Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
126


__ADS_3

Acara pernikahan pun kini berubah menjadi medan perang, pertumpahan darah pun tak bisa terelakkan, banyak para vampir yang menjadi abu kare peperangan tersebut.


Sementara itu, Rania yang berhasil keluar dari medan perang menggunakan kesempatan itu untuk menemukan keberadaan ayahnya, ia berjalan mengendap-endap menyusuri lorong yang gelap nan dingin, karena di luar sedang sibuk maka tak ada siapa pun yang menjaga.


Kendati begitu, karena tempat itu begitu luas membuat Rania kelelahan bahkan kakinya terasa mau patah karena terus berjalan, ia seperti seorang anak yang tersesat tapi dengan pakaiannya yang dikenakannya saat ini dirinya lebih pantas di sebut pengantin yang tersesat dari pada anak tersesat.


Setelah cukup lama mencari dan belum membuahkan hasil, Rania memilih beristirahat sejenak sambil menjulurkan kedua kakinya yang terasa mati rasa, dari semua orang mengapa Tuhan memilihnya menjalani kehidupan dan rintangan seperti ini, rasanya seperti terjebak dalam mimpi yang panjang.


" Pa. . Ayah dimana kamu? Kenapa begitu sulit menemukan mu? " Gumam Rania sambil menghela nafasnya frustasi.


" Rania? Apa itu kamu? "


Tubuh Rania tersentak kaget ketika mendengar seseorang menyahut ucapannya, apalagi suara itu terdengar begitu familiar. Untuk memastikan pendengarannya, Rania pun mencoba memanggil Ayahnya lagi sambil mencari sumber suara tersebut.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Rania pun menemukan sebuah lubang kecil seukuran ibu jari, saat mengintip dari balik lubang itu ia akhirnya menemukan Ayahnya, akan tetapi meski pun begitu tak ada pintu, tombol atau pun lubang lain selain lubang itu.


Tanpa sadar tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menghela nafas lalu berkacak pinggang berpikir bagaimana caranya ia membebaskan ayahnya tanpa adanya pintu atau pun kunci.


Sambil memikirkan cara, Rania berjalan mundar mandir hingga tanpa sadar kakinya menginjak gaun pengantinnya dan hampir terjatuh jika saja ia tangannya tidak berpegangan pada sebuah patung wajah kelelawar tapi siapa sangka ketidak kesengajaannya itu malah membuatnya bisa membebaskan Ayahnya yang terkurung di sana.


Dinding itu bergetar lalu terbelah menjadi dua membentuk seperti pintu geser.


Tak lama kemudian sosok pria yang ia sangka dulu seorang pengemis itu keluar dengan raut wajah berkaca-kaca, pria itu terlihat ingin memeluk Rania tapi dia terlihat enggan seperti ada sesuatu yang menghalanginya.


Frank terdiam sejenak karena tidak menyangka akan tindakan putrinya, ia tak pernah berharap gadisnya akan memeluknya seperti ini, sebab ia tahu diri bahwa karena kedua tangannya putrinya harus menjalani kehidupan di luar nalar seperti ini.


" Maafkan Ayah. " Kata itu keluar begitu saja dari mulut Frank, kini ia menyesali keputusannya waktu itu, jika saja saat itu dirinya bisa bersabar sedikit lagi mungkin hal ini tak akan terjadi, tapi bagaimana pun nasi sudah menjadi bubur dan keputusannya itu tak bisa diambil kembali.

__ADS_1


Tangannya memeluk erat tubuh putrinya yang terasa lebih kurus dari sebelumnya, ia yakin jika istrinya masih hidup pasti wanita itu akan memarahinya karena membiarkan putri kesayangan mereka menjadi kurus seperti ini.


" Ayah, ayo kita pulang. "


" Kamu tak marah pada Ayah? "


Rania terdiam tak menjawab, bohong jika dirinya tidak marah sama sekali pada pria di depannya, bagaimana bisa pria itu membiarkannya mengganggap bahwa Ayahnya sudah mati padahal dengan jelas Sang Ayah masih hidup tepat di depan kedua matanya. Bisa-bisanya dia mengaku orang lain di depan putrinya sendiri.


Frank terkekeh pelan, ternyata gadis kecilnya malah mempermasalahkan hal itu alih-alih menyalahkan keputusannya. Ternyata putrinya memang mirip dengan mendiang istrinya dari wajah bahkan dari sikapnya, tapi ia bersyukur karena dia sama sekali tidak mirip dengan dirinya.


" Kalau begitu ayo kita pulang. " Kata Frank sambil menggenggam tangan putrinya dengan erat kali ini dirinya tak akan membiarkan siapapun menyakitinya lagi.


Akan tetapi saat hendak akan pergi, Rania tiba-tiba mengeluh sakit luar biasa di bagian dadanya rasanya seperti seseorang mencoba mencopot jantungnya.

__ADS_1


Frank yang menyadari bahwa sihir Kuro telah mencapai batasnya segera membawa putrinya ke belakang punggungnya dan membawanya ke pria itu untuk memperbaiki jantung putrinya. Akan tetapi Dokter Alvin datang di waktu yang tidak tepat, di tangannya terdapat sebuah pisau bedah yang Frank sudah bisa tebak apa yang akan dia lakukan.


__ADS_2