
Setelah pelajaran usai, Rania langsung menarik tangan Mikael dan membawanya ke atap sekolah, meminta pria itu untuk menjelaskan maksud dari kehadirannya yang menyamar menjadi seorang guru. Apakah dia masih mengira bahwa Laura dan Albert sedang mengincarnya?
Dengan tegas, Rania mengatakan bahwa mereka berdua gak akan pernah meminum darahnya apapun yang terjadi.
" Mengapa kamu begitu yakin? Apa kamu tidak pernah berpikir jika mereka sedang memanfaatkan darah mu untuk mengembalikan kekuatan pria yang bernama Kuro itu? "
Rania pun terdiam tak bergeming sedikit pun, sejujurnya dirinya tak pernah berpikir sampai ke sana dan hanya mempercayai tujuan awal mereka yaitu membawa Kuro kembali ke negerinya.
Tapi bagaimana jika mereka benar-benar memanfaatkannya? Apa yang akan ia lakukan?
Di saat Rania tengah bergelut dengan pikirannya, tiba-tiba Mikael menepuk pelan puncak kepalanya dan mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda, ia kemudian mengungkapkan alasan kedatangannya ke sekolah ini karena dirinya sangat merindukan Rania.
" Bisakah kamu memeluk ku untuk sedetik saja? " Pintanya.
Dahi Rania mengernyit heran, tapi beberapa saat ia menganggukkan kepalanya lalu berjalan menghampiri pria itu untuk di peluk.
Tapi tiba-tiba sebuah pukulan mendarat tepat di kepala Mikael dengan cukup keras membuatnya meringis kesakitan. Sontak hal itu membuat langkah kaki Rania terhenti dan terkejut melihat Darian yang datang entah dari mana.
Mikael pun terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit, lalu mendelik tajam kearah Darian yang tampak tidak menyesali perbuatannya sedikit pun.
Saat hendak memarahinya, Darian malah mengabaikannya dan bahkan menendang tubuhnya lagi hingga tersungkur di lantai.
Dengan santainya pria itu berjalan menghampiri Rania dan berkata untuk tidak terlalu memikirkan alasan kehadiran mereka di tempatkan ini, anggap saja mereka hanya sedang menjalani tugas dari atasan, dan juga mereka tak berniat membunuh Laura, Robert atau siapapun, kecuali jika mereka berani melakukan hal jahat pada manusia, maka tak akan pernah ada maaf bagi mereka.
Menyadari bahwa dirinya sudah salah paham, Rania pun menundukkan kepalanya karena malu, lalu meminta maaf karena sudah berpikir yang tidak-tidak, ia kemudian membungkukkan tubuhnya sekali lagi, lalu pamit pergi.
__ADS_1
Setelah Rania pergi, Darian kembali menendang bokong Mikael hingga tubuh pria itu tersungkur kembali
" Bukankah, Pimpinan sudah memperingatkan mu untuk tidak bersikap berlebihan? Lalu mengapa kamu malah menyamar menjadi guru dan tebar pesona pada semua murid di sekolah ini? " Tanya Darian dengan nada kesal, " tapi tak heran, karena pria mesum seperti mu tidak akan pernah mengerti bagaimana menuruti perintah, " sambungnya.
Mikael pun berdecak kesal, tak terima dengan pernyataan temannya itu, meski sebenarnya dirinya memang suka menggoda gadis itu tapi dirinya bukanlah pria mesum seperti orang dia pikirkan, tentunya hal ini ia lakukan agar gadis itu tidak terlalu tegang jika berada di dekatnya, setidaknya ia bisa memberikan rasa nyaman dan tenang.
Dugh! Sebuah tendangan kembali mendarat di bokong Mikael membuat kedua mata pria itu kembali mendelik tajam pada Darian, mengapa pria itu sangat suka sekali menyiksa dirinya? Apa dia begitu iri dengan kepopuleran yang dimilikinya? Tak heran, lagi pula siapa yang tidak iri dengan tampang dan juga bentuk tubuhnya yang proposional ini.
Mendengar pernyataan itu, Darian pun memutar bolanya dengan malas, jika bukan karena pimpinan yang menyuruhnya untuk bekerja sama dengan Mikael, mungkin sejak tadi dirinya sudah membuang pria itu ke lautan bersama sifat narsisnya itu.
" Mau kemana? " Tanya Mikael yang melihat Darian yang hendak pergi.
Bukannya menjawab, Darian langsung pergi begitu saja meninggalkan Mikael seorang diri.
Rania yang di tanyai secara mendadak seperti ini, membuat dadanya terasa sesak dan pusing, ingin meminta tolong pada Mia pun rasanya sangat sulit.
Hingga tiba-tiba Laura memukul mejanya dengan keras hingga membuat seisi kelas terkejut dengan suaranya.
" Bisakah kalian diam?! Di sini aku sedang mencoba belajar dengan tenang, " ujarnya dengan nada dingin.
Seketika mereka pun membubarkan diri tanpa melawan sedikit pun dan hanya menyisakan Rania seorang diri.
" Terima kasih. " Ucap Rania dengan tulus yang kemudian di balas dengan tatapan tajam dari Laura dan di balas oleh Mia saat itu juga.
Mia heran, mengapa semakin hari wanita itu semakin jutek dan dingin? Apalagi saat berhadapan dengan temannya, Rania, mungkinkah mereka sedang memperebutkan sesuatu yang tidak di ketahui olehnya?
__ADS_1
Seperti biasa, saat bel pulang sekolah, Rania bergegas menuju parkiran untuk menjemput sepeda listriknya, tapi tiba-tiba jalannya di hadang oleh Mikael yang mengajaknya untuk pulang bersama, tapi langsung di tolak oleh Rania, ia tak ingin menjadi bahan gosip oleh teman-temannya apalagi menjadi narasumber karena kedekatannya mereka.
Mikael pun langsung menganggukkan kepalanya setuju, pria itu kemudian pergi begitu saja tanpa berkata-kata.
Setibanya di rumah, Rania langsung menceritakan kehadiran Mikael dan juga Darian di sekolahnya pada Kuro, akan tetapi, tampaknya pria itu tidak tertarik sama sekali dengan ceritanya, karena sejak tadi, pria itu hanya terdiam dengan tatapan kosong seakan-akan jiwanya telah terjebak di dimensi lain.
" Kuro~ Apa kamu dengar? "
" Dengar, menurut ku mereka adalah orang yang tepat untuk melindungi mu, selain pintar mereka juga sangat kuat, bahkan jika hedrian datang lagi untuk membawa mu pergi, aku yakin mereka pasti akan melindungi mu. "
Seketika Dahi Rania mengernyit tidak mengerti, kenapa dia tiba-tiba membahas hal itu?
" Apa yang kamu katakan? Bagi ku hanya kamu yang bisa menyelamatkan ku dan . . .
Grep! Tiba-tiba tangan Kuro mencekik leher Rania dan memojokkan tubuhnya di dinding membuat tangan gadis itu meronta meminta untuk di lepaskan.
Tapi Kuro tampaknya tidak mendengarkan permintaanya itu.
" Kamu yakin aku ini ingin melindungi mu? Lalu bagaimana setelah aku melakukan ini pada mu, apa kamu masih mengira bahwa aku akan melindungi mu? " Cengkraman tangan Kuro pun semakin erat, membuat Rania semakin kesulitan untuk bernafas, " Jangan bercanda, bagi ku kau hanyalah makanan yang memberi ku nutrisi, " sambungnya lalu melempar tubuh Rania ke sudut ruangan.
Rania pun meringis kesakitan sambil memegangi lehernya yang terasa sakit.
Ada apa dengan Kuro? Mengapa sifatnya tiba-tiba berubah? Bukankah semalam dia baik-baik saja? Lantas apa yang membuatnya tiba-tiba berubah?
Saat menoleh, tubuh Rania tertegun ketika pria itu sudah pergi entah kemana
__ADS_1