
Hari Operasi pun tiba
Rania terbaring di atas ranjang menunggu giliran operasinya yang akan di lakukan beberapa jam kemudian dengan perasaan gugup, di ikuti dengan degup jantung yang berdetak dengan kencang. Rasanya seperti mimpi, sebelumnya dirinya hanya melihat di acara televisi saja tapi siapa sangka ia akan mengalaminya sendiri.
Awalnya ia berniat kabur jika Dokter Alvin benar-benar membohonginya tentang tumor di dalam otaknya itu, tapi siapa sangka, pria itu tidak berbohong sama sekali tentangnya, bahkan ia baru tahu bahwa dirinya memiliki riwayat gejala gagal jantung dan sempat mendapatkan donor jantung dari orang yang tidak di kenalnya. Sayangnya, saat ingin berkunjung ke makam orang yang memberinya jantungnya itu, Dokter Alvin maupun keluarganya enggan untuk memberi tahu lokasinya berada. Mereka beralasan bahwa orang itu juga tak ingin di kunjungi karena bisa saja dia mengambil jantungnya kembali.
Meski terdengar konyol, tapi apa boleh buat. Padahal kan, mana ada orang mati yang bisa mengambil jantungnya kembali, kecuali orang itu bukan orang sungguhan.
Sungguh bodoh dirinya karena sempat mempercayai kata-kata makhluk asing yang baru ditemuinya, beruntung, dirinya tak langsung menyetujui rencana pelarian itu, jika saja hal itu terjadi? Mungkin hidupnya tak akan bertahan lama. Walaupun ia sendiri tak memiliki keinginan untuk hidup tapi tak ada salahnya menikmati perihnya hidup.
__ADS_1
" Apa kamu sudah siap? Bisakah kita pergi sekarang? " Tanya Dokter Alvin yang baru datang bersama beberapa suster di sampingnya
Tubuh Rania tersentak, ia menoleh menatap Dokter Alvin, dengan terbata-bata, ia berkata untuk meminta waktu tambahan karena dirinya benar-benar sangat gugup.
Dokter Alvin tiba-tiba tergelak dan berkata bahwa dirinya hanya bercanda dan tidak bermaksud membuat suasana menjadi semakin tegang.
Mengetahui hal tersebut, Rania pun menjadi kesal, melipat kedua tangannya sambil menggembungkan kedua pipinya, membuatnya terlihat semakin lucu dan menggemaskan.
Tanpa banyak bertanya, Rania pun langsung mengiyakan usulan tersebut.
__ADS_1
Berbeda dengan situasi ruangan Rania yang penuh gelak tawa dari gadis itu, sementara itu di luar gedung operasi terdapat beberapa tentara yang berjaga di luar ruangan bahkan mereka juga menempatkan beberapa tentara yang berjaga tepat di luar ruangan untuk menjaga dan mengantar pasien akan selamat dan aman hingga ke meja operasi.
Tak hanya puluhan tentara saja yang ikut mengawal gedung operasi itu, bahkan Mikael dan Darian pun ikut berperan di dalamnya beserta rekan-rekan berkemampuan khusus lainnya dengan Mia sebagai pemimpinnya
Semua ini telah di susun matang-matang oleh Mia untuk mencegah gagalnya operasi dari serangan luar, sedangkan di bagian operasi dirinya menyerahkannya pada Dokter Alvin, dia percaya bahwa pria itu pasti akan melakukan yang terbaik untuk operasi ini dan sebentar lagi dirinya akan menjadi orang pertama yang akan menjadi seorang Immortal.
Tetapi, dirinya tak ikut terjun ke medan perang, karena dirinya harus menyaksikan proses pengangkatan itu dengan kedua bola matanya sendiri dan beberapa petinggi lainnya yang ingin ikut menyaksikan proses pembuatan obat immortal tersebut.
Di saat rencananya sudah sembilan puluh persen, tanpa sepengetahuan Mia dan lainnya, Kuro sudah berada di dalam gedung operasi itu untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya, setelah mengetahui bahwa Rania tak ingin bekerja sama dengannya maka mau tak mau ia harus merebutnya sendiri.
__ADS_1
Akan tetapi, di tengah perjalanannya, langkah kaki Kuro terhenti ketika ia mendengar suara rintihan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.