Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
104


__ADS_3

" Apa yang sudah lakukan pada Aria? " Tanya Rania setelah Aria dan kawan-kawannya telah pergi.


Laura menoleh menatap wajah Rania tanpa ada perasaan menyesal atau pun merasa bersalah sedikitpun, dia kemudian berkata bahwa dirinya tak melakukan apapun terhadap Aria, dirinya hanya memberi sedikit pelajaran agar gadis itu agar berhenti bersikap sombong.


" Jangan salah paham, aku sedang tidak membantumu, aku hanya tak suka saja dengan sikap Aria yang selalu merendahkan orang lain hanya karena dia memiliki kehidupan yang beruntung dari pada orang lain.


Rania menyipitkan kedua matanya, dirinya tahu bahwa Laura sengaja melakukannya untuk membelanya, hanya saja perempuan ini terlalu malu untuk mengungkapkannya, kendati begitu tindakannya itu tetap terlalu berlebihan apalagi kedua orang tua Aria adalah orang yang paling berpengaruh di sekolah ini, takutnya hal ini akan menjadi masalah nantinya.


Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Rania, Laura kemudian berkata untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya karena yang perlu di khawatirkan adalah Rania sendiri.


" Memangnya aku kenapa? " Tanya Rania dengan wajah polosnya.


Laura memejamkan kedua matanya sembari menghirup nafas menghadapi sifat Rania yang begitu bodoh, ia tak mengerti bagaimana bisa Mia tahan dengan sikap bodoh Rania selama ini, jika ia jadi dia mungkin dirinya akan memilih orang lain untuk menukar posisinya dari pada menghadapinya secara langsung.


Tetapi ia penasaran bagaimana perasaan Rania jika dia tahu bahwa Mia telah mati dan selama ini pertemanan mereka semuanya palsu.


Sementara itu, Rania merasa sangat risih karena di tatap oleh Laura dengan waktu yang cukup lama, " a. .


Tiba-tiba Laura melepaskan jas almamaternya ke wajah Rania sambil berkata, " lain kali jangan biarkan orang lain merendahkan mu karena hanya aku seorang yang boleh merendahkan mu. Ingat itu baik-baik. " Ia pun pergi berlalu begitu saja.

__ADS_1


Rania hanya terdiam termangu menatap punggung Laura yang perlahan menjauh sembari mencoba mencerna ucapan wanita itu, mengapa ada yang salah dengan kata-kata itu. Tapi Rania tak ingin ambil pusing dan memilih untuk ke kamar mandi untuk membersihkan pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian yang baru saja Laura berikan.


Karena trauma kejadian kemarin, Rania memutuskan untuk langsung pulang namun langkahnya terhenti dengan wajah tersenyum cerah melihat Kuro yang menjemputnya dan yang lebih membahagiakannya lagi Hedrian juga ikut menjemputnya, rasanya Rania seperti memiliki dua kakak yang peduli padanya.


Selama perjalanan pulang, Rania menceritakan keluh kesahnya selama di sekolah termasuk perlakuan Laura yang membelanya atas sikap kasar Aria.


Kuro dan Hedrian hanya terus berjalan sembari mendengarkan keluh kesah Rania. Namun langkah mereka terhenti ketika mendengar suara jeritan yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.


Karena penasaran, mereka bertiga memutuskan untuk mencari tahu. Ternyata suara itu berasal dari sebuah kecelakaan mobil yang menabrak pembatas jalan hingga wajah mobil itu hancur tak berbentuk dan tampaknya si pengemudi tewas saat itu juga, saat di evakuasi, keadaan jasad pengendara cukup mengenaskan dengan tubuh yang berlumuran darah.


Hedrian sangat menyayangkan akan nasib pengemudi itu yang tampaknya usianya masih di awal dua pulu tahunan, sudah di pastikan penyebab kecelakaan itu pasti karena miras.


" Rania, kelak kamu jangan seperti. . . " Ucapan Hedrian saat sadar bahwa Rania bertingkah aneh, ' Rania ada apa dengan mata mu? " sambungnya saat menyadari tak hanya sikapnya saja yang berubah tapi kedua bola mata Rania juha terlihat berubah menjadi bahkan auranya mendadak menjadi aneh, dia tampak seperti seorang Vampir


Apa jangan-jangan. . . .


Hedrian segera melirik Kuro yang masih belum menyadari akan perubahan Rania dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tapi sekarang bukan saatnya untuk berdebat, terlebih dahulu dirinya harus segera menyadarkan Rania

__ADS_1


" Rania. "


" . . . "


" Rania~ "


" . . . "


" Rania! "


.


Seketika Rania pun tersadar dengan panggilan Hedrian, ia pun segera menampar kedua pipinya dengan cukup keras sembari menggumamkan sesuatu yang Hedrian sendiri sulit untuk mendengarnya.


Hedrian yang merasa aneh mencoba untuk mendekati Rania, memastikan bahwa Rania baik-baik saja, akan tetapi Kuro tiba-tiba memeluk Rania dan menenggelamkan wajah Rania ke dalam dada, lali berkata, " jangan di lihat, jangan di cium. "


" Tapi. . .


" Lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini. "

__ADS_1


Tanpa membantah sedikit pun Rania menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


__ADS_2