Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
27


__ADS_3

Esok paginya, karena tubuhnya sudah merasa bugar kembali, Rania memutuskan untuk masuk sekolah seperti biasanya dengan raut wajah yang berseri-seri.


Saat berjalan menuju kelas, tiba-tiba temannya, Mia langsung memeluk tubuhnya dari belakang dan mengatakan bahwa dirinya merasa kesepian selama Rania tidak masuk sekolah, rasanya hidupnya terasa kurang jika tidak mendengar ocehannya yang selalu membahas suami dua dimensinya itu, tapi di sisi lain dirinya juga sedikit kecewa karena temannya itu tidak memberitahukannya sama sekali jika tantenya sedang sakit, padahal setidaknya ia bisa menyumbang obat atau pun voucher gratis perawatan di rumah sakit kedua orang tuanya.


Dengan perasaan menyesal, Rania meminta maaf, karena waktu itu keponakannya memberitahunya secara mendadak, seperti yang di ketahui, suami tantenya jarang pulang dan hanya bisa mengandalkan keponakannya yang masih kecil.


Maka dari itu, tanpa pikir panjang, ia pergi ke sana dan merawat tantenya hingga sembuh, sebagai bentuk permohonan maafnya, ia memberikan sebuah gantungan tas berbentuk kucing yang sama dengan miliknya.


Mia terdiam sejenak, tak langsung menerima gantungan kunci itu, tapi melihat raut wajah memohon temannya membuat hatinya luluh dan kemudian menerima gantungan tas itu, lalu memasangkannya langsung ke tas miliknya. Perasaannya sangat senang karena untuk pertama kalinya dirinya mendapat hadiah dari temannya.


" Tapi ingat, meski aku memaafkan mu kali ini, jangan pernah mengulangi kesalahan lagi, Berjanjilah untuk selalu memberitahu ku, bukankah kita ini adalah teman? "


Dengan antusias Rania pun langsung menganggukkan kepalanya.


" Memangnya tante mu sakit apa? Bagaimana dengan keadaanya sekarang? " Tanya Mia penasaran.


Namun, saat Rania hendak membuka mulutnya, tiba-tiba bel masuk sekolah berbunyi, membuatnya harus menunda ceritanya.


Mia pun berkata tidak apa-apa dan memintanya untuk bercerita saat waktu istirahat saja, akan tetapi, setelah jam istirahat tiba, guru mereka, Mikael meminta Rania untuk mengunjunginya di ruang konsultasi.


Hal ini masih Mia terima, mungkin saja guru baru mereka ingin memberi bimbingan pada temannya itu, namun sampai menjelang pulang Rania masih belum memiliki waktu untuknya sama sekali, karena tiba-tiba dia pergi begitu saja dan hanya mengiriminya pesan, mengatakan bahwa ada urusan yang mendesak.


Mia yang masih sabar pun, hanya bisa memakluminya, tetapi batas kesabarannya hancur seketika ketika dirinya melihat temannya malah pergi bersama Laura.


Memangnya urusan mendesak apa yang harus melibatkan Laura dan bukan dirinya? Dan juga sejak kapan mereka begitu dekat seperti itu?


Ia pun mencoba menghubungi gadis itu namun panggilannya di abaikan begitu saja.


Di sisi lain, Rania hanya duduk membisu di samping Laura yang tengah mengendarai mobilnya.

__ADS_1


Sebelumnya, ia baru menyadari bahwa gelang pemberian ibunya telah hilang entah kemana, meski benda itu bukanlah barang mahal namun ia tak bisa melepaskannya begitu saja. Maka dari itu ia memutuskan untuk mencarinya sendiri.


Hingga tiba-tiba Robert mengatakan bahwa dia akan membantu mencarinya.


Namun, saat menjelang pergi, pria itu tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya memiliki urusan mendadak dan malah mengatakan bahwa Laura yang akan menemaninya.


Rania yang di beritahu secara mendadak hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata, terlebih lagi pria itu langsung pergi tanpa mendengar penolakannya. Ingin menolak sekarang pun rasanya tidak benar, sebab sejak tadi kedua mata Laura menatapnya dengan tatapan dingin yang membuatnya tak berani untuk mengatakan itu.


Sementara itu Laura hanya bisa menghela nafas sembari mengendarai mobilnya, sejujurnya ia tak ingin pergi menemani Rania, tapi dirinya juga tak bisa menolak permintaan Robert.


Selama perjalanan, mereka hanya diam tak berbicara dengan suasana canggung di antara keduanya, beberapa saat kemudian, mereka pun sampai ke tempat di mana Kuro di kurung.


Rania mengatakan bahwa sebenarnya ia tak yakin meninggalkan benda itu di tempat ini, tapi dirinya hanya memastikan.


" Ayo masuk, " ucap Laura dengan nada dingin lalu berjalan masuk tanpa menunggu Rania terlebih dahulu.


" Dan berakhir di culik? Apa kamu tak tahu bahwa mereka sedang mengincar mu? "


Tubuh Rania tersentak, ia terkejut bahwa Laura ternyata bisa mendengar suaranya, padahal dirinya sangat yakin bahwa suaranya itu sangat lah pelan.


" Sebagian dari kami, memiliki telinga yang sensitif dan aku adalah pemilik telinga paling sensitif, maka dari itu aku bisa mendengar gumaman mu, jadi mulai sekarang jaga ucapan mu setiap kali berada di dekat ku. "


Secara spontan, Rania langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suaranya tidak terdengar oleh Laura.


Keduanya berjalan menuruni tangga dengan tenang, hingga Rania yang tak sabar pun membuka mulutnya.


" Bolehkan aku bertanya? Kenapa mereka mau menculik ku? Di lihat dari mana pun aku ini sangatlah tidak berharga sama sekali. "


Laura mendengus sambil menyunggingkan bibirnya, " ternyata kamu cukup tahu diri, entahlah aku juga tak tahu, sudahlah jangan bahas ini lagi, cepat cari benda itu sebelum orang lain datang, " timpalnya dengan nada ketus.

__ADS_1


Rania pun mencebikkan bibirnya, sebenarnya ia juga tak ingin wanita itu membantunya mencari, tahu seperti ini lebih baik dirinya mengajak Mia, selain baik, tentunya dia tak akan pernah berbicara dengan ketus padanya.


Tapi sayangnya dirinya tak bisa mengajaknya, karena dirinya sudah berbohong selama ini mengatakan bahwa dirinya sedang mengurus bibinya yang sakit sekaligus liburan, padahal selama ini dirinya pergi mencari Kuro lalu istirahat untuk memulihkan badannya.


Jangan sampai Mia tahu bahwa selama ini dirinya telah di tipu selama ini, jika sampai dia tahu, ia yakin pasti temannya itu tak akan pernah mau lagi berteman dengannya.


" Hey cepat cari! Kenapa malah bengong?! " Bentak Laura hingga membuat Rania terperanjat kaget.


Dengan menyipitkan kedua matanya, Rania mulai mencari benda itu dengan perasaan kesal.


Beberapa saat kemudian, ia akhirnya menemukan gelang miliknya yang tergeletak di dekat sebuah kandang, saat akan meraihnya, tiba-tiba sebuah benda tajam berada tepat di lehernya yang siap melukai lehernya kapan saja.


Dengan tubuh gemetar, Rania meneguk salivanya, lalu perlahan bangkit mengikuti perintah Hedrian.


Laura yang mengakui bahwa dirinya telah lengah, langsung mengeluarkan tombak dari telapak tangannya, bersiap untuk menyerang.


" Jika kamu mendekat, akan ku bunuh gadis ini. "


" Coba saja kalau bisa. "


Merasa bahwa ancamannya tidak berhasil, Hedrian menekan kukunya sedikit dalam hingga membuat Rania terluka dan mengeluarkan darah.


" Baiklah, aku menyerah. Katakan apa mau mu? " Laura pun menghilangkan tombaknya dalam hitungan detik.


Hedrian tersenyum, sebenarnya ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, hanya saja dirinya ingin pergi membawa Rania tanpa terluka sedikit pun.


Laura mendengus lalu terkekeh, untuk pertama kalinya ia menemukan pria yang tak tahu malu seperti pria di depannya ini


'

__ADS_1


__ADS_2