Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
80


__ADS_3

Selama perjalanannya ke rumah sakit, Hedrian tak hentinya menggerutu, memaki nama Kuro berulang kali. Jika saja bukan karena Rania, mungkin dirinya sudah menyerang Kuro puluhan kali, tapi karena sikap baik Rania padanya membuatnya tak ingin berbuat sesuatu yang akan menyakiti perasaan gadis itu.


Pada akhirnya, ia harus memaksakan diri untuk berusaha tetap akur dengan kucing hitam itu.


Tanpa terasa, dirinya sudah berada di depan rumah sakit. Setelah memastikan bahwa tidak ada siapapun di sekitarnya, Hedrian pun merubah tubuhnya menjadi seorang manusia biasa.


Ia pun berjalan santai memasuki lobi dan bertanya tentang Rania, sama seperti sebelumnya, mereka mengatakan bahwa Rania sudah pulang sejak tadi pagi tetapi Hedrian bersikeras bahwa Rania belum pulang ke rumah, pada akhirnya kedua pun saling adu mulut hingga salah satu suster melaporkan Hedrian ke pihak keamanan. Ia pun berakhir di usir dan di larang mengunjungi rumah sakit lagi.


Hedrian tentunya tak terima dengan keputusan petugas keamanan, ia pun mencoba masuk beberapa kali tapi selalu berakhir dengan kegagalan. Tapi bukan Hedrian namanya jika langsung menyerah begitu saja, ia pun merubah bentuknya kembali menjadi seekor anjing dan berjalan menyelinap masuk ke dalam rumah sakit melalui pintu belakang.

__ADS_1


Terkadang, ia masuk ke dalam troli petugas kebersihan untuk mengelabui petugas keamanan dan usahanya tidak mengkhianati hasil, tanpa di sadari oleh siapapun, Hedrian berhasil masuk ke dalam rumah sakit, dia pun dengan santai berjalan menuju kamar di mana Rania di rawat, akan tetapi setibanya di sana, tubuhnya tertegun ketika menyadari bahwa orang yang terbaring di atas ranjang itu bukanlah sosok Rania yang tengah di carinya melainkan orang lain yang sama sekali tidak di kenalnya.


Hedrian pun mengernyitkan dahinya sambil bertanya-tanya, jika benar Rania sudah keluar dari rumah sakit, lantas kemana dia pergi? Apa jangan-jangan Tante Vina yang membawanya pulan? Ia pun terdiam sambil berpikir keras, hingga tiba-tiba ia tak sengaja mendengar percakapan dua orang tentang sebuah penelitian. Entah kenapa, percakapan dua orang itu membuatnya merasa penasaran, ia pun memutuskan untuk mengikuti mereka berdua.


Setelah cukup lama mengikuti mereka, langkah kaki Hedrian terhenti sejenak ketika menyadari bahwa tempat yang mereka tuju memiliki aura serta suara yang aneh padahal jika di lihat dari luar, tempat itu tampak sangat sepi dan jarang digunakan untuk beraktivitas. Seketika perasaan keingintahuannya semakin membesar sekaligus penasaran akan tempat itu.


Sementara itu keesokkan paginya, Kuro kembali ke rumah Rania setelah dirinya mulai bosan dengan si pria pengemis yang menghujaninya dengan pertanyaan yang sama, " jadi dimana Rania sekarang? "


Jika sudah tahu, untuk apa dirinya pergi ke tempatnya alih-alih menyambut kepulangan Rania.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Kuro tertegun ketika mendapati rumah itu sangat kosong, apakah Hedrian belum pulang? Tidak heran jika tujuannya adalah untuk menemukan Rania, karena dirinya sendiri juga tidak tahu keberadaan gadis itu.


" Sudahlah, untuk apa aku memikirkannya, sebentar lagi dia pasti akan pulang dan meminta bantuan.


Akan tetapi, tiga hari kemudian, anjing serigala itu tak kunjung pulang juga, bukannya bermaksud mengkhawatirkannya, tetapi Kuro merasa ada yang tidak beres. Ia kemudian memutuskan untuk meminta Robert dan juga Laura untuk mencarinya.


Selama pencarian, Kuro berpikir keras kemana pria itu pergi, akan tetapi di tengah pencariannya, kedua matanya menangkap sosok yang tidak asing, bahkan sosok itu adalah orang yang paling di rindukannya. " Rania? " Gumamnya pelan, " kenapa dia ada di sini? Dan siapa mereka? " Sambungnya saat melihat dua sosok gadis asing yang tampak seusia dengan Rania. Mereka berdua terlihat akrab dengan Rania seakan-akan mereka adalah teman lama.


Tanpa berpikir panjang, Kuro pun memutuskan untuk mengikuti mereka.

__ADS_1


__ADS_2