
" Selamat pagi Rania, bagaimana kabarmu? " Sapa ketua kelas, Luois
Rania yang tengah berjalan menuju kelas langsung menoleh sambil tersenyum, " Selamat pagi juga ketua kelas, aku baik lalu bagaimana dengan mu? "Tanya Rania kembali.
Sang ketua kelas, Luois tersenyum lega sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali, " Syukurlah, aku juga baik senang akhirnya kamu bisa kembali ke sekolah, aku yakin kelas kita akan kembali hangat. " Jelasnya
Keduanya pun saling bertukar kata, seperti membicarakan keadaan sekolah selama Rania tidak masuk sekolah, hingga tiba-tiba pertanyaan Louis tentang alasan Rania harus tinggal di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama membuat langkah kaki mereka terhenti.
Rania pun mengernyitkan dahinya, seakan pertanyaan Louis terasa aneh di telinganya, " satu bulan? " Tanyanya pelan.
" Kenapa? Apa aku salah? " Tanya Louis kembali.
" Tidak, hanya saja aku tak tahu bahwa aku di rawat selama itu. " Jawab Rania yang terlihat kebingungan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Rania. "
__ADS_1
Rania menoleh dengan ekspresi kebingungan, " Iya? Kenapa? "
" Apa kepala mu baik-baik saja? " Tangan Luois terulur memegang kedua pipi Rania sembari menatapnya dengan tatapan cemas.
" Eh? Aku. .
" Apa kalian tidak tahu bahwa di larang berkencan di sekolah? "
Rania dan ketua kelas terlonjak kaget secara bersamaan ketika mendapati Guru sekaligus wali kelas mereka, Mikael. Tiba-tiba merangkul bahu Louis dan Rania sembari menatap mereka secara bergantian dengan tatapan menyebalkan.
Mikael hanya tersenyum tanpa merasa dosa sedikitpun, ia kemudian langsung menyuruh kedua muridnya itu masuk ke dalam kelas untuk memulai pelajaran.
Tak ingin lagi berdebat dengan guru mereka, Rania dan Louis pun langsung masuk ke dalam kelas tanpa berkata sepatah katapun.
Selama kelas berlangsung, Rania banyak melamun entah kenapa dirinya merasa telah melupakan banyak hal, tapi ia tak tahu apa itu, setiap kali bertanya pada Kuro maupun Hedrian, mereka selalu bersikap seperti tidak tahu apapun terkadang mereka berdua selalu mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
Pernah sekali dirinya juga bertanya pada Laura dan Robert tapi sayangnya mereka tampaknya begitu kompak dengan Kuro yang tidak ingin memberitahunya. Adapun paman pengemis itu menjadi sulit di temukan bahkan kehadirannya terasa menghilang bagaikan debu yang terhempas oleh angin padahal Rania ingin bertemu dan bertanya beberapa hal yang tidak bisa di jawab oleh dua makhluk halus di rumahnya dan juga. . . Apakah Mia baik-baik saja di sana?
" Rania. "
" . . . "
" Raniaaaaaa. "
" Akhhhh!! " Tiba-tiba Rania menjerit ketika terkejut Mikael tiba-tiba berada tepat di depan matanya dan tanpa sadar tangannya memukul wajah Mikael cukup keras dengan buku ditangannya. Sontak kejadian itu menarik perhatian seisi kelas dan menjadikan murid dan guru itu pusat perhatian
Rania pun spontan membulatkan kedua bola matanya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia sangat terkejut sekaligus terheran-heran dengan tindakannya sendiri, " Pak, saya. . .
Mikael tiba-tiba mengangkat kepalanya, menenangkan murid-murid dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja dan berkata untuk tidak mencemaskan dirinya, namun tiba-tiba hidungnya mengeluarkan banyak darah.
Dan di sinilah Rania berada, di lorong sekolah, dia berdiri seorang diri sembari mengangkat salah satu kakinya dengan kedua tangan memegang telinganya di kedua sisi. Dia di hukum atas sikapnya sampai bel istirahat berbunyi, tak hanya sampai di situ saja, karena kepala sekolah tempat Rania berada merupakan seorang wanita yang sangat menyukai wajah Mikael, dia menambahkan hukuman pada Rania berupa membersihkan rumput belakang sekolah selama satu minggu.
__ADS_1
Meski ingin protes, tapi Rania menyadari bahwa kesalahannya cukup fatal dan sangat tidak berpendidikan, maka dari itu dirinya hanya menerimanya.