
" Oh iya Ra, kamu habis dapat bonus yah dari bos kamu? " Tanya Vina sambil memberikan lauk ke atas piring Rania.
Pertanyaan Tantenya, membuat Rania terdiam sejenak,. " memangnya kenapa tante? " jawabnya dengan sebuah pertanyaan.
Vina menggelengkan kepalanya dengan pelan, sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya, " nggak biasanya kamu borong makanan seperti ini? " Menunjuk pada setumpuk dus berisikan makanan, " Bos kamu tidak gulung tikar kan Ra? " Sambungnya dengan nada sedikit cemas.
Mia yang mendengar pertanyaan itu, menjadi penasaran kemudian ikut menoleh ke arah Tante Vani menunjuk lalu kemi menatap wajah temannya.
Dengan segera, Rania menyangkal perihal bosnya yang gulung tikar, dengan menggelengkan kepalanya dengan cepat,njika hal itu sampai terjadi dirinya tak tahu harus kerja di mana nantinya untuk membeli kebutuhan hidup, sambil tersenyum canggung dan malu-malu, dirinya mengungkapkan bahwa dirinya beberapa hari yang lalu mendapat sebuah jakpot dari sebuah undian yang berhadiah setumpuk persediaan stok makanan selama satu tahun.
Seketika suasana pun menjadi hening, karena ucapan Rania terdengar seperti sebuah kebohongan.
" Baguslah kalau begitu, Tante kira kamu dapat kiriman dari orang yang tidak di kenal, soalnya kamu kan terlalu polos, jadi Tante khawatir jika ada yang berusaha memanfaatkan mu, " ungkap Vina dengan setengah bercanda.
Rania tiba-tiba tertawa dengan cukup keras, dirinya tak mungkin sebodoh itu menerima barang dari orang yang tidak di kenal bahkan tanpa mengetahui wajahnya sama sekali.
Meski di dalam hatinya, dirinya ingin menangis menjerit, serta merasa bersalah karena terus-terusan membuat kebohongan dan parahnya lagi, ia mengakui kebodohannya itu
Saat hari sudah menjelang sore, Jinu , Vina beserta kelurga mereka masing-masing, memutuskan untuk pulang karena besok, anak-anak mereka harus bersekolah dan mereka harus kembali bekerja, sedangkan Mia memutuskan untuk menginap, karena ia sudah lama tidak menginap di rumah Rania.
Setelah selesai membereskan semua kekacauan yang di buat oleh dua keponakan Rania, akhirnya Mia bisa meluruskan kembali punggungnya sambil menunggu temannya selesai mandi.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Hedrian berjalan mendekati Mia dan meminta gadis itu untuk mengelus kepalanya.
Dengan senang hati, Mia mengelus kepala anjing itu hingga tak lama kemudian Rania keluar dari dalam mandi dengan kondisi rambut basah dan tubuh setengah kering.
" Oh iya Ra, anjing ini namanya siapa? " Tanya Mia sambil mengelus puncak kepala seekor anjing di pangkuannya.
" Gure. " Nama itu keluar begitu saja dari mulut Rania, tanpa ia sadari dirinya sudah mengganti nama Hedrian.
Kendati begitu, Hedrian tampak tidak keberatan sama sekali dengan nama barunya.
Sedangkan Mia, ia menaikkan salah satu alisnya, merasa ada yang aneh dengan nama itu yang terkesan seperti bukan milik Laura tapi melainkan milik temannya, Rania.
Menyadari akan sikap curiga dari temannya, Rania buru-buru mengatakan bahwa memang dirinyalah yang memberi nama tersebut, karena Laura sendiri yang memintanya.
Selepas selesai mandi dan memberi makan Kuro dan Hedrian, Mia kemudian meminta Rania untuk mengajak hewan-hewan peliharaannya untuk tidur bersama.
Tapi dengan tegas, Rania menolaknya dengan alasan bahwa mereka berjenis kelamin pria, jadi tentunya mereka tak boleh tidur bersama mereka.
" Tapi Ra, mereka kan cuman hewan, lagian kan hanya kali ini aja, boleh yah? " Kata Mia, berusaha membujuk temannya.
Namun, Rania yang memiliki keteguhan hati sekeras baja, tetap bersikeras melarang temannya untuk mengajak Kuro maupun Gure.
__ADS_1
Meski kesal, tapi Mia pada akhirnya hanya bisa menuruti ucapan temannya.
Esok paginya, Mia berangkat bersama dengan Rania, setibanya di kelas, ia langsung bertanya pada Laura perihal nama anjing itu sekaligus memintanya untuk menjual anjing itu padanya.
Laura yang sama sekali tidak tahu kejadian kemarin, hanya bisa mengerutkan dahinya lalu beranjak pergi begitu saja.
Rania yang segera mengetahui hal tersebut, langsung mengejar Laura lalu membawanya ke atap gedung.
Dengan perasaan menyesal, Rania berlutut kemudian mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa berbohong perihal Hedrian, karena pria itu tidak mau di ajak kerja sama sekali, menampakkan diri dengan wujud anjingnya ketika keluarga paman, bibi dan juga Mia datang mengunjungi rumahnya kemarin secara tiba-tiba tanpa mengabarinya sebelumnya. Maka dari itu dirinya tak punya pilihan lain selain berbohong.
" Lalu kenapa harus aku? Bukankah kamu bisa menggunakan nama Robert? "
" Soal itu, tak pernah terpikirkan sebelumnya. "
Laura terdiam, kedua tangannya terlipat di dada sambil menatap Rania yang masih bersujud di depannya.
" Baiklah kalau begitu, tapi berikan dulu kunci rumah mu. "
Kedua mata Rania mengerjap beberapa kali, di detik berikutnya ia merogoh kunci rumah dari balik saku roknya, lalu memberikannya pada Laura.
" Malam ini pulanglah lebih larut, karena aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Kuro, bye. "
__ADS_1
Eh! Ternyata itu tujuannya?! Tapi Rania hanya bisa diam meratapi nasibnya dan berdoa semoga Kuro tidak terpengaruh oleh Laura.