
Esok paginya, Kuro tak pulang ke rumah, awalnya Rania mengira bahwa pria itu berada di rumah adiknya, karena sebelumnya pria itu pernah pergi ke sana tanpa memberitahukannya, tapi sayangnya pria itu tidak ada di sana.
Robert mengatakan bahwa semalam kakaknya tidak pergi ke rumahnya atau pun memberitahukan padanya kemana dia pergi dan parahnya lagi, dirinya tak tahu kemana kiranya kakaknya pergi, " santai saja, mungkin dia sedang pergi jalan-jalan, biarkan saja, aku yakin dia pasti akan kembali dalam waktu dekat, " ujarnya dengan nada santai seakan-akan menghilangnya sang kakak bukanlah suatu yang mengherankan.
Begitu pun dengan Laura yang menambahkan bahwa pria itu memang sering pergi dan kembali begitu saja.
Kendati begitu, Rania masih merasa tak tenang, ia merasa bahwa kepergian Kuro kali ini terasa berbeda dari sebelumnya, apalagi ekspresi wajah terakhir pria itu sangat menganggu pikirannya yang terlihat begitu sedih, marah dan juga kecewa.
Meski hatinya dan pikirannya sedang kacau, Rania mencoba untuk bersikap santai seperti yang di ucapkan oleh Robert.
Mungkin sebagian orang bisa dibodohi oleh sikapnya yang ceria, tapi tidak dengan Mikael yang langsung menyadari dengan sikap janggal dari Rania, ia pun meminta gadis itu untuk datang keruangan konsultasi.
Di detik pertama di dalam ruangan tersebut Rania masih berusaha menyembunyikan kegelisahannya dengan menceritakan film yang semalam ia tonton, hingga Mikael tiba-tiba bertanya tentang hubungannya dengan pria vampir itu, seketika gadis itu bungkam, raut wajahnya berubah, bahkan berusaha mengalihkan perhatiannya.
Mikael pun menghela nafas, " lalu kenapa kamu memakai syal di cuaca yang begitu panas ini? Apa kamu sakit? " sambil berusaha mengecek suhu tubuh Rania, tapi gadis itu malah menghindar dan mengatakan bahwa dirinya sedang mengikuti trend fashion.
Salah satu alis Mikael terangkat sebelah, di lihat dari mana pun, gadis di depannya ini jelas sedang berbohong. Jika benar dia memang sedang mengikuti trend fashion, lalu mengapa hanya dia seorang yang menggunakannya? Kendati begitu ia memilih menjadi orang bodoh dan mempercayai semua ucapan yang keluar dari mulut gadis itu.
Hingga pada akhirnya gadis itu menceritakan semuanya dengan sendirinya, kecuali luka yang sudah susah payah ia tutupi dengan menggunakan syal. Awalnya ia hanya ingin berbagi cerita saja, agar hubungan mereka semakin dekat, tapi siapa sangka pria itu tampak marah lalu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mikael pun menganggukkan kepalanya mengerti, dari cerita yang ia dengar, tampaknya vampir itu merasa telah gagal melindungi Rania malam itu, dan memutuskan pergi karena merasa marah dan kecewa pada dirinya, tapi ia tak mengungkapkannya pada Rania, karena menurutnya, masalah ini harus di selesaikan oleh mereka berdua.
__ADS_1
" Jadi kamu sungguh tak bisa menebak kemana dia pergi? "
Dengan cepat, Rania menggelengkan kepalanya, raut wajahnya terlihat frustasi, meski orang lain menyuruhnya untuk bersantai, tapi dirinya tak bisa sesantai itu, terlebih lagi ia merasa bahwa pria itu pergi karena ucapannya.
Mikael terdiam sejenak, menatap gadis di depannya dengan tatapan iba, di detik berikutnya ia pun memutuskan untuk membantu untuk mencari Kuro, tentunya dirinya juba berjanji tak akan pernah melukai atau pun membunuhnya.
Seketika raut wajah Rania berubah menjadi cerah, ia sangat berterima kasih pada Mikael dan berjanji akan membalas kebaikannya suatu hari nanti.
Seakan sebagian bebannya telah terangkat, Rania pun berjalan keluar ruangan dengan perasaan senang.
Setelah Rania pergi, Darian pun muncul entah dari mana kemudian bertanya, " kenapa kamu menerimanya? Bukankah tugas kita hanya menjaganya? Bukan membantunya menjadi santapan singa. "
" Bukankah dengan membantunya mencari kucing vampir itu juga termasuk dalam tugas, jika perasaannya tidak baik-baik saja, maka pimpinan pun pasti tidak akan senang, lagi pula dengan adanya kita berdua pasti akan mudah menemukan kucing vampir itu itu dengan mudah, jadi.. .
Tiga hari kemudian.
Jejak keberadaan Kuro masih belum di temukan sama di manapun, bahkan Robert yang menyadari bahwa kakaknya benar-benar telah hilang lagi, memutuskan bolos sekolah untuk mencari keberadaan sang kakak bersama dengan Laura sama halnya dengan Rania yang ikut membolos, Karena dirinya merasa tak tenang jika pria itu belum kembali.
Jam terus bergulir tapi Rania masih belum menemukan Kuro, hingga tiba-tiba dirinya tak sengaja melihat sosok pria pengemis yang pernah menyelamatkan Kuro. Ia kemudian memutuskan menghampiri pria itu dan menanyakan keberadaan Kuro.
Tapi, pria pengemis itu menggelengkan kepalanya dengan pelan, bahwasannya dirinya tak pernah bertemu dengan kucing itu lagi.
__ADS_1
Bahu Rania seketika merosot, sungguh dirinya tak tahu harus mencari kemana lagi, sebab sudah hampir satu kota versee ia telusuri tapi Kuro masih belum ketemu.
" Gadis kecil, apa kamu punya uang? Aku sangat ingin makan, " pinta pengemis itu tiba-tiba.
Secara spontan, Rania menoleh ke arah jam tangannya dan melihat bahwa saat ini sudah waktunya jam makan, jika diingat, dirinya pun belum memakan apapun sejak pagi karena tidak merasa nafsu sedikit pun. Mumpung ada teman makan, ia memutuskan untuk mengajak pria itu untuk makan siang bersama.
Keduanya kemudian bergegas menuju warteg yang berada tak jauh dari tempat mereka.
Setibanya di sana, pria itu memesan begitu banyak hidangan, bahkan hampir memenuhi seisi meja, tetapi Rania tampak tidak keberatan sama sekali dengan apa yang di lakukan pria pengemis di depannya, entah kenapa ia merasa senang untuk beberapa alasan tertentu.
Saat makanan tiba, pria pengemis itu langsung mengambil semua jenis makanan ke atas piring lalu memberikannya pada gadis didepannya.
Rania tertegun sejenak dengan sikap pria di depannya ini, ia kemudian bertanya, " kenapa memberikannya pada ku? Bukankah anda sedang lapar? "
Pria itu tersenyum, dirinya memang lapar tapi ia tak ingin membiarkan gadis di depannya ini mati kelaparan karena sibuk mencari seekor kucing hingga lupa makan.
Tubuh Rania tersentak mendengar penuturan pria itu yang terdengar seperti seorang ayah yang mengkhawatirkan putrinya, dengan senang hati, ia pun menerima piring itu lalu memakannya dengan lahap.
Setelah selesai makan, pria itu kembali bertanya pada Rania," Kenapa tidak melacaknya? "
Rania menggelengkan kepalanya dengan lemas, bagaimana dia bisa melacak seekor kucing tanpa adanya sinyal GPS yang melekat di tubuh kucing itu.
__ADS_1
Tanpa di duga, pria itu mengeluarkan sebuah benda pipih yang merupakan sebuah alat yang bisa melacak apapun dari balik sakunya dan mengatakan bahwa benda itu ia temukan di tumpukan sampah secara kebetulan, karena penasaran apakah benda itu masih bekerja atau tidak? Jadi dia memasang benda pelacak ke dalam kalung Kuro.