
Rania tertegun sejenak ketika melihat Kuro yang terduduk di atas kursi sambil menjilati bulu hitamnya yang halus, dia begitu fokus menjilati bulu di badannya hingga mengabaikan kucing putih betina berjenis persia milik salah satu tetangga neneknya, yang sejak tadi mencari perhatian dengan cara berguling-guling atau pun berjalan melewati Kuro sambil mengangkat ekornya tinggi-tinggi.
Rania yang menyadari bahwa kucing betina itu sedang mencoba menggoda Kuro, membuatnya merasa kesal, ia kemudian mengambil sebuah batu lalu melemparkannya ke arah kucing tersebut dan membuat kucing putih terlonjak kaget.
Namun, di detik berikutnya, kucing putih itu lari terbirit-birit ketika melihat ekspresi Rania yang sedang marah yang tampak begitu menyeramkan.
Setelah kucing putih betina itu pergi, Rania pun tersenyum puas, ia menjamin bahwa kucing itu tidak akan pernah berani atau pun mencoba-coba untuk menggoda Kuro lagi.
Tunggu? Apa dirinya baru saja cemburu? Terlebih lagi dia baru saja cemburu pada seekor kucing? Pasti ada yang salah dengan otaknya.
Kuro yang menyadari kehadiran Rania, menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
Rania yang merasa salah tingkah karena terus di tatap seperti itu, berusaha mencoba untuk tetap tenang, kemudian berjalan menghampiri Kuro, " kenapa kamu di luar? Apa kamu sedang menunggu ku? " Tanyanya dengan penuh harap.
" . . . "
__ADS_1
" Ra, lama banget sih, gue lapar tahu, " rengek Mia yang tiba-tiba muncul dari belakang secara tiba-tiba lalu menarik tangan Rania masuk ke dalam rumah tanpa memberikannya waktu untuk mendengar jawaban Kuro.
Rania yang pasrah pun hanya bisa membiarkan tangannya di tarik oleh Mia.
Setelah selesai sarapan pagi, Nenek Rania mengajak yang lainnya untuk memetik sayur di kebun sekaligus mengajari mereka cara orang kampung bertahan hidup.
Mia yang notabenenya anak orang kaya, merasa risih dan juga jijik saat mencoba menanam sayuran, apalagi ketika dirinya menangkap sosok cacing yang keluar dari tanah membuatnya menjerit ketakutan. Laura yang senang melihat Laura menderita, mencoba menakutinya dengan mengambil cacing itu lalu memberikannya pada Mia.
Seketika, Mia pun menjerit ketakutan sambil berlari mengelilingi kebun lalu bersembunyi di belakang punggung Nenek Rania kemudian meminta sang nenek untuk membantu dirinya.
Akan tetapi perasaan ragu dan juga takut menyelimuti hatinya, entah kenapa ia tiba-tiba menjadi takut dengan jawaban yang di berikan temannya itu. Haruskah ia bertanya kembali pada Dokter Alvin mengenai sosok wanita yang ada dalam poto bersama mendiang kedua orang tuanya?
Rania pun menghela nafas begitu panjang hingga terdengar jelas helaan nafasnya.
Dari kejauhan Kuro yang sejak tadi memperhatikan sikap Rania yang aneh sejak pagi, memutuskan untuk menghampirinya dan berbicara dengannya melalui telepati, " apa yang sedang kamu pikirkan? "
__ADS_1
Rania terlonjak kaget, begitu mendengar suara Kuro berada di dalam kepalanya, kepalanya menoleh ke samping dan mendapati Kuro yang terduduk di sampingnya sambil menatap Mia yang masih ketakutan dengan cacing yang di bawa oleh Laura.
Kedua mata Rania mengerjap beberapa kali, haruskah ia menceritakan kembali cerita dokter Alvin pada Kuro? Tapi bagaimana jika pria ini malah menganggapnya terlalu berlebihan? Lagi pula ia juga masih belum yakin, apakah gadis di dalam cerita itu benar-benar dirinya atau bukan? Mengingat perbedaan profesi ayahnya yang merupakan arsitek sedangkan dalam cerita dokter Alvin, ayah gadis itu adalah seorang dokter.
Di samping Rania, Kuro dengan setia menunggu jawaban Rania, meski dirinya bisa mengajaknya berbicara melalui pikiran, tapi dirinya tak bisa membaca isi pikiran gadis ini sama sekali. Walau ia yakin gadis ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
" Kuro, sebenarnya aku . . .
" Akhhh!!!! " Jeritan sang Nenek begitu terdengar nyaring, hingga membuat Rania terlonjak kaget lalu berlari ke arah sang nenek yang sudah jatuh tersungkur ke tanah dengan luka cukup besar di punggungnya.
Rania begitu panik begitu melihat banyak darah yang terus mengalir keluar dari punggung sang nenek, " Nenek, bertahanlah, ada aku di sini. " Katanya sambil mencoba menutup luka itu dengan menggunakan pakaian luarnya.
Namun, karena usianya yang sudah renta, Nenek Rania pun meninggal tak lama setelah Rania berusaha keras mencoba menutup luka tersebut.
" Nenek! Jangan pergi! " Tangis Rania pecah seketika sambil memeluk jasad sang nenek, ia pun menoleh ke samping dan mendapati Mia yang tengah memegang sebuah parang yang sudah berlumuran darah. " MIA! APA YANG LO LAKUIN?!!
__ADS_1