro mengatakan bahwa pertunangan itu bukanlah kemauannya melainkan karena keinginan mendiang kedua orang tuanya, karena mereka menginginkan menantu dari seorang jendral.
Saat itu dirinya belum menyadari bahwa Robet menyukai Laura, kemudian sehari sebelum insiden pemberontakan yang di lakukan Cesire, sang adik memberitahukan perasaannya terhadap Laura padanya.
Hingga sampai saat ini, Laura belum tahu akan perasaan Robert padanya.
Untuk pertama kalinya, Rania melihat Kuro yang begitu terbuka, tampak ada kelegaan di wajahnya, seakan-akan apa yang mengganggu pikirannya telah terangkat sebagian. Tapi Rania tak pernah menyangka bahwa Kuro adalah pria yang sangat menyayangi adiknya, bahkan rela berkorban sang adik.
__ADS_1
" Dan juga, lain kali pulanglah tepat waktu, apa kamu tahu betapa tersiksanya aku yang harus tinggal dengan anjing itu? Setiap jam dia merengek membuat gendang telinga ku sakit, sampai kapan dia akan tinggal? Kamu tidak berniat untuk menampungnya untuk selamanya kan? "
Rania terdiam lalu memalingkan wajahnya sambil berjalan mendahului Kuro,