Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
71


__ADS_3

" Setidaknya kamu ingat satu atau dua kenangan kan? " Tanya Kuro kembali


Rania mengerjakan kedua kelopak matanya sambil berusaha menggali ingatannya, hingga tiba-tiba ia berteriak secara tiba-tiba, mengatakan bahwa semenjak Kuro datang, dirinya sering memimpikan seorang gadis kecil yang terduduk di kursi roda dengan beberapa selang yang melekat di tubuhnya. Setiap kali ingin bertanya, ia selalu terbangun dari mimpinya.


Pernah sekali Rania bertanya pada bibinya, apakah dia pernah sakit? Bibinya selalu menjawab, bahwa Rania selalu sehat dan tidak pernah sakit keras apapun.


Karena ucapan bibinya juga, ia merasa bahwa tokoh gadis dalam cerita Dokter Alvin bukan dirinya melainkan orang lain, tapi setelah melihat poto ayah ibunya bersama dokter Alvin, ia sedikit bingung dan juga penasaran.


Sama halnya dengan Rania, Kuro mengalami mimpi yang sama dengannya, hanya saja ia tak melihat gadis itu saja melainkan ratusan orang. Mereka berdiri membelakanginya, kecuali gadis itu yang hanya duduk di atas kursi roda.


" Bagaimana kalau aku masuk ke dalam alam bawah sadar mu? Siapa tahu kita bisa menemukan jawaban di sana? " Usul Kuro yang kemudian di setujui langsung oleh Rania.


Tanpa membuang waktu lagi, Kuro pun meminta Rania untuk duduk di depannya lalu menyuruh dia untuk menatap kedua matanya dan membiarkannya masuk ke dalam alam bawah sadarnya.


Dengan patuh, Rania pun melakukan apa yang diinginkan oleh Kuro.


Di detik berikutnya, saat membuka mata, Kuro berada di sebuah padang rumput yang begitu luas dengan sebuah pohon rimbun berukuran besar, di sana Kuro bisa melihat berbagai kenangan dari kenangan saat mereka di vila hingga kematian neneknya yang belum lama ini, semuanya tersimpan begitu apik.


Namun, pandangannya teralihkan pada seorang gadis yang terduduk di atas kursi roda. Kuro pun berpendapat bahwa gadis itu adalah gadis yang di maksud oleh Rania, tapi kenapa sosoknya begitu mirip dengan gadis di dalam ingatannya? Apa ini sebuah kebetulan?.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang, Kuro memutuskan untuk berjalan menghampiri gadis itu untuk bertanya, tetapi gadis itu malah pergi begitu saja hingga tak lama kemudian, gadis itu pun berhenti dan memperingatkan Kuro untuk tidak masuk lebih dalam jika tidak ingin terluka.


" Apa maksud mu? Hey tunggu! Setidaknya beritahu aku nama mu. Hey! "


Tiba-tiba, Kuro pun di paksa keluar dari alam bawah sadar Rania begitu saja.


" Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan jawabannya? Lalu apa yang kamu lihat di dalam sana? " Tanya Hedrian penasaran.


Kuro tak langsung menjawab, kedua matanya menatap Rania sejenak yang tengah menatapnya dengan tatapan penuh harap. " Tidak, tak ada apapun di sana. "


Seketika, raut wajah Rania berubah menjadi sedih bercampur kecewa, " sungguh?! Apa kamu tidak menemukannya sama sekali? Lalu bagaimana dengan gadis itu? Apa dia ada di sana? " Tanya Rania.


" Tak apa, bukan salahmu, sepertinya aku terlalu berpikir, mungkin saja wanita itu bukan siapa-siapa, " ujar Rania yang berusaha untuk tetap tegar meski hatinya terasa sangat sakit.


Sementara itu di waktu yang bersamaan, Dokter Alvin baru saja memasuki salah satu ruangan VVIP dengan seorang perawat yang membawa beberapa alat medis.


Saat masuk, Dokter Alvin melihat seorang wanita berdiri di dekat jendela dengan selang infus yang masih melekat di tangannya. Wanita itu berdiri menatap pemandangan di balik jendela sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, tatapannya begitu tajam nan dingin yang bisa membuat siapapun mati kedinginan setiap kali menatap matanya.


" Tenyata, anda sudah bangun Ketua? " Ujar Dokter Alvin lalu menyuruh bawahannya untuk menyimpan alat medis itu di atas meja kemudian menyuruhnya pergi.

__ADS_1


" Dokter Alvin, kemarilah. " Kata wanita itu.


Dengan patuh, Dokter Alvin berjalan menghampiri sang ketua lalu bertanya, " ada apa? Apa kepala anda terasa pusing? "


Orang itu berbalik, lalu tiba-tiba menendang Dokter Alvin di bagian ************ hingga membuat Dokter Alvin membungkuk kesakitan sambil memegang bagian privasinya.


" Kenapa kamu memberitahu Rania sesuatu yang tidak perlu kamu katakan? Apa kamu ingin mengkhianati ku seperti apa yang dilakukan ayahnya? " Tanyanya dengan nada suara yang begitu mendominasi.


" Ti. . dak, " jawab Dokter Alvin sambil menahan rasa sakit di bagian selangkangannya.


" Lalu kenapa kamu memberitahunya? "


Dokter Alvin tak langsung menjawabnya, ia perlahan bangkit setelah rasa sakit di bawah sana sedikit mereda. Ia merenggangkan tubuhnya sejenak, lalu menjelaskan alasannya memberitahu Rania tentang kisah itu. Sejujurnya ia hanya penasaran dengan reaksi Rania saat mendengar cerita itu dan ternyata dia tidak merespon sama sekali membuatnya menyadari bahwa ingatannya belum kembali yang artinya dia masih belum mengingat masalalunya.


Kendati begitu, bukankah akan semakin menarik jika ingatan itu tiba-tiba pulih? Dan bagaimana reaksi benda yang ada di dalam tubuh Rania saat menyadari bahwa tubuh yang ia tinggali bukanlah tuannya?


" Apa anda tidak penasaran akan hal itu? Bukankah tujuan mu itu adalah bagaimana cara memanfaatkan benda itu untuk proyek abadi kita? Perlu anda ingat, dari seratus manusia yang pernah menerima benda itu hanya ada satu orang yang bisa menahan benda itu yaitu teman anda, Rania. "


Mia pun mendelikkan matanya, namun ia tak menyangkal tentang fakta tersebut

__ADS_1


__ADS_2