
Sekembalinya dari ruangan Mia, raut wajah Dokter Alvin terlihat begitu depresi dan juga tertekan, membuat semua orang yang berada di lab enggan untuk sekedar menyapa atau pun bertanya, mereka takut jika salah ucap dan akhirnya membuat pria itu meledak.
Sementara itu, Dokter Alvin tidak menghiraukan tatapan dari para bawahannya karena dirinya tak punya waktu untuk memikirkan mereka, karena sekarang dirinya harus berpikir bagaimana caranya mengekstrak darah Rania yang kembali tidak stabil itu, di satu sisi dirinya pun ingin segera menyelesaikan semua penelitian ini dan menghirup udara segar, tapi di sisi lain dirinya tak bisa mengorbankan anak dari temannya sendiri yaitu Frank, dan juga dirinya tak bisa melihat seseorang yang begitu mirip dengan seseorang yang pernah disukainya akan menerima rasa sakit yang begitu luar biasa ketika darah itu di ekstrak secara paksa.
" Ada apa dengan wajah mu Dok? " Tanya Cisa, salah satu bawahan kepercayaan Dokter Alvin yang paling berani mengutarakan isi hatinya.
Tubuh Dokter Alvin sedikit tersentak, ia pun menghela nafas lalu berdecak beberapa kali membuat bawahannya, Cisa bingung dengan sikap atasannya.
Kendati begitu, Cisa sudah tidak aneh lagi, karena setiap kali atasannya pergi ke ruangan ketua, wajahnya pasti akan terlihat frustasi, apa dia melakukan kesalahan lagi? Pikirnya.
__ADS_1
" Tolong bawakan hasil lab hari ini. "
" Bukankah tadi. . .
" Bisakah kamu mengikuti apa yang aku perintahkan?! "
Mendengar suara intonasi suara Dokter Alvin yang begitu dingin dan penuh penekanan, membuat Cisa menjadi takut dan segera pergi mengambil salinan data hasil lab yang di minta.
Tanpa menoleh sedikitpun, Dokter Alvin segera mengambil data itu kemudian membacanya dengan seksama, akan tetapi berapa kali pun ia membaca isi data tersebut, semakin membuatnya sakit kepala, karena kondisi Rania saat ini sangat tidak memungkinkan, apalagi pergerakkan Kuro hari ini membuat benda itu sedikit terusik.
__ADS_1
Awalnya ia mengira, jika benda itu bertemu dengan pemiliknya, kemungkinan besar benda itu akan merespon. Akan tetapi responnya tidak begitu kuat, bahkan saat Kuro menghisap darah Rania pun, benda itu masih kurang merespon, maka dari itu ia mencari cara lain dengan memilih memulihkan ingatan Rania, berharap benda itu akan lebih merespon dari sebelumnya. Secara ajaib caranya itu berhasil menarik respon dari benda itu, akan tetapi responnya terlalu kuat hingga tubuh Rania hampir tak bisa menahannya.
Saat Mia mengetahui hal tersebut, dia pun menjadi marah besar padanya dan memintanya untuk menyetel ulang lagi ingatan Rania dari awal dan menyuruhnya untuk memisahkan mereka berdua, tapi siapa sangka manusia serigala itu hampir menggagalkan rencananya, beruntung Mikael segera menyadarinya dan membereskan manusia serigala itu.
Akan tetapi, ini bukan waktunya mengoreksi kesalahannya di masa lalu, karena sekarang dirinya harus mencari cara bagaimana mengekstrak darah Rania tanpa menyakitinya dan satu-satunya cara yang pikirkan adalah dengan menemui ayah Rania sendiri, yaitu Frank. Karena dia yang paling putrinya serta benda yang ada di dalam tubuh putrinya itu. Tetapi, bagaimana jika pria itu menolak untuk menemuinya? Mengingat dia adalah satu orang yang bekerja sama menculik putrinya.
Setelah cukup lama terdiam, Dokter Alvin pun memutuskan untuk menemui Frank, tak peduli jika dirinya akan berakhir di usir, setidaknya dirinya sudah mencoba.
Tanpa pikir panjang, ia pun mengganti jas lab miliknya dengan jas kulit kesukaannya, lalu pergi menuju parkiran untuk mengendarai sepeda motor yang sengaja disimpannya di parkiran rumah sakit untuk digunakannya saat suatu keadaan mendesak seperti ini.
__ADS_1
Seakan dirinya adalah Raja Jalanan, Dokter Alvin mengendari sepeda motornya dengan kecepatan penuh. Hanya membutuhkan satu jam dari tiga jam biasanya, ia sampai dimana pria itu berada, tempat itu begitu kumuh dan juga kotor. Hanya orang-orang awam saja yang tak akan pernah tahu bahwa di tempat kumuh nan kotor ini, tinggal seorang jenius yang membuat segala yang tak mungkin menjadi suatu yang mungkin, dan orang itu adalah Frank Mohenhaim