Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir

Kucing Ku Ternyata Seorang Vampir
77


__ADS_3

Sejak mengetahui bahwa ayahnya seorang dokter dan bukan seorang Arsitek, Seketika dunia Rania pun menjadi runtuh, di tambah teman yang ia anggap sebagai teman baiknya ternyata adalah orang yang membunuh kedua orang tuanya, terlebih lagi paman Jinu, Tante Vina dan juga Ryola, mereka telah mengetahui kebenaran itu, tapi mereka menutupi fakta tersebut dan memilih bersekongkol dengan Mia untuk membohonginya. Apakah kehidupannya yang tengah di jalaninya juga adalah sebuah kebohongan? Lantas apa alasan mereka membohonginya? Apa karena benda yang ada di dalam tubuhnya? Benda yang bahkan ia sendiri tidak tahu dan ia ragukan bahwa benda yang mereka bicarakan itu benar-benar nyata.


Jangan bilang, bahwa semua kejadian aneh yang di alaminya selama ini juga hanya bagian dari rencana Mia? Lalu bagaimana dengan Laura, Albert, Hedrian dan juga Kuro, apakah mereka juga bagian dari sandiwara?


Memikirkan semua kemungkinan itu, membuat dada Rania terasa sangat sesak, sakit kepala dan juga membuatnya tak bisa tidur sama sekali. Karena kepalanya terasa ingin pecah, Rania memutuskan berjalan-jalan untuk menyegarkan isi kepalanya yang begitu kacau. Tanpa di sadari, kedua kakinya membawanya ke atap rumah sakit. Tempat itu begitu sepi dan juga sedikit gelap karena hanya terdapat beberapa lampu kecil yang menyinari tempat itu. Kendati begitu, angin sepoi-sepoi di sana membuat pikiran Rania menjadi sedikit tenang dan juga nyaman.


" Seorang pasien seharusnya berbaring di atas ranjang dan bukannya berdiri di tempat yang dingin seperti ini, " ujar Dokter Alvin dengan nada santainya.


Spontan, Rania pun menolehkan kepalanya dan mendapati sang dokter tengah berjalan ke arahnya dengan membawa dua cangkir minuman yang memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda di kedua tangannya.


Meski tempat itu sangatlah minim pencahayaannya, tapi hal itu tidak mengurangi ketampanan di wajahnya yang terlihat letih karena terlalu banyak bekerja. Terkadang Rania tidak bisa mempercayai bahwa pria di depannya memiliki usia yang sama dengan mendiang Ayahnya.


Setibanya di depan Rania, Dokter Alvin menyerahkan salah satu cangkir miliknya yang ternyata minuman itu adalah Coklat hangat dan yang satunya lagi adalah kopi hitam.

__ADS_1


Kedua mata Rania menatap secangkir coklat hangat itu dengan ragu-ragu, antara dirinya harus menerimanya atau tidak, hingga di detik berikutnya ia memutuskan untuk mengambilnya, tak lupa ia pun mengucapkan terima kasih pada sang Dokter, lalu meneguknya pelan.


Perasaan hangat, manis dan sedikit pahit dari coklat hangat tersebut, membuat badan Rania terasa lebih rileks lagi. Tanpa di sadari kedua sudut bibirnya terangkat hingga senyumnya menular pada Dokter Alvin.


Keduanya saling terdiam dengan pikiran mereka masing-masing, membiarkan keheningan berada di antara tengah-tengah mereka berdua , hingga tiba-tiba Rania memecah keheningan tersebut dengan bertanya tentang sosok kedua orang tuanya yang sebenernya dan juga apakah benda yang sering di dengarnya itu benar-benar ada di dalam tubuhnya? Sekaligus bertanya, mengapa ia harus menjauh dari Kuro, apakah benda di dalam tubuhnya ada kaitannya dengan vampir itu?


Namun, Dokter Alvin tidak menjawab semua pertanyaan Rania, karena semua itu adalah rahasia yang tidak bisa di bicarakan bebas pada siapapun.


Seketika, lidah Dokter Alvin menjadi kelu sejenak. Tapi di detik berikutnya ia tersenyum tipis dan mengatakan bahwa dirinya tidak punya hak untuk memberitahu Rania, karena satu-satunya yang berhak memberitahunya adalah Sang Ketua, yaitu Mia.


Selain sebagai bawahan yang harus menuruti permintaan atasan, ia juga harus memenuhi janjinya dengan Frank, yang merupakan Ayah kandung Rania. Pria itu memintanya untuk merahasiakannya sampai kapan pun.


Menyadari bahwa lagi-lagi Rania tak bisa mendapat jawaban lagi, spontan, menundukkan kepalanya dengan perasaan kecewa, kedua tangannya mengepal dengan erat, mengapa semua orang selalu menyembunyikan fakta darinya? Apakah karena dirinya adalah hanyalah seekor tikus lab yang bisa mati kapan saja?

__ADS_1


" Hey, jangan terlalu di pikirkan, dengarkan saja apa yang dikatakan orang dewasa, karena mereka tahu apa yang seharusnya mereka lakukan, lagi pula kami melakukan semua ini demi kebaikan mu sendiri. "


" . . . "


" Besok, kamu sudah boleh meninggalkan rumah sakit, tapi kamu harus ingat untuk cek darah seminggu sekali, tapi jika kamu sibuk, aku akan mendatangi tempat tinggal mu. Jadi kamu ingin hadiah apa? "


" Hadiah? Ulang tahun ku kan masih lama, " jawab Rania dengan lemas.


Dokter Alvin segera melambaikan tangannya lalu mengatakan bahwa itu adalah hadiah untuk pindahan rumah baru.


Di detik berikutnya Rania mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang di katakan oleh pria di depannya.


Melihat ekspresi bingung Rania, menyadarkan Dokter Alvin bahwa Mia belum memberitahunya

__ADS_1


__ADS_2