Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
63


__ADS_3

Sejak pagi buta, Nenek Rania sudah berkutat di dapur dengan menggunakan peralatan yang masih tradisional seperti tungku kayu, cobek batu dan beberapa alat masak yang terbuat dari batang pohon bambu. Rania yang saat itu telinga pendengaran sedang cukup sensitif, memutuskan untuk bangun lebih awal dari yang lainnya untuk membantu sang nenek di dapur.


" Mau aku bantu nek? " Tanya Rania dengan wajah bantalnya sambil menguap lebar.


Nenek Rania menoleh sejenak lalu melanjutkan aktivitasnya memotong sayuran, " nggak usah, kamu tidur lagi aja sana, kasihan kamu pasti capek habis melakukan perjalanan panjang kemarin, lagi pula Nenek bisa melakukannya sendiri. "


Rania tersenyum tipis, lalu berjalan menghampiri sang nenek, memeluk tubuh renta itu dari belakang, mencoba mengganggu sambil melihat aktivitas sang nenek.


Nenek Rania menggelengkan kepala dengan sikap cucunya yang tidak berubah sejak kecil, dulu pun dia selalu memeluknya dari belakang untuk mengganggu aktivitasnya, " dari pada kamu ganggu nenek seperti ini, lebih baik kamu pergi sana beresin gudang, " perintahnya.


Dengan sigap, Rania pun menerimanya sambil berpose layaknya seorang tentara hingga mengundang gelak tawa sang nenek.


Sesampainya di gudang, Rania tiba-tiba teringat pada masa ibunya yang masih hidup, sering kali ibunya selalu menghabiskan waktunya di tempat ini dari pagi hingga malam untuk membuat yang menurutnya adalah karya seni, terkadang Rania pada saat itu amat penasaran dengan apa yang dikerjakan ibunya saat itu, tetapi ibunya selalu melarangnya masuk dengan alasan terlalu banyak debu benda-benda tajam.

__ADS_1


Jika di ingat kembali, ibunya juga merupakan seorang arsitek sama seperti mendiang ayahnya.


Tiba-tiba Rania penasaran bagaimana kisah mereka bertemu? Ia pun menelusuri setiap sudut tempat itu berharap bisa menemukan sesuatu, hingga matanya menangkap sebuah album photo yang terselip di samping meja kerja mendiang ibunya dulu.


Dengan susah payah Rania mencoba mengambil benda itu, hingga beberapa saat kemudian ia pun berhasil mendapatkannya. Dirinya terheran mengapa ada buku album di sana, padahal neneknya adalah orang yang paling menjaga barang-barang berisikan kenang-kenangan, seperti buki album yang tengah dipegangnya ini.


Dari pada terus penasaran, Rania pun memutuskan untuk membuka photo Album itu yang ternyata merupakan kenangan masa muda ibunya sebelum dan sesudah menikah dengan ayahnya. Banyak kenangan di sana, dari pertama kali mereka bertemu di taman hingga momen-momen romantis mereka berdua yang tampaknya selalu mereka abadikan melalui jepretan photo.


Tenyata mereka begitu saling mencintai, andai saja mereka masih ada di sini, mungkin ia bisa melihat dan merasakan kegembiraan dan cinta mereka.


Di dalam album photo itu juga, ia menemukan photo ibunya dengan paman Jinu dan Vina, mereka bertiga tampak terlihat begitu akur.


Kedua sudut bibir Rania pun terangkat ke atas, ia pun melanjutkan membuka halaman album photo tersebut hingga tangannya terhenti ketika ia melihat potret dirinya saat masih bayi bersama mendiang ayah dan ibunya.

__ADS_1


Spontan, jari jemarinya bergerak mengelus poto keluarganya. Seketika ia pun menjadi emosional, tanpa di sadari air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya hingga menetes membasahi poto keluarganya.


Rania tiba-tiba merindukan sosok kedua orang tuanya, meski ingatannya masih tumpang tindih, tapi ia tahu dan bisa merasakan bahwa cinta mereka sangat besar padanya, bahkan rela melakukan apapun hanya demi dirinya.


Selama hampir tiga tahun ini, dirinya selalu berusaha untuk tetap kuat dan mandiri dalam mengatasi masalah hidupnya.


Akan tetapi di balik sikap tangguhnya itu, Rania tetaplah seorang anak yang merindukan kasih sayang kedua orang tuanya, ia rindu dengan belaian tangan ibunya, ia rindu akan pelukan dan kasih sayang ayahnya. Selama ini juga, dirinya telah menyembunyikan perasaan ketidakberdayaannya dan juga kerinduannya terhadap mendiang kedua orang tuanya. Bohong, jika selama ini dirinya sudah terbiasa hidup sendiri dan mandiri, nyatanya setiap malam ia selalu merasa kesepian dan juga sedih, hingga akhirnya Kuro dan Hedrian datang dan mengubah kesehariannya yang terasa lebih hidup dan hangat.


Namun, ia tak tahu sampai kapan kebersamaan mereka akan terus berlanjut? Karena ia menyadari suatu hari nanti kedua pria itu pasti akan pergi meninggalkannya ke tempat mereka berasal. Jika sampai saat itu tiba, akankah ia sanggup melewati harinya tanpa kehadiran mereka dan kembali ke kehidupannya yang sunyi? Membayangkannya saja sudah membuatnya terasa nyeri di dada.


Setelah cukup lama menenangkan diri, Rania pun melanjutkan melihat isi album photo itu hingga tangannya kembali terhenti pada sebuah poto gruf berisikan lima anggota, yaitu dirinya saat bayi, Ayah, Ibu, Dokter Alvin, dan juga. . . .


" Mia? "

__ADS_1


__ADS_2