
Sudah hampir setengah jam, Rania mencoba mencari keberadaan Kuro dan Hedrian, tapi mereka tidak di temukan di manapun, dari mulai dapur hingga ruang tengah, padahal biasanya mereka selalu ada di sana.
Seketika, Rania pun menjadi panik dan tak tahu harus mencari mereka kemana. Tapi di detik berikutnya, ia mencoba mencari mereka ke tempat yang biasanya mereka kunjungi. Namun hasilnya tetap sama, ia tak bisa menemukan mereka di manapun.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi, Dengan perasaan sedih, Rania memutuskan kembali ke rumah dan akan mencari mereka berdua pada siang hari dengan meminta bantuan Laura dan lainnya.
Setibanya di rumah, Rania berjalan gontai ke kamar tidur lalu menjatuhkan diri di atas ranjang sambil meringkuk menangis sesenggukan. Namun tiba-tiba tangisnya terhenti, tubuhnya tertegun sejenak ketika dua orang pria besar memeluknya dari depan dan belakang. Ia terdiam ketakutan, tak bergerak, hingga saat kepalanya mendongkak, ia melihat wajah Kuro yang tengah memejamkan matanya.
Menyadari bahwa ternyata mereka tidak pergi, ada perasaan senang dan juga kesal, karena mereka telah mengerjainya. " Kenapa kalian ada di sini? Kalian tidak pergi? " Tanya Rania dengan penuh kehati-hatian, takut jika dirinya salah berbicara.
" Kenapa aku harus pergi sedangkan kamu sebagai sumber makanan ku ada di sini, " jawab Kuro dengan kedua mata yang masih tertutup.
" Begitu pun dengan aku, aku tidak bisa hidup tanpa uang mu, tanpa uang mu, aku mungkin akan menjadi anjing jalanan," timpal Hedrian sambil mengeratkan pelukannya.
Rania terdiam lalu di detik berikutnya ia menangis, meski ucapan mereka terdengar sangat tidak tahu malu, tapi Rania merasa senang bahwa mereka tidak akan meninggalkannya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Rania meminta maaf atas sikapnya beberapa hari ini yang terus mengabaikan mereka. Sejujurnya dirinya hanya takut, takut jika mereka berdua meninggalkannya setelah kejadian waktu itu, karena tak tahu bagaimana harus menjelaskannya karena ia sendiri tak tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
Spontan, Kuro dan Hedrian saling bertukar tatapan, padahal selama ini mereka tak mempersalahkannya, toh lagi pula mereka bukan manusia, jadi mereka tak peduli siapa jati diri Rania.
" Kalian yakin bisa menerima ku? Bisakah kalian berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku? " Tanya Rania sembari bangkit dari posisi tidurnya kemudian mengacungkan jari kelingkingnya kehadapan mereka.
Kuro dan Hedrian kembali saling bertukar pandang sejenak, tanpa berpikir panjang, mereka pun langsung menautkan jari mereka ke jari kelingking Rania.
Tak lama kemudian, mereka pun meminta maaf karena telah menjahilinya dengan bersembunyi dan mengabaikan panggilannya.
" Karena kita sudah berbaikan, aku ingin bercerita sesuatu pada kalian, " ungkap Rania sembari menatap serius pada Hedrian dan Kuro secara bergantian.
" Apa itu? Katakan saja, kami akan mendengarkannya, " kata Hedrian yang kemudian diikuti oleh anggukan kepala dari Kuro.
Di rasa hatinya sudah yakin, Rania menghela nafas terlebih dahulu, lalu ia menceritakan dari saat dirinya menyadari bahwa lukanya cepat sembuh, percakapannya dengan dokter Alvin hingga tentang dirinya yang menemukan sebuah poto yang salah satu di antara mereka ada yang sangat mirip dengan temannya, Mia.
__ADS_1
" Kamu yakin? Bisa saja itu saudaranya mungkin. " tebak Hedrian
Rania terdiam sambil memegang dagunya, awalnya ia berpikir begitu, tapi setahunya, ibu Mia hanya memiliki seorang adik dan ia sangat kenal dan tahu betul rupanya, tapi sayangnya dia tidak mirip sama sekali dengan Mia, sedangkan Ayahnya adalah anak tunggal, jadi Rania berpikir bahwa orang yang mirip dengan Mia itu bukan bagian dari anggota keluarga Mia.
Kini giliran Hedrian dan Kuro yang terdiam, masing-masing mereka memegang dagu mereka hingga Kuro tiba-tiba bertanya," kapan poto itu di ambil? "
" Mungkin saat aku masih usia satu atau dua bulan? "
" Lalu, kapan kamu dan Mia pertama kali bertemu? " Tanya Kuro kembali.
Rania terdiam sejenak, mengingat kejadian masa lalu, tapi sayangnya dia tak ingat sama sekali, tapi Menurut Mia, mereka pertama kali saat kecil di sebuah taman. "
" Tunggu, jadi apa kamu tidak ingat pertemuan mu dengan Mia? " Tanya Kuro dengan nada terkejut.
Rania menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, selama ini dirinya hanya mendengarkan cerita masa kecilnya dari Mia atau menonton video yang di rekam oleh Tantenya, itu pun isinya hanya saat dirinya masih bayi, sedangkan saat dirinya masih anak-anak hingga remaja tidak ada sama sekali, bahkan poto pun hanya ada beberapa saja. Mereka mengatakan alasan Rania tak bisa mengingat masa lalunya karena terlalu shock mendengar kabar kematian ibunya yang tak lama kemudian di susul oleh kematian Ayahnya.
__ADS_1
Spontan, Kuro pun mengernyitkan dahinya, ia merasa bahwa seseorang sengaja menghapus semua ingatannya dan membuat ingatan palsu