Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
97


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Di sudut sebuah bar bernuansa klasik seorang pria berbadan tinggi kurus dengan sepasang mata Phoenix serta sebuah jam tangan mewah melingkar indah di tangannya yang sedikit kurus tengah menikmati segelas cocktail di tangannya sembari menikmati sunyi bar yang hanya berisikan beberapa pria tua dan seorang bartender muda.


Dulu bar ini cukup terkenal dengan penyajian serta suasananya yang bisa menenangkan pikiran, tapi seiring berjalannya waktu tempat itu mulai sepi. Kendati begitu, sang pemilik mampu mempertahankan tempat itu hingga kini dengan mempertahankan keaslian tempat itu tanpa merubah sedikitpun. Sayang banyak tak tahu tempat itu karena Bar itu sangatlah terpencil dan sangat sulit di temukan hanya segelintir orang yang mengerti minuman keras yang bisa menemukan tempat tersebut.


Di saat pria itu tengah menikmati minumannya, tiba-tiba seorang perempuan datang menghampirinya lalu tanpa membuang waktu, perempuan itu langsung memberitahu tentang kematian Mia, Bruno beserta beberapa bawahan elit mereka termasuk para investor yang memutuskan hubungan kontrak saham dengan alasan mereka tak ingin membuang waktu, uang serta nyawa dengan sia-sia.


Seakan tahu apa yang akan terjadi, pria itu hanya tersenyum lalu kembali meneguk minuman di tangannya, dengan tatapan dinginnya ia berkata " Tampaknya, kali ini Frank menang lagi. "


" Presdir, apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita menculik gadis itu kembali dan menyembunyikannya di tempat lain? " Tanya cemas sang asisten.


" Tidak, biarkan saja dia berbuat sesuka hati, tugas kita hanya perlu menunggu sampai buahnya matang. Kamu mengerti kan akan maksud ku? " Jelas pria itu.


Sang assisten terdiam sejenak, " Presdir, bolehkah saya bertanya satu hal? "


" Apa itu? "

__ADS_1


" Apa perkataan profesor Frank itu benar? Bahwa putrinya akan mati cepat atau lambat? Jika benar seperti itu bukankah besar kemungkinan proyek kita gagal? "


Pria itu menyunggingkan bibirnya, tanpa sepatah katapun, dia mengambil jas luarannya, kemudian bangkit dari posisi duduk sambil menepuk lembut pundak sang assisten lalu pergi meninggalkan asistennya yang masih kebingungan.


Sementara itu, Rania baru membuka kedua matanya, ia terbangun lalu terdiam sejenak menatap ke arah sekitar kemudian memutuskan turun dari ranjang untuk melihat cahaya pagi yang begitu terang benderang. Rania menebak bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh siang.


" Sudah bangun? " Tanya Hedrian sambil berlari kecil dengan mengibaskan ekornya ke sana kemari mengisyaratkan bahwa dia senang melihat Rania yang tampak lebih sehat.


Rania menolehkan kepalanya sambil tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Hedrian dengan lembut entah kenapa dirinya merasa bahwa mereka sudah lama tidak bertemu, membuatnya merasa rindu lalu memeluk Hedrian dengan begitu erat


Tak ingin melewatkan kesempatan emas, Hedrian pun menikmati sensasi pelukan tersebut


Hedrian terdiam sejenak, kepalanya mendongkak menatap wajah Rania " hari senin, kenapa memangnya? " Jawabnya polos.


Layaknya mendapat sebuah sambaran petir, Rania langsung bergegas berlari keluar kamar menuju kamar mandi, namun di tengah perjalanan tubuhnya tak sengaja menabrak seseorang dengan sangat keras hingga membuatnya terpental dan hampir jatuh ke lantai jika sebuah tangan tidak segera menggapai pinggangnya.


Perlahan ia membuka kedua matanya dan terkejut ketika sosok yang baru ditabraknya itu ternyata adalah Kuro.

__ADS_1


" Mau kemana? " Tanyanya datar.


" Tentu saja sekolah, memangnya kemana lagi, " balas Rania sambil menjauhkan diri dari Kuro, sejenak ia merasa jantungnya terasa mau copot.


" Jam segini? "


Rania terdiam lalu menatap ke arah luar, ia lupa bahwa hari sudah sangat siang jadi tidak mungkin baginya untuk pergi ke sekolah karena yang ada dirinya pasti berakhir di usir, spontan tangannya menutupi kedua wajahnya karena menahan malu lalu kembali bergegas menuju kamar tidur untuk mengurung diri, tapi langkahnya terhenti ketika kerah bajunya di tahan oleh Kuro.


" Karena kamu sudah bangun, ayo kita piknik. "


" Eh? Tiba-tiba? Kenapa? "


" Kalau tidak mau juga tidak apa-apa. "


" Tentu saja mau!! " Dengan secepat kilat Rania berlari ke kemar mandi dengan wajah riangnya.


Tak lama setelah Rania pergi ke kamar mandi, Hedrian datang menghampiri Kuro dan bertanya tentang keputusan mereka yang harus menghapus ingatan Rania lagi, bukankah hal itu akan membahayakan nyawanya apalagi mereka tak tahu apa yang akan terjadi nanti.

__ADS_1


" Setidaknya dia tak akan sedih karena telah di khianati oleh temannya sendiri. " Jawab Kuro singkat.


Hedrian tak menjawab kembali, memang keputusan mereka kali ini terlalu ekstrem, apalagi mereka tak tahu efek dari penghapusan ingatan itu, tetapi hal yang paling membuatnya penasaran adalah sebenarnya apa yang terjadi kala itu, karena sejak saat itu wajah Kuro terlihat begitu tertekan seakan menyiratkan bahwa ada ketakutan serta kekhawatiran yang tidak bisa dia bagikan pada orang lain apalagi saat tatapannya menatap Rania


__ADS_2