Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
44


__ADS_3

Esok paginya.


Sebagai bentuk permintaan maaf, Laura meminta Rania untuk memberikan Mia sebua tas branded keluaran edisi terbatas, katanya dia merasa perlu untuk melakukannya.


" Kenapa nggak di kasih langsung ke orangnya aja? "


" Kalau gue yang ngasih, apa dia bakalan mau? "


Rania terdiam sejenak, sepertinya Mia tak akan pernah menerima benda apapun yang bersumber dari Laura. Entah kenapa Rania merasa bahwa hubungan mereka terlihat sulit untuk di luruskan.


" lalu kamu mau kemana? Apa kamu tidak pergi ke sekolah? " Tanya Rania yang tersadar melihat Laura yang mengenakan pakaian layaknya seorang bangsawan dan bukannya pakaian seragam.


" Aku akan kembali ke dunia vampir untuk melaporkan kematian Argolo pada Ayahku sekaligus memastikan sesuatu. " jelas Laura


Rania pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


" Selama aku dan Robert pergi, tolong jaga Albert untukku. " Sambungnya.


" Tanpa di suruh pun aku akan menjaganya. "

__ADS_1


Laura mendengus lalu pergi meninggalkan Rania.


Setelah Laura pergi, Rania juga pergi ke sekolah dengan membawa hadiah permintaan maaf untuk Mia.


Setibanya di kelas, Rania tertegun ketika melihat ada orang lain yang duduk di bangkunya dan tengah asik berbincang dengan temannya Mia.Keduanya begitu asik mengobrol hingga tidak menyadari keberadaan Rania sama sekali.


Rania mengernyitkan dahinya, menatap sosok gadis di bangkunya yang tampak asing, apakah kelasnya kembali kedatangan murid baru? Tapi kenapa dirinya tak tahu tentang hal itu?


" Hai, kayaknya lo salah bangku deh, soalnya ini bangku gue, " tutur Rania dengan nada sopan.


Namun, Mia tiba-tiba bangkit dan membentak Rania dengan nada tinggi, membuat seisi kelas terkejut sekaligus penasaran karena tak biasanya Mia membentak Rania seperti itu.


" Lo siapa emangnya ngatur-ngatur temen gue?! Iya terserah dia dong mau duduk dimana juga, bukan urusan lo. Lagian kan bangku kosong bukan ini doang, di belakang lo itu juga masih banyak yang kosong. "


Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa gadis ini? Apa yang dia lakukan pada Mia?


Sontak pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalanya.


Namun di detik berikutnya, Rania menggelengkan kepalanya, mungkin saja Mia sedang menjahilinya karena dia masih marah perihal kemarin.

__ADS_1


" Mi. Lo kenapa? Lo masih marah karena kemarin? Gue tuh cuman nemenin dia beli alat Gps aja kok, alasan gue nggak ngajak lo karena Laura nggak mau di ledek sama lo. " Terang Rania.


Mia mendengus, sambil melipat kedua tangannya di dada, " terus? Hubungannya sama gue apa? Sorry yah gue nggak ngerti sama yang lo omongin itu. " Balas Mia dengan nada ketus, lalu kembali duduk di bangkunya.


" Mi? Ini nggak lucu loh, please jangan kayak gini, okeh gue minta maaf soal kemarin tapi. . ..


" Mia bilang, kalau dia nggak ngerti sama apa yang lo omongin, jadi lebih baik lo diam, "


Rania kembali mengernyitkan dahinya sembari menatap teman baru Mia, " Lo. ..


" Anak-anak, harap duduk di bangku masing-masing karena kia akan segera memulai pelajaran. "


Omongan Rania terpotong, karena seorang guru baru saja masuk, dengan terpaksa, Rania memilih duduk di bangku yang kosong membiarkan bangku itu di isi oleh orang lain


Saat jam istirahat.


Meski sebelumnya ucapan Mia sangat menyakiti perasaanya, tapi Rania tak ambil hati dengan mencoba kembali berbicara padanya sekaligus memberikan titipan hadiah dari Laura.


Akan tetapi, tak hanya berkata ketus padanya, Mia juga membuang hadiah dari Laura ke tong sampah sembari mengatakan, " gue nggak butuh barang iyu. "

__ADS_1


Rania hanya terdiam tertegun menatap punggung Mia yang perlahan pergi meninggalkannya di lorong, tanpa di sadari air mata mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya, Rania kemudian berlari menuju atap sambil menangis


Setibanya di atap, Rania langsung menangis sesenggukan sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sakit, apakah ini karma karena dirinya pernah mengabaikan temannya sendiri? Apakah rasanya sesakit ini?


__ADS_2