Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
47


__ADS_3

" Darian! Di belakang mu? " Teriak Mikael sambil menunjuk ke belakang punggung Darian.


Dengan tatapan dinginnya, tanpa mengedipkan matanya, Darian langsung menyerang seorang wanita yang hendak menyerangnya dari belakang punggung, dalam hitungan detik ia membebaskan wanita itu dari belenggu benang yang melilit di seluruh tubuhnya.


Kedua matanya menatap wanita itu yang ternyata masih hidup, hanya saja kondisinya di buat koma, tanpa di sadari tangannya mengepal dengan erat, ia tak akan memaafkan siapapun yang memperlakukan manusia seperti ini.


" Maaf mengganggu mu, tapi kamu harus melihat ini, " kata Mikael yang terkekeh geli sambil menatap pemandangan di depannya.


Darian kemudian bangkit dari posisi duduknya, di detik berikutnya, pupilnya mengecil ketika melihat puluhan manusia boneka yang telah mengepung mereka, ia pun mendengus, " apa-apaan ini, apa kita ini sedang syuting film zombie? " Ungkapnya sambil melirik Mikael yang memiliki ekspresi sama dengan wajahnya.


Layaknya sebuah film Zombie, Darian dan Mikael memilih terus berlari dari kejaran boneka manusia itu, karena mereka tak ingin membunuh nyawa yang tidak bersalah, namun dengan kondisi Mikael yang terluka membuat Darian tak punya pilihan lain selain melukai beberapa boneka manusia itu dengan cukup fatal, meskipun ia tahu betul bahwa sebagian dari mereka masih ada yang masih hidup, tapi apa boleh buat dirinya tak bisa melihat satu persatu benang yang mengendalikan tubuh mereka apalagi serangan mereka semakin agresif membuatnya tak bisa memiliki banyak pilihan.


Di tengah pertarungan, kepala Mikael hampir terpotong jika Darian tak segera menarik tangannya.


" Terima kasih. " ucap Mikael dengan tulus.

__ADS_1


" Tak perlu, anggap saja kita impas, " jawab Darian dengan cepat.


Mikael pun tertawa, namun di detik berikutnya tubuhnya hampir kehilangan keseimbangannya.


Darian menatap luka dan juga luka yang masih mengalir dari tubuh Mikael, ternyata luka itu masih belum menutup juga, sebenarnya senjata apa yang mereka gunakan hingga kekuatan regenerasi mereka tidak berfungsi?


Tanpa membuang waktu percuma, Daria mengeluarkan bom asap.


Dengan susah payah, akhirnya mereka bisa meloloskan diri dari kejaran para boneka manusia itu, kini mereka bersembunyi di sebuah saluran pembuangan air dengan kondisi Mikael yang semakin parah bahkan pria itu sudah tak sadarkan diri dengan rona wajah yang begitu pucat pasi.


Darian yang tak suka melihat rekannya mati di depan matanya, memutuskan merobek pakaiannya dan membalut luka Mikael, berharap dengan itu bisa menghentikan pendarahan.


Ia kemudian menghela nafas panjang, semua ini karena salahnya karena salah memperhitungkannya, padahal dirinya sudah menyadari ada banyak kejanggalan dari kasus ini, terutama ketika tetua tiba-tiba menghubunginya melalui sebuah panggilan untuk menyusul dan membantu Mikael untuk memecahkan kasus in tapi jika di pikir kembali tetua pasti akan memanggilnya secara langsung. Ia berpikir bahwa dirinya telah di hipnotis.


Akan tetapi menyadari sekarang pun sudah tak ada gunanya karena nasi sudah menjadi bubur, yang bisa ia lakukan sekarang hanya bisa berharap jika kucing vampir itu bisa melindungi Rania apapun yang terjadi.

__ADS_1


Di waktu yang bersamaan, Rania mencoba membututi Mia dan juga Nala yang tampak seperti akan pergi ke suatu tempat. Meski dirinya sangat takut, tapi demi temannya ia akan lakukan apapun untuk menyelamatkannya.


Selang beberapa jam kemudian, Rania melihat Nala membawa Mia ke sebuah kota yang terletak di barat, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, " apa yang akan mereka lakukan di tempat menyeramkan seperti ini? " Gumamnya.


kring! Kring! Kring!


Tiba-tiba tubuh Rania tersentak ketika ponselnya berdering cukup keras, tak ingin pengintainya di ketahui, ia segera menjawab panggilan itu yang ternyata berasal dari rumahnya.


Saat ia mendekatkan ponselnya ke telinganya, ia bisa mendengar Kuro memarahinya karena masih belum pulang sekolah dan menanyai keberadaannya sekarang.


" Bisakah kita membicarakannya nanti? Aku sedang sibuk. "


" Kalau begitu beritahu, di mana posisi mu sekarang? "


" Aku . . . berada di. . . kota bagian barat. "

__ADS_1


" Tunggu, jangan pergi kemana-mana, jangan sampai aku tidak menemukan mu di sana setibanya di sana. " Panggilan pun terputus secara sepihak.


Rania pun mengernyitkan dahinya, menatap layarnya yang sudah mati.


__ADS_2