
Tubuh Rania tertegun menatap benda tajam yang hanya menyisakan lima mili di depannya, kedua matanya tidak berkedip sama sekali menatap temannya dengan tatapan tak percaya, apakah dia semarah itu hingga ingin membunuhnya?
" Mi-mia apa yang lo lakuin? Gue ini sahabat lo, Rania! "
" . . . "
" Mia? "
" . . . "
" MIA!! "
Teriakan Rania membuat Mia tersadar, ia pun langsung menjatuhkan pisau di tangannya lalu mundur beberapa langkah, seluruh tubuhnya gemetar sembari menatap telapak tangannya dengan tatapan tak percaya, kepalanya mendongkak menatap Rania, " apa yang terjadi? " tanyanya dengan tatapan gemetar.
" Mia. " panggil Rania dengan suara lirih sembari berjalan menghampiri, tapi langkahnya terhenti ketika Kuro memegang tangannya, menahan kepergiannya .
" Tunggu, " kata Kuro dengan nada waspada.
" Ada apa? " Tanya Hedrian dengan raut bingung, begitu pun dengan Rania.
Kuro terdiam menatap Mia, menyadari ada sesuatu yang salah dengan gadis di depannya, ia pun kemudian menarik Rania mundur menjauh dari Mia.
__ADS_1
" Jangan terlalu dekat dengannya, dia berbahaya. " Katanya tanpa ragu.
Namun, Rania tidak menggubris kata-kata Kuro, ia menepis tangan pria itu lalu berlari ke arah Mia untuk menanyakan apa yang terjadi padanya? Akan tetapi, belum sempat ia menanyakan hal itu, Mia tiba-tiba bergerak dan mencengkram lehernya dengan kuat kemudian mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.
Sontak hal itu membuat Kuro dan Hedrian terkejut, termasuk dengan Mia sendiri yang tidak mengerti dengan kondisi tubuhnya yang mendadak bergerak sendiri, tak peduli seberapa keras ia melepas cengkeramannya, tangannya begitu sulit untuk digerakkan sedangkan Rania di atas sana mulai kekurangan udara.
Mia pun menolehkan kepalanya menatap dua pria asing, ia meminta mereka berdua untuk memotong tangannya.
" Ja. . ngan. "
" Kalau seperti ini lo bakalan mati Ra! Kalian berdua cepat! "
" Ji. . .ka kalian be . . .rani menyentuh dan melukainya, ma. . .ka jangan salah kan aku. . jika aku akan membenci kalian seumur hidup kalian. " Ucap Rania dengan terbata-bata.
Kuro dan Hedrian yang hendak menyerang Mia pun langsung mengurungkan niat mereka.
Mia pun membulatkan matanya setelah melihat keputusan yang mereka ambil, kepalanya menoleh menatap Rania yang semakin kesulitan untuk bernafas, air matanya mengalir begitu saja, dirinya berjanji pada dirinya untuk menyusulnya pergi ke alam lain.
Namun, tiba-tiba cengkraman tangannya terlepas begitu saja hingga tubuh Rania pun jatuh ke tanah, tak lama kemudian Daria pun muncul dari belakang, lalu meminta mereka untuk segera pergi
" Apa yang terjadi? " Tanya Mia bingung sambil menatap tiga pria asing di depannya.
__ADS_1
Belum sempat ia mendapatkan jawaban untuk apa yang terjadi, tangannya langsung di tarik oleh Rania, membawanya pergi entah kemana? Di detik berikutnya ia menyadari bahwa dirinya tengah berada di tempat antah berantah.
Sepanjang jalan, ia hanya terdiam membiarkan tangannya di bawa oleh temannya, Rania, hingga selang beberapa menit kemudian mereka sampai di sebuah ruang bawah tanah, di sana ia melihat guru mereka, Mikael tengah terbaring di atas ranjang.
" Ra, siapa mereka? Dan kenapa pak Mikael terluka? Bukankah dia sedang mengurus ibunya? Sebenarnya apa lo sembunyikan dari gue? Tanya Mia secara beruntun.
Rania tak langsung menjawab semua pertanyaan temannya itu, ia terlebih dahulu meminta Mia untuk tetap tenang.
Mia berdecak kesal, lalu menghela nafasnya dengan frustasi, apakah dirinya sedang bermimpi? Tapi kenapa semua ini terasa sangat nyata? Sungguh dirinya tak bisa membedakan apakah ini nyata atau hanya sebuah ilusi semata saja, seingatnya ia pergi ke pusat perbelanjaan untuk menghibur diri, saat tersadar dirinya malah berusaha membunuh temannya sebanyak dua kali.
Menyadari bahwa memang ada yang salah pada temannya, Rania pun bertanya pada Mia tentang Nala.
" Nala? Siapa dia? Teman baru lo lagi? " Tanyanya kembali
Dahi Rania pun mengernyit, kepalanya menoleh pada Kuro dam Hedrian secara bergantian.
Mia yang bingung pun ikut menatap kedua pria asing, " kalian siapa? "
" Mereka. .
" Rania kita harus berbicara, " kata Kuro dengan nada serius.
__ADS_1