Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
64


__ADS_3

Mau di lihat berapa kali pun, Rania tetap merasa bahwa wanita dalam poto ini terlalu mirip dengan temannya, jika di bilang ibunya? Rasanya Mia mengatakan bahwa dia lebih mirip dengan ayahnya ketimbang ibunya, apakah Mia memiliki seseorang yang mirip dengannya? Rania pun terdiam sambil berpikir, hingga


" Ra! Lo lagi apa?! " Tiba-tiba Mia datang dengan membuka pintu gudang dengan cukup keras.


Tubuh Rania tersentak kaget, spontan tangannya memasukkan photo itu ke dalam saku kardigan yang tengah di pakainya lalu menutup buku album photo album tersebut, tangannya kemudian mengusap jejak air mata di pipinya yang masih tersisa, ia pun kemudian menoleh, " oh, aku lagi di suruh beres-beres gudang sama nenek, " jawabnya ringan.


Namun, tampaknya Mia sedikit ragu dengan jawaban Rania, apalagi gelagatnya terlihat sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Ia pun menyipitkan kedua matanya, menatap temannya dengan tatapan curiga, sambil memperhatikan setiap sudut gudang itu yang terlihat masih berantakan." Jangan bohong, tapi gue lihat lo cuman berdiri doang tuh nggak ngapa-ngapain. "


Tanpa sadar, Rania meneguk salivanya sambil membawa buku album photo ke belakang punggungnya.


Mia yang menyadari hal itu semakin curiga, ia pun berjalan menghampiri Rania lalu merebut buku album photo itu.


Akan tetapi di detik berikutnya, tubuh Mia tertegun setelah mengetahui isi dari buku album photo tersebut yang ternyata berisikan kenangan milik mendiang ibu Rania yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu, seketika perasaan bersalah pun menyelimuti dirinya karena merebut paksa buku album photo tersebut. Tanpa sadar, Mia menggigit bibir bawahnya lalu menyerahkan buku itu pada Rania


" Ra? Ini. . .Sorry, gue nggak tahu, " ucapnya dengan perasaan bersalah.


Rania tersenyum tipis, lalu mengambil album poto itu dari tangan Mia sambil mengatakan bahwa dirinya tidak sengaja menemukan album poto itu, ia tidak bermaksud mengorek luka di masa lalu.

__ADS_1


Meski temannya terdengar baik-baik saja, tapi Mia merasakan bahwa Rania pasti sedang sangat merindukan mendiang kedua orang tuanya. Tanpa meminta persetujuan Rania, Mia langsung menariknya kedalam pelukan. Keduanya terdiam tanpa kata hingga. . .


" Kalian berdua sedang apa? " Tanya Laura yang baru saja tiba dan melihat mereka yang tengah berpelukan.


Spontan keduanya menoleh, menatap sosok Laura yang tengah berdiri dengan tatapan aneh, karena posisi mereka yang sedang berpelukan di dalam gudang.


Mia berdecak kesal karena merasa kehadiran Laura selalu datang di waktu yang tidak tepat bahkan merusak momen sensitifnya bersama Rania, padahal dirinya baru akan berperan sebagai seorang sahabat yang selalu ada dan akan menjadi orang pertama saat temannya itu sedang kesulitan, tapi sayangnya hal itu tidak terjadi karena Laura sudah menghancurkannya.


Sadar akan arti tatapan Mia padanya, Laura menyunggingkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada. " Apa yang kamu lihat? " Tanyanya datar.


Laura pun hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Mia yang begitu kekanak-kanakan, tak lama kemudian ia pun memutuskan untuk menyusulnya. Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari bahwa Rania masih berdiam diri di sana tanpa berniat pergi satu langkah pun. Laura pun menaikkan salah satu alisnya kemudian bertanya, " kamu tidak ikut? Nenek sudah menunggu mu dari tadi. "


Rania mendongakkan kepalanya lalu menjawab bahwa dirinya akan pergi menyesal setelah selesai membereskan beberapa barang yang sudah terlanjur ia berantakan.


" Perlu bantuan? "


" Tidak perlu. "

__ADS_1


" Kalau begitu cepatlah, jika tidak, Hedrian akan mengamuk karena waktu sarapannya sedikit terlambat, " Laura pun pergi tanpa menunggu jawaban lagi dari Rania.


Setelah Laura dan Mia pergi, Rania pun kembali terdiam sejenak, di detik berikutnya ia menampar wajahnya sendiri dengan cukup keras agar membuatnya fokus kembali. Sebelum adanya bukti kuat, ia tak boleh mencurigai temannya sendiri. Setelah cukup lama berpikir, ia memutuskan untuk meletakkan buku album photo tersebut ke dalam dus buku yang sudah lama tidak terpakai.


Di samping meja makan.. .


Kuro terdiam menatap sarapan paginya yang hanya berisikan nasi yang telah di campur dengan ikan asin, meski sejujurnya ia tidak memerlukan makanan sama sekali, tapi demi formalitasnya sebagai seekor kucing, Kuro terpaksa memakan makanan sampah yang telah di sediakan oleh Rania setiap kali paman, bibi dan juga Mia datang ke rumahnya. Tapi setidaknya, makanan itu masih bisa Kuro kunyah meski pada akhirnya ia akan memuntahkannya.


Tapi ternyata, makanan sampah itu lebih baik dari makanan sampah yang ada di depan matanya ini. Ia tak mengerti, mengapa nenek Rania memberinya makanan sampah seperti ini, . Namun yang membuatnya semakin aneh adalah mengapa Hedrian begitu menikmati makanan sampah ini dengan begitu lahap seakan-akan dia belum makan selama tiga hari.


" Kamu tidak memakannya? " Tanya Hedrian melalui telepati.


" Aku tidak memakan sampah. "


" Boleh aku makan? "


" Lakukan saja sesuka mu. " Kuro pun memilih pergi berjalan keluar dari rumah untuk menghirup segar

__ADS_1


__ADS_2