
Di saat seperti ini Rania bingung harus bercerita pada siapa? Pada Mia? Jangankan untuk sekedar bercerita, mengirim pesan pun selalu di abaikan dan hanya di baca saja. Rania yakin pasti semua itu adalah ulah ibu Mia yang tampaknya masih menaruh dendam padanya.
Ryola? Wanita itu pasti akan menganggap Rania gila karena kehilangan neneknya.
Dokter Alvin? Pria itu malah pergi keluar negeri di waktu yang tidak tepat, untuk suatu alasan yang katanya ' Mendesak'.
Rania menghela nafas berulang kali, hingga suara notifikasi alarm menyadarkan. Saat di lihat, tenyata itu adalah suara notifikasi bahwa jam kerjanya telah berakhir lima belas menit yang lalu, padahal sebelumnya ia sangat antusias untuk pulang ke rumah bahkan tidak membiarkan satu menit pun, ia bahkan sering melihat jam di ponselnya untuk melihat kapan jam kerjanya selesai. Tapi sekarang, rasanya ia sangat ingin menambah waktu jam kerjanya, setidaknya dua atau tiga jam jika perlu, karena saat ini dirinya sungguh tak ingin pulang untuk sementara waktu.
" Tumben, kamu baru pulang? "
Rania terlonjak kaget ketika mendengar suara seorang pria yang ternyata pemilik suara adalah si pria pengemis. Spontan, Rania menghela nafas, ia bersyukur karena orang itu adalah si pria pengemis.
" Iya kebetulan saya dapat orderan ekstra, " jawabnya berbohong, " paman sendiri, kenapa tumben sekali, paman masih berkeliaran di luar seperti ini? " lanjutnya bertanya sambil mendorong sepeda listriknya.
Pria pengemis itu tersenyum tipis, ia berjalan menyamakan langkahnya dengan Rania yang tengah mendorong sepeda listriknya, ia berkata bahwa dirinya tak bisa tertidur karena suatu alasan, jadi dia memutuskan untuk mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya, " aku dengar, nenek mu meninggal, aku turut berduka cita untuknya, " ucapnya dengan tulus.
__ADS_1
" Terima kasih atas ucapan bela sungkawanya. "
" Apa dia di makamkan dengan baik? "
" Mmm. "
" Syukurlah kalau begitu, " ucapnya dengan nada lega.
Tiba-tiba langkah kaki Rania terhenti, sambil mengernyitkan dahinya, ia merasa pria pengemis ini seperti mengenal dan dekat dengan neneknya, kedua matanya menatap pria pengemis itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Kendati begitu, meski ucapannya terdengar jujur, tapi entah kenapa pria pengemis ini sedang menyembunyikan sesuatu.
" Apa sepeda listrik mu rusak? Jika mau, aku bisa memperbaikinya? " Tanya pria pengemis itu mengalihkan perhatian.
Rania menggelengkan kepalanya, sepedanya listriknya tidak rusak sama sekali, hanya saja ia sedang mengurangi berat badan jadi dia memutuskan untuk mendorong sepeda listriknya.
__ADS_1
Meski tahu bahwa Rania sedang berbohong padanya, tapi pria pengemis itu memutuskan untuk mempercayainya dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. " Apa kamu tidak takut pulang malam seperti ini? Bagaimana jika seseorang menculik atau mengikuti mu secara diam-diam? " Tanya pria itu kembali.
" Kenapa harus takut? Bukankah ada paman, Kuro dan juga Hedrian? Aku yakin kalian akan melindungi ku dari orang-orang yang ingin menyakiti ku. "
Langkah kaki pria pengemis itu seketika terhenti ketika mendengar kata-kata Rania yang mengikutsertakan dirinya, padahal jika di lihat dari penampilannya, dialah orang yang seharusnya di waspadai.
" Ada apa? " Tanya Rania saat menyadari bahwa pria pengemis itu tidak mengikuti langkah kakinya.
Pria pengemis itu menatap wajah Rania sejenak, lalu berkata untuk tidak mempercayai siapapun di dunia ini termasuk dirinya termasuk dua makhluk yang sedang menunggu kedatangannya, tak peduli seberapa baik sikap mereka saat ini, jangan pernah mempercayai kata-kata mereka sedikit pun, karena mungkin suatu saat nanti mereka akan menunjukkan taring mereka masing-masing. " Tapi, kamu jangan takut, selama aku masih hidup, aku akan melindungi dengan segenap jiwa ku. "
" Bukankah paman bilang. . .
" Kita sudah sampai, kalau begitu aku pamit, selamat malam. " Pria pengemis itu pun pergi begitu saja, meninggalkan Rania yang kebingungan.
Rania tak mengerti sama sekali dengan maksud perkataan pria pengemis itu, tapi entah kenapa, perkataannya itu terdengar serius dan juga tulus. Sebenarnya apa yang ingin dia katakan?
__ADS_1
Spontan, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di detik berikutnya, Rania memutuskan masuk ke dalam rumah, akan tetapi dahinya seketika mengernyit ketika dia tak menemukan Kuro maupun Hedrian, apa mereka marah lalu pergi?