Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
85


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara bunyi ketukan pintu dari luar, di ikuti oleh suara berat dari seorang pria, " Ketua, ini aku. "


Seakan sudah tahu siapa pemilik suara tersebut, Mia pun langsung mempersilahkan orang itu masuk tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar komputer miliknya.


Tak lama kemudian, sosok Darian dan Mikael pun muncul dari balik pintu itu lalu memberi hormat pada Mia.


" Ada apa Ketua memanggil kami? " Tanya Darian langsung.


Kedua sudut bibir Mia terangkat ke atas, ia sangat suka dengan sikap Darian yang selalu to the poin. Sembari memangku dagunya dengan kedua tangannya, ia langsung mengungkapkan alasannya memanggil mereka, ia meminta keduanya untuk mengawasi Rania lebih ketat lagi, karena menurut laporan Dokter Alvin, Kuro sudah tahu dimana Rania berada, meski ia tak yakin pria itu tahu dimana rumah Rania tapi ia ingin memastikan jangan sampai Kuro dan vampir lainnya mengetahui rencananya apalagi sampai menghancurkan segalanya, Ia tak ingin kejadian Hedrian terulang kembali, jika saat itu dirinya tak melihatnya, mungkin semua rencananya akan terancam gagal kembali.


Kini pria serigala itu sedang di tidurkan di dalam salah satu kapsul yang berada di dalam lab dan kemungkinan tersadar pun sangatlah kecil.

__ADS_1


Meski semua rencana dan persiapannya sudah mencapai sembilan puluh persen bahkan siapapun tak akan bisa merusaknya, tetapi sebagai antisipasi ia tak ingin Rania mengingat masa lalunya sebelum dirinya mendapatkan apa yang diinginkannya. Apalagi dirinya sudah terlalu banyak berkorban untuk projek ini.


" Ngomong-ngomong, ada apa dengan wajah mu? Apa kamu sakit? " Tanya Mia yang sejak tadi merasa gatal dengan penampilan Mikael yang terlihat begitu berantakan tak seperti biasanya.


" Ah, saya sebenarnya tidak sakit, tadi. .


" Kamu benar, maaf aku lupa kalau manusia jenis kalian tak mungkin jatuh sakit. " Sela Mia, " oh iya, apa kalian sudah dengar? Ada orang gila yang menggantung dirinya secara terbalik hanya untuk melihat sunrise, " mendengus, " pria itu bukan bagian dari kita kan? "


" Memangnya kenapa jika dia bagian dari kami? Apa yang anda lakukan? " Tanya Mikael penasaran.


" Tentu saja aku akan membongkar isi kepalanya dan menggantinya dengan yang lebih pintar, aku tak ingin orang-orang ku itu seorang idiot. " Jawab Mia dengan begitu santai


Tanpa sadar, Mikael memegang kepalanya sambil meneguk salivanya. Ia berpikir, jika dirinya berkata jujur, kemungkinan kepalanya benar-benar akan di bongkar.

__ADS_1


Dengan cepat, Mikael menggelengkan kepalanya, ia tak ingin hal mengerikan seperti itu terjadi padanya.


" Sejujurnya orang itu. . .


Tangan Mikael bergerak dengan sendirinya dan membungkam mulut Darian, " jadi, ketua. Apa anda ingin kami tinggal bersama Rania? " Sela Mikael dengan cepat.


Mia terdiam sambil mengetuk-ngetuk jari kukunya di atas meja, " tidak, tidak perlu. Kalian berdua hanya perlu mengawasinya dari jauh dan memastikan kucing hitam itu tidak mendekati Rania, dan juga. . . Apa kalian melihat Dokter Alvin? Sejak tadi, aku tidak melihatnya . "


Mikael terdiam, lalu melirik Darian yang tengah menatapnya dengan tatapan dingin. Ia pun segera melepaskan tangannya dari mulut pria itu. Entah kenapa tiba-tiba bulu kuduknya berdiri semuanya dan membuatnya merinding.


" Bukankah, dia sedang berada di lab? "


Mia mendongakkan kepalanya, lalu kembali tertunduk sembari berpikir apakah dirinya terlalu keras pada pria itu?

__ADS_1


__ADS_2